JBNews.id — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp10,6 triliun pada semester I 2026, naik 1,4% secara tahunan (year on year/YoY). Kinerja tersebut ditopang oleh pemulihan bisnis seluler yang mendorong pertumbuhan pendapatan layanan digital dan konsumsi data.
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, Telkom mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun, tumbuh 3,9% YoY. EBITDA juga meningkat 3,8% menjadi Rp37,5 triliun dengan margin 49,4%. Sementara itu, laba bersih yang dinormalisasi naik 6,2% menjadi Rp11,3 triliun.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan capaian tersebut mencerminkan hasil implementasi strategi transformasi TLKM 30 yang terus dijalankan perseroan. “Komitmen dan dedikasi kami dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tercermin dari pertumbuhan yang berhasil kami capai pada semester pertama tahun ini. Pencapaian tersebut semakin memperkuat optimisme kami untuk terus mempercepat transformasi sekaligus memperkuat peran Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia,” ujar Dian dikutip keterangan tertulis, Sabtu (1/8/2026).
Pemulihan Bisnis Seluler Jadi Motor Utama
Kontributor utama pertumbuhan berasal dari bisnis B2C melalui Telkomsel yang membukukan pendapatan Rp55,6 triliun, naik 3,3% YoY. Pendapatan bisnis digital data tumbuh 11% seiring pulihnya industri mobile. Pemulihan tersebut tercermin dari kenaikan Average Revenue Per User (ARPU) mobile sebesar 9% menjadi Rp45.600, didorong meningkatnya konsumsi data selama libur sekolah dan penyelenggaraan Piala Dunia.
Pemulihan sektor seluler ini sejalan dengan tren positif industri telekomunikasi nasional. Menariknya, para pemain industri juga mulai menjajaki peluang baru di luar layanan konvensional. Misalnya, Indosat melihat peluang dari registrasi biometrik sebagai sumber pendapatan tambahan di tengah dinamika industri yang terus berubah.
Baca Juga:
Penguatan Infrastruktur Digital
Di sisi lain, Telkom terus memperkuat bisnis infrastruktur digital. Pendapatan segmen B2B Infrastructure naik 19% menjadi Rp33,1 triliun, didukung pertumbuhan layanan data, internet, dan IT Service. Perseroan juga memperkuat bisnis data center melalui NeutraDC untuk menangkap tingginya permintaan infrastruktur digital seiring berkembangnya teknologi AI.
Sepanjang semester I 2026, Telkom merealisasikan belanja modal (capex) sebesar Rp10,8 triliun, dengan lebih dari 96% dialokasikan untuk pengembangan bisnis B2C, infrastruktur digital, dan bisnis internasional.
Investasi besar di infrastruktur digital ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan solusi teknologi di berbagai segmen. Di segmen usaha kecil dan menengah, misalnya, muncul kebutuhan akan layanan IT yang terjangkau dan mudah diakses. Hypernet meluncurkan Whooz, solusi IT berlangganan bulanan yang dirancang khusus untuk pebisnis SME, menunjukkan bahwa permintaan layanan digital terus tumbuh di semua lini.
Di tengah pertumbuhan ini, para pemimpin industri juga menyoroti pentingnya strategi yang tepat dalam adopsi teknologi. Nadella memperingatkan risiko ketergantungan pada AI pihak ketiga, sebuah pelajaran yang relevan bagi perusahaan yang sedang membangun kapabilitas digitalnya sendiri seperti Telkom.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan akan sangat ditentukan oleh kekuatan infrastruktur digital yang kita bangun hari ini. Oleh karena itu, Telkom sebagai bagian dari Danantara Indonesia akan terus mengakselerasi transformasi dan memperkuat investasi pada kapabilitas digital guna menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan, sekaligus menjadi katalis pertumbuhan lintas sektor dan memperkuat ketahanan ekonomi digital nasional,” tutup Dian.
Kinerja positif Telkom di semester I 2026 ini memberikan sinyal kuat bahwa industri telekomunikasi Indonesia sedang berada di jalur pemulihan. Dengan pertumbuhan pendapatan yang solid di semua lini bisnis, serta alokasi belanja modal yang agresif untuk pengembangan infrastruktur digital, Telkom tampaknya serius dalam menjalankan ambisinya menjadi pemimpin ekosistem digital Indonesia.
Bagi para pelaku industri dan investor, angka-angka ini menjadi indikator penting bahwa transformasi digital bukan sekadar wacana, melainkan telah membuahkan hasil yang terukur. Pertumbuhan ARPU mobile sebesar 9% menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin mau membayar untuk layanan data, sementara kenaikan pendapatan B2B Infrastructure sebesar 19% menandakan bahwa permintaan enterprise terhadap solusi digital juga menguat.
Dengan momentum yang ada, Telkom diperkirakan akan terus melanjutkan tren pertumbuhan ini hingga akhir tahun. Namun, persaingan di industri telekomunikasi yang semakin ketat, ditambah dengan tantangan regulasi dan kebutuhan investasi yang besar, akan menjadi ujian bagi kemampuan Telkom dalam mempertahankan kinerjanya.




