BRIN: Teknologi Olah Sampah Ada, Ekosistem Masih Kurang

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Hari ke-10 Pemadaman Kebakaran TPA Jatiwaringin, Asap Masih Mengepul
  • BRIN menyatakan teknologi pengolahan sampah seperti pengomposan, RDF, biogas, pirolisis, dan insinerasi sudah ada di Indonesia
  • Masalah utama bukan pada teknologi, melainkan pada sistem dan ekosistem yang mendukung penerapannya secara berkelanjutan
  • Banyak teknologi yang berhasil di laboratorium gagal saat diterapkan di masyarakat
  • Riset perlu bergeser dari pengembangan teknologi baru ke inovasi sistem dan ekosistem persampahan
  • Diperlukan keterlibatan ahli sosial, ekonomi, dan pembuat kebijakan, tidak hanya peneliti teknik
  • Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi contoh nyata lemahnya sistem pengelolaan sampah

JBNews.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa berbagai teknologi untuk mengolah sampah sebenarnya sudah tersedia di Indonesia. Namun, persoalan utama pengelolaan sampah saat ini bukan lagi terletak pada teknologinya, melainkan pada ekosistem yang membuat teknologi tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, mengungkapkan bahwa teknologi pengolahan sampah seperti pengomposan, refuse-derived fuel (RDF), biogas, pirolisis, hingga insinerasi sudah ada semua di Indonesia. “Sebenarnya teknologi pengolahan sampah itu sudah cukup lengkap. Teknologi pengomposan, RDF, biogas, pirolisis, sampai insinerasi itu sudah ada semua,” kata Wahyu dalam diskusi Media Lounge Discussion (MELODI) kantor BRIN, Gedung B.J. Habibie di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Meskipun teknologi tersebut sudah tersedia, Wahyu mengakui bahwa banyak teknologi yang terbukti berhasil di laboratorium atau proyek percontohan justru tidak berjalan optimal ketika diterapkan di masyarakat. “Yang menjadi masalah adalah ketika teknologi yang sudah terbukti berhasil itu diterapkan di masyarakat, banyak yang gagal,” ujarnya.

Menurut Wahyu, arah riset pengelolaan sampah di Indonesia perlu bergeser. Jika sebelumnya fokus penelitian banyak diarahkan pada pengembangan teknologi baru, kini yang lebih dibutuhkan adalah riset mengenai sistem dan ekosistem yang mampu mendukung penerapan teknologi tersebut. “Yang sangat dibutuhkan Indonesia saat ini adalah riset mengenai inovasi sistem dan ekosistem persampahan agar teknologi yang sudah ada benar-benar bisa berjalan secara berkelanjutan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa banyak penelitian selama ini hanya berfokus pada peningkatan efisiensi alat, misalnya menggunakan katalis baru pada teknologi pirolisis atau meningkatkan kinerja proses pengolahan. Padahal, menurutnya, tantangan terbesar justru muncul ketika teknologi tersebut harus dioperasikan secara nyata oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wahyu Purwanta

Wahyu menilai pengelolaan sampah tidak bisa hanya diselesaikan melalui pendekatan teknologi. Selain peneliti teknik, diperlukan keterlibatan ahli sosial, ekonomi, hingga pembuat kebijakan agar teknologi yang sudah tersedia dapat diterapkan secara berkelanjutan. “Yang harus diteliti sekarang bukan semata-mata teknologinya, tetapi bagaimana membangun ekosistem pengelolaan sampah yang mendukung penerapan teknologi itu,” ujarnya.

Menurut Wahyu, Indonesia sebenarnya telah memiliki beragam teknologi pengolahan sampah yang terus berkembang, baik yang dikembangkan BRIN maupun pelaku industri. Di antaranya teknologi pengomposan, RDF, biogas, pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar, gasifikasi, hingga insinerator. “Teknologinya sudah banyak. Sekarang bagaimana teknologi itu bisa benar-benar berjalan dan berkelanjutan di lapangan. Itu tantangan yang jauh lebih penting,” pungkasnya.

Pernyataan BRIN ini menjadi relevan di tengah peristiwa kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin yang belum kunjung padam hingga hari ke-10. Peristiwa tersebut menyoroti lemahnya sistem pengelolaan sampah di Indonesia, di mana teknologi yang ada belum mampu diimplementasikan secara maksimal. BRIN menekankan bahwa riset sistem dan ekosistem menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini.

Selain itu, BRIN juga terus mengembangkan riset di berbagai bidang, termasuk prediksi bencana dan teknologi antariksa. Hal ini menunjukkan komitmen BRIN dalam menjawab tantangan nasional melalui pendekatan riset yang komprehensif. Inovasi riset seperti ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Implikasi dari pernyataan BRIN ini sangat jelas: Indonesia tidak kekurangan teknologi pengolahan sampah, tetapi kekurangan ekosistem yang mendukung penerapannya. Pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk membangun sistem yang memungkinkan teknologi-teknologi tersebut berjalan secara berkelanjutan. Tanpa ekosistem yang kuat, investasi dalam teknologi pengolahan sampah akan sia-sia.

Bagi pembaca, pesan utama dari BRIN adalah bahwa solusi pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan mesin atau alat canggih. Diperlukan perubahan paradigma dalam perencanaan, pendanaan, operasional, dan partisipasi masyarakat agar teknologi yang ada dapat memberikan dampak nyata. Ini adalah tantangan yang jauh lebih besar dan lebih penting daripada sekadar mengembangkan teknologi baru.