BRIN: Kamera Termal dan Drone Kunci Cegah Kebakaran TPA

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Suasana hari ke-10 pemadaman kebakaran TPA Jatiwaringin dengan asap masih mengepul
  • BRIN mendorong penggunaan kamera termal dan drone untuk deteksi dini kebakaran TPA
  • Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi pelajaran penting tentang perlunya teknologi pemantauan
  • Parameter pemantauan meliputi suhu permukaan, anomali panas, konsentrasi gas, dan data cuaca
  • Teknologi bukan sekadar perangkat, tetapi harus sesuai karakteristik sampah dan kompetensi operator
  • Pencegahan jangka panjang harus dimulai dari pengurangan volume sampah campuran
  • Sistem peringatan dini berbasis data timbunan dan cuaca perlu segera diintegrasikan

JBNews.id — Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendorong penerapan teknologi deteksi dini. Menurut BRIN, risiko kebakaran dapat ditekan secara signifikan melalui pemasangan kamera termal dan drone, bukan hanya mengandalkan upaya pemadaman saat api sudah membesar.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains. Dalam diskusi di Media Lounge BRIN, Jakarta, Rabu (9/7/2026), ia menyatakan bahwa pencegahan harus dimulai dari pengelolaan TPA yang lebih terkontrol.

“Teknologi untuk mencegah kebakaran di fasilitas akhir juga perlu dikembangkan, antara lain pemantauan temperatur, kamera dan drone termal, sensor gas, pengelolaan gas landfill, serta sistem peringatan dini berbasis kombinasi data timbunan dan cuaca,” kata Wahyu.

Pernyataan ini muncul di tengah sorotan publik atas kebakaran di TPA Jatiwaringin yang telah berlangsung lebih dari sepuluh hari. Asap tebal yang masih mengepul hingga hari kesepuluh pemadaman menunjukkan betapa sulitnya mengendalikan api di area seluas puluhan hektare. Insiden ini menjadi pengingat bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih memiliki celah besar dalam aspek keselamatan dan teknologi.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Wahyu Purwanta

Parameter Pemantauan Berbasis Sains

Wahyu menjelaskan bahwa pendekatan berbasis sains dapat mendeteksi potensi kebakaran sebelum api meluas. Beberapa parameter yang dapat dipantau meliputi suhu permukaan dan bawah permukaan timbunan sampah, anomali panas, konsentrasi gas tertentu, jumlah hari tanpa hujan, kelembapan udara, hingga kecepatan dan arah angin.

“Ke depan, berbagai parameter tersebut dapat diintegrasikan menjadi sistem peringatan dini atau indeks risiko kebakaran TPA yang sesuai dengan karakteristik sampah dan iklim Indonesia,” ujarnya.

Secara ilmiah, kebakaran terjadi ketika tiga unsur bertemu: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas. Di TPA, bahan bakar tersedia melimpah dalam bentuk plastik, kertas, tekstil, kayu, karet, hingga sampah organik yang telah mengering. Gas landfill seperti metana juga dapat menjadi bahan bakar pada kondisi tertentu. Sementara oksigen masuk melalui permukaan, retakan, maupun rongga di dalam timbunan sampah.

Namun, sumber penyalaan awal sering kali sulit dipastikan. “Secara umum, pemicu dapat berasal dari api terbuka, puntung rokok, pembakaran di sekitar lokasi, benda atau abu panas, maupun sumber panas di dalam timbunan. Namun, untuk suatu kejadian tertentu, termasuk kebakaran TPA Jatiwaringin, penyebab spesifik sebaiknya tidak disimpulkan sebelum ada hasil investigasi yang memadai,” jelas Wahyu.

Teknologi Bukan Sekadar Perangkat

Wahyu menegaskan bahwa keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya bergantung pada pembelian peralatan. “Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa teknologi bukan sekadar membeli peralatan. Keberhasilan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah, kualitas operasi dan pemeliharaan, kompetensi operator, sistem pemantauan, serta kepastian pengelolaan produk dan residunya,” katanya.

Menurutnya, sampah organik sebaiknya diolah melalui pengomposan atau biodigester. Material yang masih memiliki nilai ekonomi perlu dipilah untuk didaur ulang. Sementara fraksi sampah yang mudah terbakar dapat dimanfaatkan menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau diolah menggunakan teknologi waste-to-energy yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan.

Penerapan teknologi seperti Apple dan Siri menunjukkan bagaimana inovasi dapat menjadi pelajaran berharga. Namun, dalam konteks pengelolaan sampah, teknologi harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Tidak ada satu teknologi yang cocok diterapkan di semua TPA.

Pencegahan Jangka Panjang

Wahyu menegaskan bahwa pencegahan kebakaran tidak cukup dilakukan di dalam kawasan TPA. Upaya jangka panjang harus dimulai dengan mengurangi volume sampah campuran yang berakhir di fasilitas tersebut.

“Dalam jangka panjang, arah kebijakan perlu memastikan semakin sedikit sampah campuran yang masuk ke fasilitas akhir. Pengurangan, pemilahan, daur ulang, pengolahan sampah organik, dan pemanfaatan fraksi yang masih memiliki nilai harus diperkuat sehingga fasilitas akhir lebih banyak menerima residu dan dioperasikan secara lebih terkontrol,” pungkasnya.

Implikasi dari pernyataan BRIN ini jelas: Indonesia membutuhkan transformasi fundamental dalam pengelolaan sampah. Tanpa investasi pada teknologi pemantauan dan sistem peringatan dini, risiko kebakaran seperti yang terjadi di TPA Jatiwaringin akan terus berulang. Bagi pemerintah daerah dan pengelola TPA, ini adalah sinyal untuk segera mengadopsi teknologi terkini guna mencegah bencana serupa di masa depan.

Kebakaran TPA Jatiwaringin telah menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan. Data dari lapangan menunjukkan bahwa upaya pemadaman yang mengandalkan metode konvensional saja tidak lagi memadai. Integrasi kamera termal, drone, sensor gas, dan sistem peringatan dini berbasis data cuaca menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar opsi.

Hari ke-10 Pemadaman Kebakaran TPA Jatiwaringin, Asap Masih Mengepul