Bill Gates Bangun Matahari Buatan untuk Pasok Energi Dunia

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi bumi, matahari, dan bintang sebagai representasi konsep matahari buatan
  • Perusahaan Type One Energy yang didukung Bill Gates mengajukan lisensi awal untuk pembangunan pembangkit listrik fusi kurungan magnetik
  • Reaktor bernama Infinity One menggunakan desain stellarator yang memanaskan plasma hingga 100 juta derajat Celcius
  • Lokasi pembangunan di bekas Pembangkit Listrik Tenaga Fosil Bull Run, Tennessee
  • Target operasional Infinity One pada tahun 2029
  • CEO Christofer Mowry menekankan kolaborasi dan transparansi dalam perizinan
  • Proyek ini bagian dari tren 'energi yang dimanfaatkan kembali' dengan memanfaatkan lokasi bekas industri fosil

JBNews.id — Pada 29 Januari 2026, perusahaan Type One Energy yang didukung Bill Gates mengajukan permohonan lisensi awal untuk pembangunan pembangkit listrik futuristik. Pembangkit ini merupakan inovasi dari fusi kurungan magnetik yang dijuluki ‘matahari buatan’ dan ditargetkan mampu menyediakan energi bersih dalam skala jaringan.

Reaktor yang dinamakan Infinity One ini menggunakan desain stellarator, yang menampung plasma seperti tokamak berbentuk donat. Berbeda dengan tokamak, stellarator menggunakan susunan kumparan magnetik yang rumit dan berbelit-belit untuk meningkatkan suhu plasma hingga mendekati 100 juta derajat Celcius. Para ahli percaya bahwa stellarator akan menghindari banyak masalah stabilitas yang mengganggu desain tokamak, meskipun konstruksinya bisa sangat rumit.

Type One Energy awalnya mengumumkan pemilihan Pembangkit Listrik Tenaga Fosil Bull Run sebagai lokasi reaktor uji coba mereka pada Februari 2024. Sekarang, pekerjaan sedang ditingkatkan untuk mewujudkan stellarator generasi berikutnya. Langkah ini merupakan bagian dari tren yang dikenal sebagai ‘energi yang dimanfaatkan kembali’, di mana lokasi bekas industri pembangkit fosil diubah menjadi pusat energi bersih masa depan.

Kolaborasi dan Target Operasional

CEO Type One Energy, Christofer Mowry, dalam sebuah pernyataan pers mengatakan bahwa perusahaannya telah bekerja sama erat sejak Februari 2024 dengan berbagai pihak, berbagi informasi desain dan pengetahuan yang relevan. Kolaborasi ini sangat penting untuk menetapkan kondisi perizinan yang tepat untuk pembangkit listrik fusi.

“Kolaborasi ini menjadikan Tennessee sebagai model internasional ‘keselamatan sejak tahap desain’ dan transparansi untuk perizinan mesin fusi,” imbuh Mowry. Menurut perusahaan, lokasi tersebut akan mencakup reaktor prototipe Infinity One, pusat pelatihan tenaga kerja, dan pembangkit listrik fusi Infinity Two 350 MWe di masa depan.

Tersebar dalam beberapa fase, fase pertama bertujuan untuk mengoperasikan dan menjalankan Infinity One pada tahun 2029. Gagasan tentang stellarator yang berfungsi dan menyediakan energi tingkat jaringan hanya dalam tiga tahun menimbulkan skeptisisme. Meski begitu, beberapa pendiri Type One memiliki kompetensi yang tak diragukan. Mereka pernah bekerja di Helically Symmetric Experiment (HSX) di Universitas Madison-Wisconsin atau Wendelstein 7-X Stellarator (stellarator terbesar di dunia) di Greifswald, Jerman.

Implikasi dan Masa Depan Energi Fusi

Pembangkit listrik tenaga fusi, jika berhasil diwujudkan, akan menjadi terobosan besar dalam penyediaan energi dunia. Tidak seperti fisi nuklir yang menghasilkan limbah radioaktif berbahaya, fusi nuklir menjanjikan energi bersih yang hampir tidak terbatas dengan bahan bakar yang melimpah. Proyek ini juga menunjukkan bahwa investor besar seperti Bill Gates terus mendorong inovasi di sektor energi terbarukan.

Pilihan lokasi bekas industri seperti Pembangkit Listrik Tenaga Fosil Bull Run juga merupakan contoh lain dari tren yang berkembang. Proyek lain yang didukung Gates, TerraPower berbasis fisi, saat ini juga sedang dibangun di dekat fasilitas batubara yang akan dinonaktifkan di Kemmerer, Wyoming, dengan konstruksi non-nuklir dimulai pada Juni 2024. Hal ini menunjukkan strategi Gates dalam memanfaatkan infrastruktur lama untuk transisi energi baru.

Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa transisi energi global semakin nyata. Negara-negara maju mulai mengalihkan investasi dari bahan bakar fosil ke teknologi fusi. Ini bisa menjadi peluang atau tantangan bagi Indonesia yang masih bergantung pada batubara. Di sisi lain, perkembangan teknologi seperti ini juga berpotensi mempengaruhi pasar energi global, termasuk harga dan pasokan energi di masa depan.

Sementara itu, industri teknologi global juga menghadapi tantangan biaya yang meningkat, terutama terkait pengembangan kecerdasan buatan. Biaya AI Membengkak telah memaksa banyak perusahaan untuk mulai menekan penggunaan teknologi tersebut. Namun, investasi di energi fusi justru menunjukkan optimisme jangka panjang terhadap keberlanjutan energi.

Di sisi lain, kesuksesan proyek ini juga bisa membuka peluang baru bagi perusahaan teknologi besar. Seperti IPO SpaceX Jadikan Elon Musk Triliuner, inovasi di sektor energi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi yang sangat besar. Jika Type One Energy berhasil mengoperasikan Infinity One pada tahun 2029, perusahaan ini bisa menjadi pemain kunci dalam revolusi energi global.

Kesimpulannya, proyek ‘matahari buatan’ Bill Gates ini bukan sekadar eksperimen ilmiah, melainkan langkah konkret menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Dengan target operasional yang ambisius, dunia akan menyaksikan apakah teknologi fusi kurungan magnetik bisa menjadi solusi nyata bagi krisis energi dan perubahan iklim.