Biaya Listrik Data Center AI Dibebankan ke Publik, Tagihan Membengkak

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi tagihan listrik membengkak akibat konsumsi daya data center AI
  • Lonjakan permintaan listrik data center AI diproyeksikan naikkan biaya utilitas hingga US$23 miliar pada 2028
  • Biaya dibebankan ke konsumen rumah tangga dan pemilik properti, bukan perusahaan teknologi
  • Pusat data manfaatkan celah sistem tarif "permintaan puncak" untuk dapatkan tarif lebih rendah
  • Praktik pergeseran beban beri keuntungan korporasi dengan subsidi yang tak dinikmati publik
  • Protes publik meluas dan New York jadi negara bagian pertama yang larang pembangunan data center AI besar

JBNews.id — Lonjakan permintaan listrik dari pusat data kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan mendorong kenaikan harga utilitas hingga lebih dari US$23 miliar pada tahun 2028, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen rumah tangga dan pemilik properti di Amerika Serikat.

Temuan ini berasal dari laporan Monitoring Analytics, pemantau independen untuk perusahaan transmisi listrik terbesar di AS, PJM. Angka fantastis tersebut, yang pertama kali diungkap oleh Fortune, merupakan konsekuensi langsung dari infrastruktur kelistrikan AS yang sudah tua dan rumit. Alih-alih dibebankan kepada perusahaan teknologi, biaya ini justru ditanggung oleh masyarakat biasa.

Baik itu pusat data, pabrik, atau fasilitas besar lainnya, regulator lokal dan perusahaan transmisi seperti PJM kesulitan menentukan pihak yang bertanggung jawab atas peningkatan permintaan energi. Sebuah jalur listrik kecil dari kampus pusat data ke gardu induk terdekat memang mudah ditagihkan ke pusat data tersebut. Namun, menentukan siapa yang harus membayar untuk infrastruktur bersama, seperti gardu induk itu sendiri atau jalur transmisi jarak jauh yang menghubungkannya, menjadi jauh lebih rumit.

Meskipun perusahaan utilitas dapat dan memang membebankan biaya listrik yang digunakan pusat data, Fortune mencatat bahwa fasilitas yang mendukung boom AI ini dapat “menyetel halus” penggunaan listrik mereka dari menit ke menit. Kemampuan ini memberi mereka keunggulan yang tidak dimiliki konsumen rata-rata.

Banyak perusahaan utilitas yang membebankan biaya berdasarkan sistem “permintaan puncak” — yaitu ukuran penggunaan energi pelanggan pada saat yang tepat ketika jaringan listrik secara kolektif mencapai puncak permintaan. Pusat data telah terbiasa untuk mengurangi skala penggunaan listrik tepat pada saat jaringan mengukur permintaan tertinggi. Hal ini bukan karena mereka benar-benar berusaha menggunakan lebih sedikit daya, tetapi karena jendela sempit itulah yang menentukan seberapa tinggi tagihan mereka. Pada kenyataannya, total penggunaan listrik mereka tetap sama.

Praktik ini kurang lebih sama dengan skenario yang terjadi di operasi penambangan Bitcoin di Texas. Perusahaan Riot Platforms setuju untuk mengurangi penggunaan listriknya pada hari-hari musim panas yang terik, hanya untuk meningkatkan kembali penggunaan secara besar-besaran di malam hari. Sebagai imbalannya, perusahaan tersebut menegosiasikan tarif listrik datar yang lebih rendah secara keseluruhan, dan bahkan mendapatkan subsidi negara yang dimaksudkan untuk mendorong penggunaan energi yang bertanggung jawab.

Pergeseran beban (load-shifting) seperti ini sebenarnya dapat membantu jaringan listrik. Namun, praktik ini juga berarti bahwa perusahaan dengan kemampuan untuk “mempermainkan” sistem akan mendapatkan imbalan berupa subsidi yang tidak akan pernah didapatkan oleh rumah tangga biasa. Karena perusahaan hanya mengubah kapan mereka menggunakan listrik, bukan seberapa banyak yang mereka gunakan, subsidi untuk pergeseran beban pada akhirnya menjadi strategi yang buruk untuk mengurangi penggunaan listrik secara keseluruhan.

Praktik manipulasi pasar energi AS oleh perusahaan-perusahaan yang mencari keuntungan ini sebenarnya sudah berlangsung selama puluhan tahun. Meskipun pusat data AI hanyalah contoh paling kontemporer, sejarah panjang ini setidaknya dapat menjadi petunjuk bagi warga yang berjuang untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan pusat data saat ini.

Fenomena kenaikan biaya listrik ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya protes publik terhadap pembangunan pusat data. Di berbagai wilayah, warga dan regulator lokal mulai menolak proyek-proyek baru karena dianggap hanya memberikan sedikit manfaat ekonomi namun menimbulkan dampak lingkungan dan finansial yang besar. Protes Data Center yang meluas bahkan telah menghambat 75 proyek senilai Rp2.100 triliun.

Kritik juga muncul terkait janji lapangan kerja yang tidak sebanding dengan investasi raksasa. Sebuah laporan mengungkapkan bahwa investasi pusat data senilai Rp21 triliun hanya menghasilkan 61 pekerjaan, sebuah angka yang sangat kecil dibandingkan dengan dampaknya terhadap infrastruktur dan biaya hidup masyarakat. Untuk itu, penting untuk menyimak lebih lanjut soal Janji Palsu Data Center tersebut.

Di sisi lain, beberapa negara bagian mulai mengambil tindakan tegas. New York baru-baru ini menjadi negara bagian pertama yang melarang pembangunan pusat data AI berskala besar selama setahun penuh. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan beban pada jaringan listrik dan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Langkah ini menjadi preseden yang mungkin akan diikuti oleh negara bagian lain, terutama dengan adanya Larangan Data Center tersebut.

Dampak dari praktik pergeseran beban ini sangat signifikan bagi konsumen. Tagihan listrik rumah tangga diprediksi akan terus meningkat karena biaya infrastruktur yang dibutuhkan untuk melayani pusat data dibebankan secara merata melalui tarif dasar. Sementara itu, perusahaan teknologi besar mendapatkan keuntungan dari tarif yang lebih rendah dan subsidi yang tidak tersedia bagi publik.

Implikasinya, masyarakat harus lebih kritis terhadap pembangunan pusat data di wilayah mereka. Regulasi yang lebih ketat dan transparansi dalam penetapan tarif listrik menjadi kebutuhan mendesak agar beban biaya tidak terus-menerus jatuh ke pundak konsumen rumah tangga yang tidak memiliki daya tawar setara dengan korporasi raksasa.