JBNews.id — Industri kecerdasan buatan (AI) global menghadapi paradoks serius: biaya operasional model bahasa besar (LLM) melonjak secara eksponensial, sementara nilai ekonominya justru menyusut. Fenomena diminishing returns ini mengancam keberlanjutan investasi miliaran dolar yang telah digelontorkan ke pusat data di seluruh dunia.
Menurut laporan The Atlantic yang dikutip dalam analisis terbaru, biaya inferensi — proses penggunaan model AI terlatih untuk memproses data baru — meningkat drastis. Kondisi ini menjadi kebalikan dari ekspektasi investor yang menginginkan penurunan biaya per pengguna seiring skala operasi yang membesar.
“Ini efektif merupakan kebalikan dari apa yang secara konvensional ingin dilihat investor,” tulis The Atlantic. Dalam pasar normal, biaya per unit seharusnya turun seiring produksi massal. Namun pada LLM, aturan itu justru terbalik.
Fenomena ini menjadi pukulan telak bagi perusahaan AI yang telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membangun infrastruktur komputasi raksasa. Tanpa jalur profitabilitas yang jelas dalam waktu dekat, risiko gelembung AI semakin nyata.
Investasi Raksasa Tanpa Kepastian Profit
Perusahaan-perusahaan AI terus membangun pusat data raksasa di berbagai lokasi di Amerika Serikat. Biaya pembangunannya mencapai miliaran dolar per fasilitas, dengan konsumsi listrik setara kota kecil.
Analis memperingatkan bahwa kekhawatiran akan gelembung AI bukan lagi soal kapan akan pecah, melainkan sudah menjadi keniscayaan. Dampaknya bisa sangat merusak jika industri runtuh, mengingat banyak ekonomi global telah terlalu bergantung pada teknologi AI.
Meski demikian, perusahaan AI tetap teguh pada keyakinan bahwa chatbot seperti ChatGPT dari OpenAI dan Claude dari Anthropic adalah masa depan. Teknologi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, mulai dari integrasi sistem operasi hingga menggantikan manusia dalam layanan pelanggan.
Namun, keyakinan ini berhadapan dengan kenyataan pahit: semakin besar model AI, semakin mahal biaya operasionalnya. Pola ini bertolak belakang dengan hukum Moore yang selama puluhan tahun menjadi pegangan industri semikonduktor, di mana transistor yang lebih kecil dan lebih banyak justru meningkatkan efisiensi.
Ancaman Akhir Hukum Moore
Para ahli memperingatkan bahwa hukum Moore — prinsip bahwa jumlah transistor dalam chip akan berlipat ganda setiap dua tahun — mendekati batas fisiknya. Revolusi perangkat keras yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan AI yang terus meningkat menjadi semakin sulit dicapai.
Ini berarti, di saat model AI raksasa menjadi semakin tidak terjangkau bagi mereka yang telah bergantung padanya, efisiensi justru menurun. Trajektori yang mengkhawatirkan ini bisa mendorong seluruh ekonomi semakin dekat ke jurang kehancuran.
Yann LeCun, salah satu tokoh yang dijuluki “godfathers of AI”, telah lama memperingatkan bahwa LLM adalah “jalan buntu”. Menurut LeCun, pendekatan ini tidak akan membawa pada titik di mana kecerdasan AI menyamai atau melampaui kecerdasan manusia.
Peringatan LeCun telah disampaikan berulang kali, namun kecil kemungkinan para pemimpin teknologi yang telah berinvestasi besar-besaran dalam model AI saat ini akan mengindahkannya. Mereka terjebak dalam investasi yang sudah dikeluarkan (sunk cost) dan terus melanjutkan proyek yang mungkin tidak akan pernah menghasilkan keuntungan.
Dampak Ekonomi yang Meluas
Jika gelembung AI benar-benar pecah, dampaknya tidak akan terbatas pada perusahaan teknologi. Banyak sektor ekonomi yang telah mengintegrasikan AI dalam operasi mereka akan terkena imbasnya.
Perusahaan layanan pelanggan yang telah mengganti tenaga manusia dengan chatbot mungkin harus mencari solusi alternatif. Sistem operasi yang mengandalkan AI untuk fitur-fitur canggihnya mungkin perlu dievaluasi ulang. Investor institusional yang menanamkan modal besar di saham-saham AI akan menghadapi kerugian signifikan.
Data menunjukkan bahwa biaya inferensi untuk LLM skala besar telah meningkat secara eksponensial dalam enam bulan terakhir. Ini berarti, setiap kali pengguna mengajukan pertanyaan atau meminta chatbot menghasilkan teks, biaya yang dikeluarkan perusahaan AI jauh lebih besar dibandingkan enam bulan lalu.
Dalam model bisnis tradisional, semakin banyak pengguna, semakin murah biaya per pengguna. Namun dalam kasus AI, semakin banyak pengguna, semakin besar beban komputasi yang harus ditanggung, dan biaya per pengguna justru meningkat.
Ketidakseimbangan ini menjadi ancaman serius bagi model bisnis perusahaan AI yang mengandalkan langganan pengguna. Jika biaya operasional terus naik sementara pendapatan tidak mampu mengimbangi, keuntungan akan semakin sulit dicapai.
Reaksi Pasar dan Spekulasi
Kekhawatiran akan gelembung AI mulai terlihat di pasar modal. Beberapa saham perusahaan AI dan penyedia infrastruktur komputasi mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Analis keuangan memperingatkan bahwa valuasi perusahaan AI saat ini tidak sebanding dengan fundamental bisnisnya. Banyak perusahaan AI masih merugi dan mengandalkan suntikan dana dari investor ventura untuk bertahan.
Jika kepercayaan investor mulai goyah, pendanaan bisa mengering, dan perusahaan-perusahaan AI yang belum mencapai profitabilitas akan kesulitan bertahan. Efek domino bisa meluas ke industri terkait seperti penyedia chip, pusat data, dan konsultan AI.
Meskipun demikian, beberapa pihak masih optimis bahwa inovasi teknologi akan mampu mengatasi masalah efisiensi ini. Mereka berargumen bahwa AI adalah teknologi disruptif yang membutuhkan waktu untuk mencapai kematangan bisnis.
Namun, data empiris menunjukkan bahwa tren saat ini tidak mendukung optimisme tersebut. Biaya yang terus naik tanpa diimbangi efisiensi adalah tanda bahaya yang tidak bisa diabaikan.
Masa Depan AI di Persimpangan Jalan
Industri AI saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada tekanan untuk terus meningkatkan skala model agar lebih canggih. Di sisi lain, biaya yang membengkak membuat model bisnis tidak berkelanjutan.
Peringatan dari tokoh seperti Yann LeCun menunjukkan bahwa mungkin sudah waktunya untuk mencari pendekatan alternatif. Namun, perubahan arah tidak akan mudah mengingat besarnya investasi yang sudah ditanamkan pada model LLM saat ini.
Para pemimpin perusahaan AI harus mengambil keputusan sulit: terus melanjutkan investasi pada model yang mungkin tidak akan pernah menguntungkan, atau mengakui kegagalan dan beralih ke pendekatan baru.
Keputusan ini tidak hanya akan menentukan nasib perusahaan mereka, tetapi juga berdampak pada ekonomi global yang telah terlalu bergantung pada teknologi AI.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga. Ketergantungan pada teknologi asing yang model bisnisnya belum terbukti berkelanjutan bisa menjadi risiko strategis. Pemerintah dan pelaku bisnis perlu mempertimbangkan diversifikasi teknologi dan pengembangan solusi AI yang lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan lokal.
Dalam jangka pendek, pengguna AI di Indonesia mungkin belum merasakan dampak langsung. Namun, jika tren ini berlanjut, biaya langganan layanan AI bisa meningkat, atau kualitas layanan bisa menurun karena perusahaan AI berusaha menekan biaya operasional.
Data dari laporan The Atlantic menunjukkan bahwa biaya inferensi untuk LLM telah meningkat secara eksponensial dalam enam bulan terakhir. Ini berarti, setiap kali pengguna mengajukan pertanyaan atau meminta chatbot menghasilkan teks, biaya yang dikeluarkan perusahaan AI jauh lebih besar dibandingkan enam bulan lalu.
Dalam model bisnis tradisional, semakin banyak pengguna, semakin murah biaya per pengguna. Namun dalam kasus AI, semakin banyak pengguna, semakin besar beban komputasi yang harus ditanggung, dan biaya per pengguna justru meningkat.
Ketidakseimbangan ini menjadi ancaman serius bagi model bisnis perusahaan AI yang mengandalkan langganan pengguna. Jika biaya operasional terus naik sementara pendapatan tidak mampu mengimbangi, keuntungan akan semakin sulit dicapai.
Kesimpulan: Tanda Bahaya yang Tak Bisa Diabaikan
Industri AI menghadapi krisis efisiensi yang serius. Biaya operasional yang membengkak, diminishing returns pada model LLM, dan ancaman akhir hukum Moore menciptakan badai sempurna yang bisa mengguncang fondasi ekonomi global.
Analis memperingatkan bahwa gelembung AI akan pecah. Pertanyaannya bukan lagi “apakah”, melainkan “kapan”. Dan ketika itu terjadi, dampaknya akan terasa di seluruh sektor ekonomi yang telah terlalu bergantung pada teknologi ini.
Bagi investor dan pelaku bisnis, ini saatnya untuk mengevaluasi kembali eksposur terhadap sektor AI. Diversifikasi dan kewaspadaan menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian yang membayangi industri ini.
Seperti yang diperingatkan oleh para ahli, jalan menuju kecerdasan buatan umum (AGI) mungkin tidak melalui LLM. Dan semakin lama industri ini bertahan pada pendekatan yang salah, semakin besar risiko yang harus ditanggung.

Ilustrasi di atas menggambarkan betapa rapuhnya fondasi industri AI saat ini. Seperti rumah kartu, investasi miliaran dolar bisa runtuh dalam sekejap jika satu elemen kunci goyah.




