Bentley Torcal: SUV Listrik Mewah Hadapi Pasar Premium yang Lesu

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Bentley Torcal SUV listrik mewah tampak depan dengan gril kristal bercahaya dan garis atap menurun khas EV
  • Bentley resmi meluncurkan Torcal, SUV listrik mewah pertamanya
  • Nama Torcal terinspirasi dari El Torcal de Antequera, Spanyol, dan akar Latin 'torquere' (memutar)
  • Peluncuran terjadi di tengah penurunan tajam permintaan EV mewah global
  • Lamborghini, Ferrari, Mercedes, Audi, Porsche, dan Rolls Royce semua mengalami kesulitan di segmen ini
  • Torcal memiliki kemiripan dengan Bentayga tetapi lebih kecil, dengan gril kristal bercahaya dan atap menurun
  • Bentley mempertahankan tombol fisik untuk fungsi penting dipadukan layar OLED
  • CEO Walliser menyebut Torcal sebagai "mobil yang paling dipertimbangkan" dalam sejarah Bentley
  • Bentley menunda target full-EV dari 2030 ke 2035, akan terus jual hybrid dan bensin
  • Harapan datang dari pasar Asia, terutama China yang menyambut baik Ferrari Luce
  • Perusahaan telah memangkas 275 posisi manajemen untuk mendanai transisi elektrifikasi

JBNews.id — Bentley resmi memperkenalkan Torcal, SUV listrik mewah pertamanya yang akan meluncur di tengah penurunan tajam permintaan kendaraan listrik premium global. Nama Torcal diambil dari El Torcal de Antequera, Spanyol, dan memiliki akar bahasa Latin torquere yang berarti memutar—asosiasi langsung dengan torsi.

Keputusan Bentley meluncurkan Torcal terjadi di saat yang sulit. Lamborghini telah menghentikan proyek Lanzador electric GT tahun ini setelah CEO Stephan Winkelmann menyatakan permintaan di kalangan pembeli “hampir nol, jika tidak nol.” Ferrari kehilangan miliaran dolar dari nilai pasar dalam hitungan jam setelah meluncurkan EV pertamanya, Luce, di Roma, dan kini menunda model listrik keduanya hingga 2028.

Di segmen yang sama, Mercedes-Benz hanya menjual 1.450 unit G Wagen listrik di Eropa hingga April 2025, dibandingkan 9.700 unit versi bensin. Audi menghentikan Q8 E-tron setelah menutup pabrik Brussels dengan alasan “penurunan global pesanan pelanggan di segmen kemewahan listrik.” Porsche, saudara satu grup Volkswagen, mencatat penurunan laba operasi 93 persen menjadi €413 juta akibat write-down €3,9 miliar terkait pembalikan strategi EV.

Rolls Royce Spectre juga tidak luput—penjualan turun 44 persen. Ini adalah kondisi pasar yang sangat berat bagi Bentley untuk meluncurkan SUV listrik barunya.

Desain dan Fitur Torcal

Torcal memiliki kemiripan dengan Bentayga, tetapi dengan ukuran sedikit lebih kecil. Ciri khas Bentley seperti kap panjang dan bagian depan tegak tetap dipertahankan. Namun, garis atap belakang menurun—desain umum kendaraan listrik untuk mengurangi hambatan dan meningkatkan jangkauan.

Fitur paling mencolok ada di bagian depan: gril baru berupa dinding kristal bercahaya solid, menggantikan ventilasi radiator tradisional. Desain ini terinspirasi dari Continental T dan merupakan langkah berani yang jauh dari tren quiet luxury. Lampu belakang juga berubah dari bentuk oval khas Bentayga menjadi garis bersih.

Di dalam kabin, Bentley mempertahankan tombol fisik untuk fungsi penting yang dipadukan dengan layar OLED. Layar tengah melengkung ke bawah mirip Porsche Cayenne baru. Menariknya, Bentley tidak menawarkan layar terpisah untuk penumpang depan—dan dipastikan tidak akan ada opsi tersebut.

Pintu bertenaga listrik di semua sisi memudahkan akses, sementara atap kaca yang dapat dialihkan menjadi buram atau transparan menambah kenyamanan.

Strategi di Tengah Badai EV Mewah

CEO Bentley Frank-Steffen Walliser menyebut Torcal sebagai “mobil yang paling dipertimbangkan” dalam sejarah Bentley. Pernyataan ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi perusahaan. Meski Bentley mencatat profitabilitas tahun ketujuh berturut-turut pada Maret—€216 juta laba operasi dari €2,6 miliar pendapatan—angka ini turun 42 persen dibanding tahun sebelumnya.

Bentley mendanai sendiri konversi gedung bersejarah A1 di Crewe, Inggris, menjadi jalur perakitan baterai listrik, serta pusat desain dan cat baru. Namun, perusahaan juga telah memangkas 275 posisi manajemen dan non-manufaktur untuk mendanai transisi tersebut. Permintaan dari China juga terus menurun.

Walliser sendiri telah menunda target penuh listrik Bentley dari 2030 menjadi 2035 melalui strategi Beyond100 Plus. Perusahaan akan terus menjual model plug-in hybrid dan bensin bersamaan dengan Torcal. Model listrik kedua Bentley diperkirakan tidak akan hadir sebelum 2030.

“Pencari teknologi yang menganggap diri mereka pembentuk opini, mereka ingin mobil yang terlihat berbeda, mereka ingin menunjukkan ‘Saya maju, saya pakai teknologi terbaru.’ Itulah mengapa mobil harus terlihat berbeda,” kata Walliser. “Sekarang orang tidak menginginkan itu. Mereka hanya ingin mobil, dan inilah mengapa waktu kami mungkin tepat. Menggunakan seluruh DNA kami, berhati-hati, menghadirkan mobil yang terasa autentik—jangan mencoba bermain-main lagi.”

Ia menambahkan, “Ini adalah evolusi merek, dan saya pikir ini adalah hal yang benar untuk dilakukan Bentley—jangan mencari revolusi. Kami melihat sedikit lebih banyak di tepian.”

Harapan dari Pasar Asia

Meski pasar EV mewah Barat lesu, ada secercah harapan dari Asia. Ferrari Luce yang kontroversial di Barat justru mendapat sambutan hangat di China. Seluruh alokasi tahun pertama sebanyak 88 unit Ferrari Luce dengan harga $586.600 dikabarkan habis terjual hampir seketika. Bentley dan Walliser tentu berharap Torcal mendapat sambutan serupa.

Bagi Bentley, Torcal bukan sekadar kendaraan listrik—ini adalah ujian apakah merek legendaris Inggris bisa bertahan dan bersaing di era elektrifikasi tanpa kehilangan identitas. Dengan pendekatan evolusioner, bukan revolusioner, Bentley berharap Torcal bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Namun, dengan kondisi pasar yang ada, jalan menuju kesuksesan masih panjang dan penuh ketidakpastian. Seperti halnya tren industri lain seperti biaya AI membengkak yang mempengaruhi banyak sektor, tantangan elektrifikasi juga membutuhkan strategi yang hati-hati dan terukur.

Di tengah gejolak ini, Bentley tetap optimis. Walliser yakin bahwa pendekatan hati-hati dan fokus pada DNA merek akan membedakan Torcal dari pesaingnya. Namun, sejarah menunjukkan bahwa bahkan merek sekelas Mercedes dan Porsche pun kesulitan di pasar EV mewah. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah strategi Bentley tepat.

Implikasi bagi konsumen: jika Torcal berhasil, ini bisa menjadi tolok ukur baru SUV listrik mewah. Jika gagal, Bentley mungkin harus memikirkan ulang strategi elektrifikasinya secara fundamental. Bagi pembeli potensial, menunggu data penjualan enam bulan pertama mungkin menjadi langkah bijak sebelum berkomitmen pada SUV listrik senilai miliaran rupiah ini. Sementara itu, pasar properti juga menunjukkan tren menarik dengan Fenomena Upwelling 2026 yang mulai terpantau.

Bentley Torcal adalah bukti bahwa industri otomotif mewah tidak tinggal diam menghadapi elektrifikasi. Namun, kesuksesannya akan sangat bergantung pada apakah konsumen bersedia membayar mahal untuk mobil listrik di saat pasar sedang tidak bersahabat. Sama seperti Spacex saham IPO anjlok yang menghapus keuntungan awal, pasar EV mewah juga menunjukkan volatilitas tinggi yang harus diantisipasi.