Bakti Komdigi Siapkan Internet Satelit untuk Sekolah Rakyat dan Koperasi Desa

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi infrastruktur satelit Bakti Komdigi untuk konektivitas digital di daerah 3T
  • Bakti Komdigi siapkan Satria 1 untuk dukung internet di Sekolah Rakyat dan Koperasi Desa Merah Putih
  • Jangkauan Satria 1 mencapai 31.803 lokasi per 5 Juni 2026
  • Rincian: 21.718 titik pendidikan, 6.353 kantor pemerintah, 1.880 kesehatan, 528 hankam, 488 pusat kegiatan, 437 ibadah, 399 lainnya
  • Target Koperasi Desa Merah Putih: 20.000-30.000 unit beroperasi pada Agustus 2026
  • Sekolah Rakyat telah hadir di 266 titik dengan 14.913 siswa
  • Fokus utama: daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar)

JBNews.id — Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyatakan kesiapan infrastruktur satelitnya, termasuk Satelit Republik Indonesia 1 (Satria 1), untuk mendukung konektivitas digital program prioritas nasional seperti Sekolah Rakyat dan Koperasi Desa Merah Putih, khususnya di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Langkah ini menjadi fondasi penting dalam mempercepat transformasi digital di daerah yang selama ini minim akses internet.

Direktur Utama Bakti Komdigi, Fadhillah Mathar, menegaskan bahwa pihaknya telah mengelola berbagai infrastruktur telekomunikasi untuk menjangkau area terpencil. “Infrastruktur SATRIA 1 yang saat ini telah menjangkau lebih dari 31 ribu titik layanan memberikan fondasi yang kuat untuk mendukung pengembangan Sekolah Rakyat, digitalisasi layanan pendidikan, serta penguatan ekosistem ekonomi desa termasuk Koperasi Desa Merah Putih, terutama di wilayah yang belum tersedia akses internet yang memadai,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Antara, Senin (22/6/2026).

Berdasarkan data jangkauan Satria 1 terbaru hingga 5 Juni 2026, Bakti mencatat sebanyak 31.803 lokasi telah terhubung dengan konektivitas digital satelit tersebut. Rincian titik layanan meliputi 21.718 lokasi fasilitas pendidikan, 6.353 lokasi kantor pemerintahan, 1.880 lokasi layanan kesehatan, 528 lokasi fasilitas pertahanan dan keamanan, 488 lokasi pusat kegiatan masyarakat, 437 lokasi tempat ibadah, serta 399 titik lainnya untuk sektor pariwisata, pelayanan usaha, dan transportasi publik.

Dengan jangkauan yang luas di daerah 3T, Bakti optimistis dapat mendukung hadirnya konektivitas digital bagi program-program prioritas pemerintah. Untuk wilayah yang sudah memiliki infrastruktur dari penyelenggara telekomunikasi, pengawasan dan penyediaan konektivitas digital secara khusus ditangani oleh Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kemkomdigi.

Program Koperasi Desa Merah Putih merupakan inisiatif yang ditargetkan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun ekonomi dari desa. Pemerintah menargetkan pada Agustus 2026 dapat mengoperasikan sekitar 20.000 hingga 30.000 Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia. Sementara itu, program Sekolah Rakyat menyediakan pendidikan gratis bagi anak-anak dari kelompok ekonomi terendah untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Hingga Juni 2026, program ini telah diselenggarakan di 266 titik secara nasional dengan jumlah peserta didik mencapai 14.913 siswa.

Baca Juga:

Kehadiran Satria 1 menjadi tulang punggung konektivitas di wilayah yang belum tersentuh jaringan telekomunikasi komersial. Dengan kapasitas yang telah menjangkau puluhan ribu titik, satelit ini diharapkan mampu mempercepat digitalisasi layanan publik, termasuk pendidikan dan ekonomi desa. Bakti juga terus berupaya memperluas jangkauan agar semakin banyak daerah terpencil yang mendapatkan akses internet yang memadai.

Langkah ini sejalan dengan misi pemerintah untuk mengurangi kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Dukungan infrastruktur satelit menjadi solusi efektif untuk mengatasi tantangan geografis di Indonesia yang berupa kepulauan. Dengan konektivitas yang stabil, program Sekolah Rakyat dapat mengadopsi metode pembelajaran digital, sementara Koperasi Desa Merah Putih dapat mengelola sistem keuangan dan pemasaran secara online.

Bagi masyarakat di daerah 3T, akses internet bukan lagi sekadar kebutuhan komunikasi, melainkan juga pintu masuk ke layanan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang lebih baik. Internet BAKTI kini menjadi andalan bagi warga perbatasan dengan trafik yang mencapai 100 Mbps, membuktikan bahwa infrastruktur satelit mampu memberikan layanan yang kompetitif.

Bakti Komdigi juga menegaskan bahwa kehadiran satelit ini bukanlah pesaing bagi penyedia layanan internet komersial seperti Starlink, melainkan pelengkap untuk menjangkau area yang tidak ekonomis bagi operator swasta. Kolaborasi antara pemerintah dan swasta menjadi kunci dalam mewujudkan konektivitas nasional yang merata.

Dengan target operasional Koperasi Desa Merah Putih yang ambisius pada Agustus 2026, kesiapan infrastruktur digital menjadi faktor krusial. Bakti percepat konektivitas digital di wilayah perbatasan dan daerah 3T untuk memastikan program-program prioritas berjalan lancar. Keberhasilan inisiatif ini akan menjadi tolok ukur bagi pemerataan pembangunan digital di Indonesia.

Implikasinya bagi pembaca: akses internet satelit dari Bakti Komdigi bukan hanya soal teknologi, melainkan juga tentang pemerataan kesempatan. Bagi pelajar di daerah terpencil, internet membuka akses ke materi pembelajaran yang setara dengan di kota. Bagi pelaku usaha desa, konektivitas memungkinkan mereka memasarkan produk secara digital. Inilah arti nyata dari transformasi digital yang inklusif.