JBNews.id — Astronom berhasil mendeteksi molekul gula bernama erythrulose di sebuah awan gas raksasa dekat pusat Galaksi Bima Sakti. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy ini menjadi bukti pertama keberadaan gula, salah satu bahan kunci kehidupan, di ruang antarbintang.
Penemuan Pertama di Ruang Antarbintang
Para peneliti menggunakan dua teleskop radio di Spanyol untuk mengamati awan molekuler di dekat pusat Bima Sakti. Mereka menemukan erythrulose dalam jumlah signifikan, gula yang sama yang ditemukan dalam raspberry, kiwi, dan buah-buahan lainnya. Penemuan ini menantang asumsi sebelumnya tentang bagaimana gula terbentuk di alam semesta.
Studi ini mengungkap bahwa awan molekuler, yang merupakan daerah padat berisi gas dan debu, berfungsi sebagai “pabrik kimia” yang menggabungkan atom-atom berbeda untuk membentuk zat yang lebih kompleks. Lebih dari 340 molekul telah terdeteksi di medium antarbintang sejauh ini.
Metode Deteksi Laser yang Revolusioner
Keberhasilan deteksi ini tidak lepas dari teknik baru yang dikembangkan oleh tim peneliti lain. Mereka berhasil menciptakan kembali sinyal cahaya gula di luar angkasa dengan menguapkannya menggunakan laser, seperti yang dilaporkan oleh Scientific American. Teknik ini memungkinkan para astronom untuk memfokuskan pencarian mereka dengan presisi tinggi, berbeda dengan metode pencarian sebelumnya yang kesulitan memilah kebisingan dari wilayah yang sangat padat.
Yang mengejutkan, awan tersebut kaya akan erythrulose yang terdiri dari empat atom karbon, namun hampir tidak ada jejak gula yang terbuat dari tiga atom karbon. Temuan ini mematahkan kepercayaan umum bahwa gula terbentuk secara bertahap dengan menambahkan satu atom karbon pada satu waktu. Tim peneliti menduga bahwa gula berkarbon empat terbentuk dari dua molekul organik lain yang masing-masing mengandung sepasang karbon.
Implikasi bagi Asal Usul Kehidupan
Penemuan ini menjadi kabar baik bagi astrobiologi. Gula seperti ribosa dan deoksiribosa membentuk tulang punggung RNA dan DNA. Erythrulose sendiri dapat membentuk ribonukleotida, yang merupakan blok bangunan RNA. Para peneliti memperkirakan bahwa hingga 50 juta ton erythrulose bisa saja menghujani Bumi saat kehidupan masih dalam masa purbanya.
“Untuk mengalami hujan material organik seperti ini, saya pikir itu tampaknya menjadi langkah kunci,” kata penulis utama studi Izaskun Jiménez-Serra, seorang astrokimiawan di Pusat Astrobiologi Spanyol, kepada The Guardian. “Material itu bisa berkontribusi pada sup prebiotik di mana biomolekul pertama disintesis.”
Konteks Penelitian Gula di Luar Angkasa
Asal-usul gula di Bumi masih menjadi misteri. Ribosa dan glukosa telah ditemukan di asteroid, dan beberapa ilmuwan percaya bahwa, seperti air, senyawa ini pertama kali dibawa ke Bumi oleh batuan luar angkasa yang jatuh ke planet kita. Deteksi erythrulose di awan molekuler memberikan petunjuk baru tentang di mana gula-gula ini terbentuk di luar angkasa.
Deteksi ini “memberi tahu kita bahwa gula-gula ini lebih umum daripada yang kita duga sebelumnya,” kata Jiménez-Serra. “Ini membuka kemungkinan bagi kehidupan untuk berkembang di dunia lain dengan cara yang mirip dengan apa yang terjadi di Bumi.”
Baca Juga:
Dampak bagi Pemahaman Manusia
Temuan ini membawa implikasi besar bagi pemahaman manusia tentang asal-usul kehidupan. Jika gula dapat terbentuk secara alami di awan molekuler dan kemudian dihujankan ke planet-planet, maka kemungkinan kehidupan muncul di tempat lain di alam semesta menjadi lebih besar. Para ilmuwan kini memiliki bukti bahwa bahan-bahan dasar kehidupan tidak eksklusif milik Bumi.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa proses pembentukan molekul organik kompleks di luar angkasa mungkin lebih bervariasi dari yang diperkirakan. Mekanisme pembentukan gula berkarbon empat tanpa melalui tahap gula berkarbon tiga menunjukkan bahwa alam semesta memiliki jalur kimia yang lebih kaya untuk menciptakan kehidupan.




