Asteroid Raksasa 1997 NC1 Melintas 27 Juni 2026

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
โฑ๏ธ3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi asteroid raksasa 1997 NC1 melintas dekat Bumi pada 27 Juni 2026
  • Asteroid 1997 NC1 berdiameter 700 meter hingga 1,6 km melintas dekat Bumi 27 Juni 2026
  • Jarak terdekat 2,56 juta km, setara 6,6 kali jarak Bumi-Bulan
  • Tidak akan sedekat ini lagi hingga tahun 2133
  • Tidak terlihat mata telanjang, butuh teleskop bukaan minimal 100 mm
  • Virtual Telescope Project sediakan livestream 26-27 Juni

JBNews.id โ€” Sebuah asteroid raksasa berukuran lebih besar dari gedung pencakar langit akan melintas dekat Bumi pada Sabtu, 27 Juni 2026. Fenomena langit ini menjadi momen langka karena asteroid dengan diameter antara 700 meter hingga 1,6 kilometer tersebut tidak akan mendekati Bumi lagi hingga tahun 2133 mendatang.

Berdasarkan data dari Badan Antariksa Eropa (ESA), jarak terdekat asteroid yang diberi kode 1997 NC1 ini mencapai 2,56 juta kilometer dari Bumi. Jarak tersebut setara dengan 6,6 kali lipat jarak rata-rata Bumi ke Bulan. Meski tergolong dekat secara astronomis, asteroid ini tidak menimbulkan ancaman bagi planet kita.

Waktu puncak pendekatan terdekat terjadi pada pukul 11:14 UTC atau sekitar pukul 18.14 WIB. Momen ini menjadi perhatian para astronom amatir dan pengamat langit di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Meski demikian, pengamatan terbaik sangat bergantung pada lokasi geografis pengamat.

Untuk wilayah Eropa dan Amerika Serikat, waktu optimal mengamati asteroid adalah pada malam 26 hingga 27 Juni, terutama menjelang subuh. Sementara itu, Argentina dan kawasan Cone Selatan bisa menikmati pemandangan terbaik pada malam 27 hingga 28 Juni, setelah asteroid bergerak menuju langit selatan. Bagi pengamat di Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, peluang terbaik juga terbuka pada malam-malam tersebut, meskipun posisi asteroid perlu dilacak secara saksama.

Penampakan dan Peralatan yang Dibutuhkan

Meskipun ukurannya sangat besar, asteroid 1997 NC1 tidak akan terlihat dengan mata telanjang. ESA memperkirakan kecerahannya hanya mencapai magnitude 10, setara dengan kecerahan planet Neptunus. Artinya, objek ini 40 kali lebih redup dibandingkan bintang paling redup yang bisa dibedakan oleh mata manusia. Faktor lain yang menyulitkan adalah posisi Bulan yang hampir purnama, sehingga mengurangi kontras langit malam.

Melalui teleskop atau teropong bintang astronomi, asteroid akan tampak sebagai titik cahaya kecil yang bergerak lambat di antara bintang-bintang. Pergerakannya sekitar 40 detik busur per menit, cukup untuk menyadari pergerakan objek jika diamati selama beberapa menit.

Para astronom merekomendasikan penggunaan teleskop komersial dengan bukaan minimal 100 milimeter (4 inci). Namun, teleskop dengan bukaan 150 hingga 200 milimeter akan memberikan pengalaman pengamatan yang jauh lebih nyaman. Alternatif lain, teropong bintang astronomi 15 x 70 atau 20 x 80 juga bisa digunakan, sebaiknya dipasang pada tripod dan dari lokasi yang bebas polusi cahaya.

Pada saat pendekatan terdekat, asteroid akan berada di dekat rasi bintang Ophiuchus dan Serpens Cauda, di selatan bintang terang Vega. Aplikasi astronomi seperti Stellarium, Sky Tonight, atau SkySafari dapat membantu menemukan posisi tepatnya dengan mencari kata kunci โ€œ1997 NC1โ€.

Cara Alternatif Menyaksikan Fenomena

Bagi yang terkendala cuaca mendung atau tidak memiliki teleskop, Virtual Telescope Project menyediakan siaran langsung (livestream) pada 26 dan 27 Juni. Siaran ini akan melacak pergerakan asteroid secara real-time, sehingga siapa pun bisa menyaksikan fenomena langka ini dari rumah.

Asteroid tidak akan langsung menghilang setelah pendekatan terdekat. Objek ini masih akan terlihat selama beberapa hari, meskipun kecerahannya berangsur menurun dan posisinya di langit terus bergeser. Jika tidak bisa mengamati pada malam pertama, masih ada kesempatan di malam-malam berikutnya, meskipun kondisi akan kurang menguntungkan bagi pengamat di belahan utara.

Fenomena ini mengingatkan kita pada dinamika tata surya yang terus bergerak. Dalam konteks yang lebih luas, pemantauan objek dekat Bumi seperti asteroid 1997 NC1 menjadi penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan kesiapsiagaan. Sementara itu, berita tentang PHK Besar-besaran di Xbox menunjukkan bahwa perhatian publik juga tertuju pada isu-isu industri teknologi lainnya.

Bagi para penggemar astronomi di Indonesia, momen ini menjadi kesempatan berharga untuk menguji peralatan dan kemampuan observasi. Dengan persiapan yang matang dan lokasi pengamatan yang ideal, asteroid raksasa ini bisa menjadi objek langit yang menarik untuk diamati.