Anthropic Dorong Regulasi AI Ketat di Tingkat Negara Bagian

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi logo Anthropic dengan latar belakang teks undang-undang dan dokumen kebijakan
  • Anthropic, startup AI senilai hampir US$1 triliun, mendorong regulasi ketat untuk model AI canggih di tingkat negara bagian AS.
  • Perusahaan mendukung RUU di California, New York, Illinois, dan Massachusetts yang mewajibkan audit pihak ketiga dan pelaporan.
  • Langkah ini menuai kritik sebagai 'regulatory capture' untuk menjebak pesaing yang lebih kecil.
  • Anthropic membantah tuduhan tersebut, dengan alasan regulasi hanya berlaku untuk pengembang model AI besar.
  • Perusahaan juga aktif di tingkat federal, termasuk menuduh Alibaba melakukan serangan distilasi AI.
  • Terdapat kesenjangan antara advokasi untuk risiko katastrofik dan isu yang lebih dekat dengan publik seperti dampak pada pekerjaan.

JBNews.id — Anthropic, perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) bernilai hampir US$1 triliun, secara aktif mendorong penerapan regulasi ketat terhadap model AI canggih di tingkat negara bagian Amerika Serikat. Langkah ini dinilai kontroversial di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan lambannya Kongres dalam merumuskan undang-undang federal.

Cesar Fernandez, Kepala Urusan Pemerintahan Negara Bagian dan Lokal Anthropic, menegaskan bahwa pendekatan transparansi dan pelaporan mandiri yang diadopsi pada tahun 2025 sudah tidak lagi memadai. “Kami pikir transparansi dan pelaporan mandiri bukan lagi langkah keamanan yang cukup untuk sistem AI paling kuat,” ujar Fernandez dalam sebuah wawancara dengan WIRED.

Sikap pro-regulasi ini terbilang unik bagi perusahaan rintisan senilai hampir US$1 triliun. Namun, Anthropic memiliki misi pendirian yang berbeda: “memastikan dunia bertransisi dengan aman melalui AI transformatif.” Untuk mencapai misi tersebut, perusahaan percaya harus membangun bisnis besar dan mendukung regulasi yang ketat.

Dukungan Terhadap RUU Keamanan AI di Berbagai Negara Bagian

Anthropic telah mendukung beberapa rancangan undang-undang (RUU) keamanan AI di berbagai negara bagian, melampaui undang-undang pelaporan mandiri yang sudah ada di California dan New York. Perusahaan ini juga mendukung langkah di Illinois yang mewajibkan laboratorium AI untuk menjalani evaluasi proses keamanan oleh auditor pihak ketiga.

Kebijakan paling anyar yang didukung Anthropic adalah RUU di Massachusetts. RUU ini tidak hanya mewajibkan audit pihak ketiga, tetapi juga memberikan kewenangan kepada jaksa agung negara bagian untuk mencari putusan pengadilan terhadap perusahaan yang tidak patuh. Fernandez bergabung dengan Anthropic awal tahun ini setelah menjabat sebagai kepala hubungan pemerintah negara bagian di FanDuel dan Uber. Keahliannya dianggap berharga saat Kongres masih mandek dan negara bagian mengambil peran utama.

Di sisi lain, langkah Anthropic menuai kritik dari sejumlah tokoh Silicon Valley. David Sacks, mantan Kepala AI Gedung Putih, menuduh Anthropic menjalankan strategi “regulatory capture”. Sacks menulis bahwa Anthropic berusaha menjebak perusahaan rintisan AI kecil dengan birokrasi yang rumit untuk mengamankan posisinya sebagai pemimpin dalam persaingan AI.

Fernandez membantah tuduhan tersebut. Ia menegaskan bahwa semua RUU yang didukung Anthropic hanya berlaku untuk “pengembang model AI besar”, yang didefinisikan sebagai perusahaan dengan pengeluaran riset ratusan juta dolar dan pendapatan tahunan di atas US$500 juta. “Sulit membayangkan perusahaan rintisan memenuhi ambang batas itu,” kata Fernandez. Namun, beberapa perusahaan rintisan potensial seperti Safe Superintelligence, Thinking Machines Lab, dan Mistral telah mengumpulkan dana miliaran dolar, meskipun pendapatan mereka masih jauh di bawah Anthropic atau OpenAI.

Batas Dukungan dan Tuduhan ‘Regulatory Capture’

Meskipun pro-regulasi, Anthropic memiliki batasan. Dalam dokumen kebijakan yang diterbitkan bulan lalu, perusahaan merekomendasikan agar pemerintah memiliki mekanisme untuk memblokir peluncuran model AI baru yang dianggap tidak aman. Namun, rekomendasi ini terasa ironis setelah pemerintahan Trump memerintahkan Anthropic untuk menangguhkan akses ke dua model AI paling canggihnya bagi warga negara asing, sebuah langkah yang tidak disukai perusahaan.

Anthropic berpendapat bahwa hak untuk memblokir peluncuran model AI yang tidak aman harus menjadi wewenang pemerintah federal, bukan legislator negara bagian, meskipun Fernandez mengakui ini adalah diskusi yang terus berkembang. Setelah arahan kontrol ekspor dari pemerintah Trump yang membuat model Mythos dan Fable 5 dihapus untuk semua pengguna, Anthropic menulis bahwa pemblokiran hanya boleh dilakukan melalui proses evaluasi yang adil dan transparan.

Dalam ranah federal, Anthropic juga aktif. Bulan lalu, perusahaan mengirim surat kepada pemerintah AS yang menuduh raksasa teknologi China, Alibaba, melakukan serangan distilasi—mengekstrak informasi dari model Anthropic untuk mengembangkan alat AI sendiri. Beberapa peneliti AI menolak klaim ini sebagai bentuk lain dari “regulatory capture”, dengan argumen bahwa tujuan sebenarnya adalah membujuk pemerintah AS untuk melarang model open-weight China. Hal ini berpotensi mendorong ribuan bisnis Amerika yang bergantung pada model tersebut untuk beralih ke layanan Anthropic.

Di tingkat negara bagian, Fernandez menyatakan bahwa Anthropic tidak secara spesifik menargetkan model AI sumber terbuka dalam legislasi yang didukungnya. “Ini lebih kepada pertanyaan tentang kemampuan model, bukan konstruksi model. Ketika kemampuannya naik ke level tertentu, model-model itu harus diatur dalam kerangka negara bagian,” jelasnya.

Implikasi bagi Industri dan Publik

Terlepas dari perdebatan mengenai motifnya, Anthropic memainkan peran kuat dalam membentuk kebijakan AI. Rilis model terbarunya membawa kemampuan keamanan siber AI canggih ke sorotan nasional. Selama bertahun-tahun, perusahaan telah memperingatkan para pembuat undang-undang tentang risiko katastrofik dari AI canggih.

Namun, kekhawatiran yang lebih sering diungkapkan pemilih Amerika, seperti kehilangan pekerjaan, dampak negatif pusat data, dan efek chatbot pada anak-anak, belum mendorong kampanye legislatif yang sebanding dari laboratorium AI terdepan. Anthropic dan beberapa pesaingnya telah berjanji bahwa pembayar pajak biasa tidak akan menanggung biaya pusat data, dan Anthropic telah menerbitkan proposal untuk merespons potensi perpindahan pekerjaan di masa depan akibat AI. Meski demikian, industri ini secara signifikan kurang memberikan dukungan politik untuk undang-undang negara bagian yang mengatasi masalah tersebut.

Ketika ditanya tentang kesenjangan itu, Fernandez mengatakan bahwa Anthropic “bersemangat untuk terlibat dengan para pembuat undang-undang” mengenai isu di luar risiko keamanan AI katastrofik dan sudah “mengadakan percakapan-percakapan itu di berbagai negara bagian.” Namun, diskusi tersebut belum menghasilkan dorongan terkoordinasi di tingkat negara bagian seperti yang dilakukan Anthropic seputar risiko eksistensial dari model-model perbatasan.

Pendekatan Anthropic yang pro-regulasi ini menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana perusahaan AI besar menavigasi lanskap kebijakan yang kompleks. Di satu sisi, langkah ini bisa dilihat sebagai upaya tulus untuk memastikan keamanan. Di sisi lain, tuduhan “regulatory capture” menunjukkan bahwa kepentingan bisnis tidak bisa dipisahkan dari advokasi kebijakan. Bagi pengamat industri, perkembangan ini adalah sinyal bahwa pertarungan regulasi AI akan semakin memanas, dengan implikasi langsung pada inovasi, persaingan, dan keselamatan publik.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai tren teknologi terkini, simak artikel tentang AI China lebih murah yang mulai dilirik perusahaan global.