Amazon Pamer Robot Canggih di Tengah Gelombang PHK Massal

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Robot Amazon Proteus versi lama di gudang perusahaan
  • Amazon meluncurkan robot gudang Proteus generasi terbaru yang bisa memahami perintah bahasa alami
  • Robot ini sudah digunakan di 25 pusat pemenuhan pesanan AS, versi baru mulai beroperasi di Eropa 2027
  • Amazon melakukan PHK massal: 14.000 pekerja korporat Oktober lalu, rencana PHK 16.000 lagi
  • CEO Andy Jassy akui AI akan kurangi tenaga kerja korporat dalam beberapa tahun ke depan
  • Lebih dari 50.000 PHK di AS pada 2025 disebabkan oleh AI
  • Amazon klaim robotika justru ciptakan ratusan ribu lapangan kerja baru
  • Laporan Citi prediksi robot AI capai 1,3 miliar pada 2035 dan 4 miliar pada 2050

JBNews.id — Amazon meluncurkan robot gudang terbaru yang mampu memahami perintah bahasa percakapan sehari-hari, di saat yang sama perusahaan terus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal untuk efisiensi. Robot bernama Proteus generasi berikutnya ini adalah robot seluler otonom yang dirancang untuk mengangkut barang di pusat pemenuhan pesanan.

Versi asli Proteus pertama kali dikerahkan di pusat-pusat pemenuhan pesanan Amazon pada tahun 2022. Robot tersebut membantu pekerja mengangkut kereta dorong berbobot hingga 400 kilogram. Saat ini, Proteus sudah digunakan di 25 pusat pemenuhan pesanan di Amerika Serikat. Versi terbarunya dijadwalkan mulai beroperasi di Eropa pada paruh pertama tahun 2027.

Pengumuman ini muncul di tengah kebijakan PHK besar-besaran yang dilakukan Amazon. Perusahaan telah memangkas 14.000 pekerja korporat pada bulan Oktober lalu. Amazon juga menyatakan akan memberhentikan 16.000 pekerja lagi untuk mengurangi lapisan manajemen dan birokrasi internal.

CEO Amazon Andy Jassy secara terbuka menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan mengakibatkan penyusutan tenaga kerja perusahaan dalam beberapa tahun mendatang. “Kita akan butuh lebih sedikit orang untuk melakukan beberapa pekerjaan yang ada saat ini dan lebih banyak orang untuk melakukan jenis pekerjaan lain. Sulit mengetahui secara pasti bagaimana hasil akhirnya tapi dalam beberapa tahun ke depan, kami memperkirakan ini akan mengurangi total tenaga kerja korporat,” tulisnya dalam memo internal.

Otomatisasi AI dan Dampak PHK

Fenomena PHK akibat otomatisasi AI tidak hanya terjadi di Amazon. Beberapa raksasa teknologi lain seperti Microsoft, Salesforce, dan IBM juga melakukan ribuan PHK terkait AI sepanjang tahun 2025. Data menunjukkan AI menjadi penyebab lebih dari 50.000 PHK di Amerika Serikat sepanjang tahun itu. Baru-baru ini, Block, Oracle, dan Meta juga melakukan pemangkasan pekerjaan serupa. Situasi ini mengingatkan pada IPO Raksasa Teknologi yang juga mengancam stabilitas pasar.

Meskipun demikian, pihak Amazon membantah bahwa robotika akan mengurangi lapangan kerja secara keseluruhan. Tye Brady, Kepala Ahli Teknologi di Amazon Robotics, menyatakan kepada CNBC bahwa investasi di bidang robotika justru telah menciptakan ratusan ribu lapangan pekerjaan. “Semenjak berinvestasi di bidang robotika, kami telah menciptakan ratusan ribu lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Menurut Brady, investasi pada sumber daya manusia, peningkatan keterampilan, dan mesin pintar akan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Ia menambahkan bahwa Amazon menciptakan lapangan pekerjaan dalam skala yang belum pernah terlihat di AS selama 10 tahun terakhir.

Wakil Presiden Amazon Inggris dan Irlandia, John Boumphrey, juga mengklaim investasi robotika justru mengharuskan perusahaan merekrut lebih banyak pekerja di pusat pemenuhan pesanan. Saat ini, Amazon tengah kesulitan merekrut pegawai dengan keterampilan yang tepat. “Saya berani bertaruh besar bahwa kita akan membutuhkan sangat banyak orang di gudang kita di masa depan, kita mempekerjakan lebih banyak orang di ruang yang sama, jadi sebenarnya, pengalaman kami dengan robot adalah hal tersebut justru meningkatkan jumlah lapangan kerja, bukan sebaliknya,” ungkap Boumphrey.

Robot Amazon

Proyeksi Robot AI Menggantikan Manusia

Meski ada klaim optimistis dari Amazon, tidak semua pihak yakin robotika tidak akan berujung pada penurunan tenaga kerja. Robot AI diproyeksikan melampaui populasi pekerja manusia dalam beberapa dekade mendatang. Laporan Citi memprediksi jumlah robot akan meningkat menjadi 1,3 miliar pada tahun 2035 dan lebih dari empat miliar pada tahun 2050. Perkembangan ini sejalan dengan tren adopsi AI di berbagai sektor, termasuk dalam pantauan video pemain muda oleh US Soccer.

Langkah Amazon meluncurkan robot canggih di tengah PHK massal menunjukkan paradoks yang sedang terjadi di industri teknologi. Di satu sisi, perusahaan berinvestasi besar-besaran dalam otomatisasi dan AI untuk meningkatkan efisiensi. Di sisi lain, kebijakan tersebut berpotensi mengurangi jumlah pekerja manusia yang dibutuhkan.

Bagi para pekerja di sektor logistik dan pergudangan, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa keterampilan baru diperlukan untuk tetap relevan di pasar tenaga kerja. Amazon sendiri mengklaim akan menciptakan lapangan kerja baru yang membutuhkan keahlian berbeda, namun transisi ini tidak akan mudah bagi semua pekerja.

Implikasi dari kebijakan ini sangat jelas: pekerja di sektor yang terdampak otomatisasi harus segera meningkatkan keterampilan mereka. Perusahaan juga perlu menyiapkan program pelatihan ulang agar pekerja yang terkena PHK dapat beralih ke peran baru yang lebih teknis dan berbasis teknologi. Tanpa langkah antisipatif, kesenjangan keterampilan akan semakin lebar dan dampak sosial dari otomatisasi bisa menjadi lebih serius.