Amazon Leo Siap Saingi Starlink dengan 396 Satelit

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi konstelasi satelit Amazon Leo di orbit rendah Bumi bersaing dengan Starlink
  • Amazon Leo kini memiliki 396 satelit di orbit rendah Bumi, cukup untuk layanan komersial
  • Target komersial mid-2026 dengan kualitas awal diperkirakan belum sempurna
  • SpaceX Starlink sudah punya 10.000+ satelit dengan kecepatan unduh 200 Mbps
  • Amazon masih tertinggal karena keterlambatan roket New Glenn Blue Origin
  • Pengguna awal Amazon Leo akan alami gangguan serupa Starlink tahun 2020

JBNews.id — Amazon resmi mengumumkan bahwa konstelasi satelit internet Project Leo kini memiliki 396 unit di orbit rendah Bumi, jumlah yang dinilai cukup untuk memulai layanan komersial pada pertengahan 2026. Langkah ini menempatkan Amazon sebagai pesaing langsung Starlink milik SpaceX di pasar internet satelit global.

Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari media sosial, Chris Weber, Wakil Presiden Bisnis dan Produk Amazon Leo, menegaskan bahwa jumlah satelit yang beroperasi saat ini telah memenuhi syarat untuk mendukung layanan berkelanjutan di lintang awal. “Enough to support continuous service across initial latitudes,” ujar Weber.

Amazon menargetkan layanan komersial pertama dapat dinikmati pengguna pada pertengahan 2026. Meski demikian, perusahaan memperingatkan bahwa kualitas layanan pada tahap awal kemungkinan masih jauh dari sempurna, mengingat pengalaman serupa yang pernah dialami Starlink saat pertama kali meluncur.

SpaceX meluncurkan layanan “Better than nothing beta” pada 2020 dengan hampir 900 satelit di orbit rendah Bumi. Saat itu, layanan hanya menjangkau sebagian kecil pengguna di Amerika Serikat bagian utara dan Kanada. Pengguna awal mengeluhkan gangguan koneksi yang sering terjadi serta sensitivitas tinggi terhadap hambatan fisik.

Kecepatan internet yang ditawarkan Starlink saat itu berkisar antara 50 Mbps hingga 150 Mbps, dengan latensi 20 ms hingga 40 ms. Baru pada 2022, cakupan dan performa layanan meningkat secara signifikan setelah SpaceX meluncurkan ribuan satelit tambahan.

Saat ini, SpaceX telah mengoperasikan lebih dari 10.000 satelit Starlink yang menyediakan konektivitas internet di darat, laut, dan udara di lebih dari 160 negara. Performa Starlink kini mencapai kecepatan unduh median 200 Mbps, unggah 10 Mbps hingga 40 Mbps, dan latensi sekitar 25 ms. Namun, kecepatan tersebut sangat bergantung pada jenis antena, level layanan yang dibayar, waktu penggunaan, dan lokasi pengguna.

Tantangan Amazon Leo

Amazon masih tertinggal jauh dari SpaceX dalam hal jumlah satelit. Perusahaan berencana meluncurkan total 3.232 satelit Leo, namun realisasinya masih terhambat oleh berbagai kendala. Salah satu faktor utama adalah keterlambatan roket New Glenn milik Blue Origin, perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, yang belum beroperasi secara reguler.

Dengan hanya 396 satelit yang beroperasi, Amazon diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyamai performa Starlink. Pengguna awal Amazon Leo diingatkan untuk bersiap menghadapi gangguan layanan dan keterbatasan cakupan, serupa dengan pengalaman pengguna awal Starlink pada 2020.

Dalam situasi ini, Amazon juga tengah menghadapi berbagai tantangan internal. Perusahaan baru-baru ini mendapat denda dari FTC senilai Rp36 miliar terkait kasus pencurian identitas. Selain itu, Amazon juga menghentikan produksi film OpenAI sementara Google menginvestasikan Rp1,2 triliun di A24.

Prospek dan Implikasi

Meskipun Amazon Leo masih dalam tahap awal, langkah ini menandai dimulainya persaingan serius di pasar internet satelit. Starlink telah membuktikan bahwa model bisnis ini dapat berhasil, terutama di daerah terpencil yang tidak terjangkau infrastruktur internet konvensional.

Bagi konsumen, kehadiran Amazon Leo berpotensi menekan harga layanan internet satelit dalam jangka panjang. Namun, dalam waktu dekat, pilihan utama masih jatuh pada Starlink yang memiliki jaringan jauh lebih matang dan cakupan global yang luas.

Amazon sendiri masih harus menyelesaikan berbagai masalah internal, termasuk investigasi terhadap karyawan yang mendukung moratorium data center serta laporan intimidasi dari tiga karyawan di Seattle. Isu-isu ini menambah kompleksitas operasional perusahaan di tengah upayanya mengejar ketertinggalan di sektor antariksa.

Dengan target komersial mid-2026, Amazon Leo masih memiliki waktu untuk meningkatkan jumlah satelit dan memperbaiki kualitas layanan. Namun, tanpa roket New Glenn yang andal, target tersebut bisa kembali mundur, mengingat ketergantungan Amazon pada kemampuan peluncuran Blue Origin.