JBNews.id — Meksiko, Norwegia, hingga Kanada berlaga di Piala Dunia 2026 dengan sepatu dominan pink. Kylian Mbappe dan Erling Haaland pun tampil percaya diri menggunakan sepatu berwarna merah muda ngejreng di turnamen sepak bola terbesar dunia ini.
Fenomena tersebut bukan sekadar tren mode. Di balik maraknya penggunaan sepatu pink, terdapat alasan ilmiah yang terkait dengan neurosains dan teknik penglihatan pemain di lapangan.
Secara neurosains, fenomena ini berhubungan dengan istilah ‘peripheral vision tracking’. Pada intinya, pemain sepak bola jarang melihat langsung ke kaki rekan setim mereka. Melakukan hal itu akan mengalihkan pandangan mereka dari bola atau lawan. Sebaliknya, mereka sangat mengandalkan penglihatan tepi (peripheral vision) untuk melacak pergerakan dan ruang.
Dari studi yang dipublikasikan di Sage Journals, dikatakan bahwa warna-warna yang sangat saturated dan sangat terang seperti merah muda cukup kuat untuk memicu reseptor perifer. Warna terang akan sangat memungkinkan seorang gelandang untuk langsung memetakan posisi tubuh, pola langkah, dan orientasi kaki rekan setimnya hanya dengan melihatnya sekilas. Dengan demikian, ini bakal mengurangi waktu reaksi dan waktu umpan hingga hitungan milidetik.
Erling Haaland pakai sepatu pink saat Norwegia menghajar Irak 4-1 pada laga perdana Grup I Piala Dunia 2026 di Boston Stadium, Massachusetts, Rabu (17/6/2026) pagi WIB. Striker andalan Norwegia itu mencetak dua gol pada babak pertama untuk membawa timnya mengawali turnamen dengan hasil meyakinkan sekaligus memimpin klasemen sementara grup.

Sebenarnya, di antara skill yang harus dimiliki seorang atlet, kemampuan visual adalah salah satu kunci kesuksesan. Tak cuma dalam sepak bola, namun dalam cabang olahraga mana pun. Oleh karena itu, banyak penelitian yang membahas seberapa penting warna berpengaruh (misalnya warna jersey) dalam performa sebuah tim di lapangan.
Meningkatkan Kepercayaan Diri
Ada sejumlah brand yang merilis sepatu edisi warna pink spesial, sebut saja New Balance, Adidas, Puma, Skechers sampai Nike. Odinga Nimako, seorang tokoh senior di tim sepatu sepak bola global Nike, mengatakan kepada The Athletic bahwa warna pink banyak dipilih oleh merek besar karena berbagai alasan.
“Apa yang secara konsisten kami dengar dari atlet dan konsumen, terutama ketika momen-momen besar, adalah bahwa warna-warna cerah memberi mereka kepercayaan diri, jadi itu benar-benar titik awal kami,” kata Nimako.

“Cara kami mendekatinya adalah dengan fokus pada warna-warna paling cerah, warna-warna yang benar-benar meningkatkan kepercayaan diri itu, dan pink adalah salah satu warna tersebut,” jabarnya.
Selain itu, Nike memperhatikan betapa mencoloknya sepatu berwarna pink selama beberapa tahap pengembangan. Dalam uji coba di lapangan, tidak ada yang lebih mencolok daripada warna pink.
“Warna pink benar-benar membantu menonjol di atas rumput hijau di lapangan, baik Anda berada di tribun atau menonton di TV, memastikan visibilitasnya ada,” ujar Nimako.
“Itu jelas sesuatu yang kami perhatikan. Untuk momen (Piala Dunia) ini, kami benar-benar ingin fokus pada dampak visual tersebut,” imbuhnya.
Baca Juga:
Fenomena sepatu pink di Piala Dunia 2026 menunjukkan bagaimana sains dan psikologi olahraga berpadu dalam desain perlengkapan atlet. Warna yang tadinya dianggap tidak lazim kini menjadi pilihan utama para pemain top dunia, bukan hanya karena tren, tetapi juga karena manfaat visual dan psikologis yang terbukti secara ilmiah.
Implikasinya bagi industri perlengkapan olahraga cukup signifikan. Produsen sepatu kini berlomba menciptakan warna-warna cerah yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga memberikan keunggulan kompetitif di lapangan. Untuk pembaca, fenomena ini mengingatkan bahwa inovasi terkadang datang dari hal-hal sederhana seperti pilihan warna.




