AI Tak Gantikan Developer, Skill Gap Lebih Berbahaya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi seorang programmer sedang coding dengan laptop di depan layar monitor yang menampilkan baris kode program
  • AI coding agent seperti Codex bukan ancaman bagi developer, melainkan peluang untuk meningkatkan produktivitas
  • Ancaman terbesar adalah skill gap antara developer yang sudah memanfaatkan AI dan yang belum
  • Developer perlu memposisikan AI sebagai asisten kerja, bukan pengganti
  • AI masih memiliki keterbatasan seperti hallucination dan bias
  • Developer harus tetap menguasai debugging, validasi, dan kemampuan memberikan prompt
  • AI coding agent bisa menjadi sarana belajar efektif bagi developer pemula

JBNews.id — Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menggantikan pekerjaan programmer kian merebak seiring pesatnya perkembangan AI coding agent seperti Codex. Namun, ancaman terbesar justru bukan AI itu sendiri, melainkan kesenjangan kemampuan atau skill gap antara developer yang sudah memanfaatkan AI dan mereka yang belum. Pernyataan ini disampaikan oleh Naufaldi Rafif, Codex Ambassador pertama di Indonesia.

Menurut Naufaldi, developer tidak perlu takut kehilangan pekerjaan hanya karena hadirnya AI. Sebaliknya, mereka perlu mulai belajar berkolaborasi dengan teknologi tersebut agar tidak tertinggal dalam persaingan industri yang semakin ketat.

“Daripada hanya khawatir AI coding agent menggantikan pekerjaan kita, menurut saya lebih baik khawatir dengan skill gap antara developer yang sudah belajar menggunakan AI dan yang belum,” ujarnya dalam wawancara tertulis dengan detikINET.

AI Bukan Pengganti Developer

Meski AI semakin pintar menulis kode, Naufaldi menegaskan teknologi tersebut sebaiknya diposisikan sebagai asisten kerja, bukan pengganti manusia. Ia mengibaratkan AI coding agent sebagai pembantu yang menjalankan berbagai tugas, sementara developer tetap menjadi pihak yang mengarahkan dan mengambil keputusan.

“AI coding agent ini adalah pembantu kita dalam bekerja, sedangkan kita adalah managernya,” kata Naufaldi.

Oleh karena itu, developer tetap harus memahami seperti apa kode yang baik, kapan hasil AI layak digunakan, dan kapan perlu diperbaiki. Naufaldi juga mengingatkan bahwa AI masih memiliki keterbatasan, salah satunya adalah potensi menghasilkan informasi yang keliru atau hallucination. Hasil yang diberikan AI tidak boleh langsung diterapkan begitu saja tanpa melalui proses pengujian dan validasi.

“Jangan percaya AI 100%. AI bisa bias, salah, dan halusinasi. Karena itu walaupun kita bekerja menggunakan AI, kita tetap harus belajar dan memahami apa yang dikerjakan AI. Hasilnya perlu dikoreksi, diuji, atau dibandingkan dengan AI lain jika perlu,” jelasnya.

Menurutnya, AI memang mampu mempercepat pekerjaan, tetapi tanggung jawab atas kualitas hasil akhirnya tetap berada di tangan developer. Fenomena ini juga terjadi di industri lain, seperti yang terlihat dalam Film Lord of the Rings yang menggunakan AI untuk de-aging karakter.

AI adalah Partner Belajar

Di era AI coding agent, kemampuan teknis seperti menulis kode bukan lagi satu-satunya faktor pembeda. Naufaldi menilai developer tetap harus memiliki judgment, kemampuan melakukan debugging, serta keterampilan meninjau hasil kerja AI.

Ia menegaskan bahwa developer yang kuat bukanlah mereka yang menerima semua jawaban AI tanpa berpikir, melainkan mereka yang mampu mengarahkan AI, memvalidasi hasilnya, dan memperbaiki jika ditemukan kesalahan. Selain itu, kemampuan memberikan instruksi atau prompt yang tepat juga semakin penting. Dengan arahan yang jelas, AI dapat menghasilkan solusi yang lebih relevan dan efisien.

Naufaldi juga melihat AI coding agent sebagai sarana belajar yang efektif, terutama bagi developer pemula. Namun, ia mengingatkan agar AI tidak dijadikan sumber jawaban mutlak.

“Menurut saya, developer yang kuat di era AI bukan yang paling cepat menerima jawaban AI, tapi yang paling baik dalam mengarahkan, memvalidasi, dan memperbaiki hasilnya,” pungkasnya.

Perkembangan ini juga mendorong berbagai perusahaan untuk berinovasi. Misalnya, XLSmart Sediakan Akses Google Gemini untuk jutaan pelanggan, menunjukkan bagaimana akses terhadap AI semakin meluas.

Di sisi lain, perdebatan tentang regulasi AI juga semakin hangat. Retakan di OpenAI antara karyawan dan bos soal regulasi AI menunjukkan bahwa masa depan teknologi ini masih penuh dinamika.