AI Hapus Debat Offside Piala Dunia 2026

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi teknologi AI untuk menentukan offside di Piala Dunia 2026
  • AI di Piala Dunia 2026 menghilangkan debat offside dengan Teknologi Offside Semi-Otomatis (SAOT)
  • 1.248 pemain dari 48 skuad dipindai menjadi avatar 3D presisi
  • Bola Adidas berisi sensor IMU kirim data 500 kali per detik
  • 12 kamera pelacak pantau 29 titik data per pemain, 50 kali per detik
  • Peringatan offside dikirim ke earphone asisten wasit dalam detik
  • Akurasi deteksi offside hingga 10 cm, turun dari batas sebelumnya 50 cm
  • Petugas VAR hanya verifikasi titik tendangan tanpa garis manual
  • Animasi 3D untuk penonton tunjukkan posisi tubuh pemain saat operan

JBNews.id — Piala Dunia 2026 menjadi edisi pertama yang sepenuhnya memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menentukan offside. Teknologi ini menghilangkan perdebatan sengit seperti yang terjadi pada era sebelum Video Assistant Referee (VAR) dan menjadikan keputusan wasit lebih akurat dalam hitungan detik.

Adaptasi AI dalam pertandingan sepak bola membuat euforia Piala Dunia 2026 berbeda dari edisi sebelumnya. Perdebatan soal keputusan wasit, terutama offside dan hand ball, kini hampir tidak ada lagi. FIFA telah menerapkan Teknologi Offside Semi-Otomatis (SAOT) yang ditingkatkan dengan integrasi AI.

Sebelum era AI, momen ikonik seperti ‘Gol Tangan Tuhan’ Diego Maradona di Perempat Final Piala Dunia 1986 terjadi karena wasit dan timnya tidak menyadari kesalahan fatal. Argentina menang atas Inggris dengan skor 2-1. Contoh lain terjadi di babak 16 besar Piala Dunia 2010, ketika Carlos Tevez mencetak gol ke gawang Meksiko dari posisi offside yang jelas, namun wasit Robert Rosetti tetap mengesahkannya.

Kini, human error sudah bisa diminimalisir secara drastis. Melansir Inside Fifa, Senin (15/6/2026), sebanyak 1.248 pemain dari 48 skuad telah dipindai secara digital menjadi avatar 3D yang presisi. Bola pertandingan Adidas berisi sensor unit pengukuran (Inertial Measurement Unit/IMU) yang mengirimkan data 500 kali per detik. Sebanyak 12 kamera pelacak di setiap stadion memantau 29 titik data per pemain, 50 kali per detik.

Saat bola dimainkan, sistem menghitung titik tendangan yang tepat dan memetakan posisi setiap pemain. Apabila seorang pemain berada lebih dari 10 cm di luar garis offside (turun dari ambang batas sebelumnya 50 cm), peringatan audio waktu nyata langsung dikirim ke earphone asisten wasit. Keputusan offside bisa ditentukan hanya dalam beberapa detik tanpa melalui VAR terlebih dahulu.

Jika pun menggunakan VAR, petugas tidak perlu lagi menarik garis offside secara manual di layar. Mereka hanya bertugas memverifikasi titik tendangan (kick-point) dan garis offside yang sudah otomatis dibuat oleh sistem AI. Penonton juga akan disajikan animasi siaran dari kemiripan 3D pemain sebenarnya yang menunjukkan posisi setiap bagian tubuh saat operan dilakukan.

Penerapan teknologi ini menandai lompatan besar dalam penggunaan AI di sepak bola. Namun, sebagian kalangan menilai euforia perdebatan khas sepak bola menjadi berkurang. Dulu, momen kontroversial seperti ‘Gol Tangan Tuhan’ menjadi bahan diskusi selama puluhan tahun. Kini, setiap keputusan bersifat final dan berbasis data.

FIFA menyatakan bahwa teknologi ini bertujuan meningkatkan akurasi dan keadilan pertandingan. Dengan 48 tim yang berlaga, jumlah pertandingan bertambah signifikan, sehingga sistem otomatis menjadi kebutuhan operasional. Data dari 1.248 pemain yang dipindai memastikan setiap avatar 3D merepresentasikan postur asli pemain di lapangan.

Sensor IMU pada bola buatan Adidas menjadi komponen kunci. Data 500 kali per detik memungkinkan sistem melacak pergerakan bola secara real-time. Kombinasi dengan 12 kamera pelacak yang memantau 29 titik data per pemain menciptakan peta posisi yang sangat detail. Akurasi hingga 10 cm ini jauh melampaui batas toleransi offside sebelumnya yang mencapai 50 cm.

Implikasinya bagi jalannya pertandingan sangat jelas: keputusan offside yang sebelumnya memakan waktu 1-2 menit melalui VAR kini bisa diputuskan dalam hitungan detik. Hal ini menjaga ritme permainan dan mengurangi waktu terbuang. Bagi pemain dan pelatih, strategi bertahan dengan jebakan offside harus disesuaikan karena sistem AI tidak akan melewatkan pelanggaran sekecil apapun.

Bagi penggemar sepak bola, pengalaman menonton berubah. Tanpa debat offside yang sengit, diskusi antar penonton bergeser ke aspek teknis permainan lainnya. Animasi 3D yang ditampilkan di siaran membantu penonton memahami keputusan wasit secara visual. Ini menjadi alat edukasi yang efektif untuk menjelaskan aturan offside yang sering membingungkan.

Teknologi ini juga membuka peluang baru dalam pengembangan perangkat wasit. Ke depannya, integrasi AI untuk mendeteksi hand ball, pelanggaran, dan simulasi pemain bisa menjadi fitur standar. FIFA telah menunjukkan komitmennya untuk terus mengadopsi inovasi demi meningkatkan kualitas pertandingan.

Bagi pembaca yang tertarik dengan perkembangan AI di berbagai bidang, simak juga artikel tentang Karyawan Google Kecam AI yang membahas dampak AI di lingkungan kerja. Sementara itu, inovasi teknologi juga merambah dunia penerbangan dengan NASA X-59 Berhasil Tembus Kecepatan Suara.

Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa sepak bola tidak lagi sama. AI telah menghapus perdebatan offside yang dulu menjadi ciri khas pertandingan. Namun, esensi sepak bola sebagai olahraga yang penuh kejutan tetap terjaga. Yang berubah hanyalah cara kita menyaksikan dan menilai permainan.