AI dan Seluler: Kunci Kreativitas Anak Muda

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi content creator muda menggunakan smartphone dan AI
  • Praktisi Donny Budhi Utoyo menyebut kolaborasi AI dan teknologi seluler sebagai kunci kreativitas anak muda
  • AI berfungsi sebagai alat augmentasi, bukan substitusi, untuk memperkuat kemampuan manusia
  • Penggunaan AI yang terlalu pasif berisiko membuat ide menjadi seragam dan melemahkan berpikir mandiri
  • Teknologi seluler masih sangat relevan, namun ekspektasi pengguna kini bergeser ke pengalaman digital yang lebih personal dan terintegrasi AI
  • Empat hal yang perlu diperkuat: integrasi AI-seluler, dukungan ekonomi kreator, keamanan digital, dan pengembangan komunitas
  • Tri dan Google Gemini berkolaborasi memberikan akses AI murah mulai Rp 10 ribu dengan benefit 400 GB penyimpanan dan Gemini 3.1 Pro
  • Tujuan akhir adalah anak muda yang berdaya dengan AI, bukan bergantung pada AI

JBNews.id — Kolaborasi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi seluler menjadi kunci utama agar anak muda semakin kreatif dan produktif. Hal ini disampaikan oleh praktisi dan social entrepreneur, Donny Budhi Utoyo, yang melihat potensi besar integrasi kedua teknologi tersebut untuk generasi muda.

Donny, yang juga dikenal sebagai penggiat Internet Sehat, menjelaskan bahwa AI dapat membantu anak muda menjadi lebih produktif dan kreatif. Beberapa penelitian menunjukkan AI mampu mempercepat proses mencari informasi, menyusun ide, menulis, hingga menyelesaikan pekerjaan berbasis pengetahuan. Namun, ia memberikan catatan penting terkait penggunaan AI yang terlalu pasif.

“Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa penggunaan AI yang terlalu pasif dapat membuat ide menjadi lebih seragam dan berpotensi mengurangi latihan berpikir mandiri. Sederhananya, AI bisa membantu menghasilkan lebih banyak ide, tetapi belum tentu membuat ide kita semakin beragam,” ujar Donny dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).

Oleh karena itu, Donny melihat AI sebagai alat augmentasi, bukan substitusi. AI membantu memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Apabila seluruh proses berpikir diserahkan kepada AI, justru kemampuan kritis dan kreativitas manusia yang berisiko melemah. Saat ini, AI adalah salah satu perkembangan teknologi paling signifikan yang dapat membuka banyak peluang, mengubah cara manusia hidup dan bekerja.

“Smartphone membawa layanan digital ke genggaman setiap orang. Kini AI menjadi gelombang berikutnya,” lanjutnya.

Relevansi Teknologi Seluler

Menurut Donny, teknologi seluler masih sangat relevan bagi anak muda. Hampir seluruh aktivitas digital generasi muda saat ini berlangsung melalui perangkat seluler, mulai dari belajar, bekerja, berkomunikasi, berbelanja, menikmati hiburan, hingga membuat konten.

Dia menambahkan bahwa yang berubah bukan relevansinya, melainkan ekspektasi penggunanya. Dulu anak muda mencari sinyal yang kuat dan kuota yang murah. Sekarang mereka menginginkan pengalaman digital yang lebih personal, lebih cepat, lebih aman, dan semakin terintegrasi dengan teknologi AI.

“Karena itu industri telekomunikasi tidak cukup hanya menjual konektivitas. Nilai tambahnya harus semakin jelas dan harus kian memiliki relevansi yang kuat dengan teknologi di satu sisi, dan gaya hidup di sisi lain,” akunya.

Setidaknya ada empat hal yang menurut Donny perlu diperkuat. Pertama, integrasi AI dan seluler dalam layanan sehari-hari, seperti untuk belajar, produktivitas, pencarian informasi, penerjemahan, pembuatan konten, hingga pengembangan keterampilan digital langsung dari ponsel. Kedua, dukungan terhadap ekonomi kreator, karena banyak anak muda yang menjadi kreator konten, pelaku UMKM, pengembang aplikasi, dan pekerja ekonomi digital.

Ketiga, keamanan dan kesejahteraan digital. Semakin banyak aktivitas melalui perangkat seluler, semakin penting perlindungan data pribadi, keamanan digital, dan kesehatan mental pengguna. Keempat, pengembangan komunitas dan talenta digital karena anak muda membutuhkan ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan membangun jejaring.

Kolaborasi Nyata Tri dan Google Gemini

Kolaborasi antara teknologi seluler dan AI menjadi semakin relevan karena anak muda adalah kelompok yang paling cepat mengadopsi teknologi baru. Mereka juga akan menjadi tenaga kerja, kreator, dan pemimpin masa depan. Baru-baru ini, Tri meluncurkan kolaborasi bersama Google Gemini untuk mendukung ekosistem AI.

“Banyak perusahaan mulai mengintegrasikan AI ke dalam layanan mereka untuk menjawab kebutuhan generasi muda. Kolaborasi Tri dengan Google Gemini itu baru salah satunya,” ungkap Donny.

Melalui kolaborasi Tri dan Google Gemini, akses pengguna terhadap perangkat AI semakin mudah. Didukung oleh konektivitas yang dihadirkan Tri dengan jaringan Indosat 5G, penggunaan Google Gemini semakin lancar dalam kehidupan sehari-hari. Pengguna dapat mencari ide hingga mendukung aktivitas kreatif seperti merancang konsep konten, membuat foto yang menarik secara visual, hingga membuat prompt itinerary liburan yang lebih personal.

Hanya dengan membeli produk isi ulang Happy dari Tri mulai dari Rp 10 ribu, pengguna dapat mengeksplorasi berbagai fitur Google Gemini tanpa perlu membayar biaya berlangganan secara terpisah. Benefit yang didapat meliputi 400 GB penyimpanan data, membuat gambar dengan Nano Banana Pro, dan akses Gemini 3.1 Pro.

Donny menjelaskan tujuan akhirnya bukan membuat anak muda semakin bergantung pada AI, melainkan semakin berdaya dengan AI. Tren ke depan, AI akan terus menyasar dunia pendidikan untuk menghadirkan pengalaman belajar lebih personal dan interaktif. Integrasi AI ke perangkat seluler membuat AI hadir dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi hingga membantu produktivitas.

“Kita mesti melihat bahwa AI kini tidak lagi hadir sebagai teknologi yang berdiri sendiri, karena AI mulai menjadi bagian dari pengalaman digital sehari-hari,” imbuhnya.

AI membantu manusia bekerja lebih cepat dan efisien, tetapi nilai terbesarnya akan terasa ketika teknologi ini dipadukan dengan kemampuan manusia untuk berpikir kritis, memahami konteks, menghargai keberagaman, dan berempati. Inilah yang menjadi pembeda utama manusia di era digital.

“Maka cepat tidak lagi cukup, mesti juga tepat. AI dapat membantu kita mengetahui apa yang mungkin dilakukan. Tetapi manusia tetap harus memutuskan apa yang seharusnya dilakukan dengan tepat. Pondasinya adalah kebijakan dan kebijaksanaan, yang hingga saat ini masih hanya dapat lahir dari nalar, empati, dan harapan manusia terhadap masa depan,” tutupnya.

Fenomena ini juga memperkuat pentingnya Kolaborasi Riset AI di berbagai sektor. Ke depannya, kolaborasi antara penyedia layanan dan pengembang AI akan menjadi kunci untuk menciptakan Kacamata AR Kolaborasi dan inovasi lainnya yang semakin terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari.

Implikasinya bagi pembaca: era di mana AI dan seluler berpadu bukan lagi masa depan, melainkan realitas saat ini. Anak muda yang mampu memanfaatkan kolaborasi ini secara kritis dan kreatif akan memiliki keunggulan kompetitif di dunia kerja dan ekonomi digital. Sebaliknya, penggunaan AI yang pasif dan tanpa kendali justru berisiko melemahkan daya pikir kritis dan orisinalitas ide.