300 Drone Dilumpuhkan di Area Piala Dunia 2026

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Stadion Piala Dunia 2026 dengan pengamanan ketat anti-drone
  • Otoritas AS menyita lebih dari 300 drone tak berizin di lokasi Piala Dunia 2026
  • Pembatasan penerbangan dalam radius 4,8 km dari stadion dan ketinggian 900 meter
  • Pelanggar denda hingga USD 100.000, penyitaan perangkat, dan tuntutan pidana
  • Tim FBI ditempatkan di stadion untuk deteksi dan penindakan drone
  • Insiden serupa terjadi di Meksiko, drone jatuhkan di atas markas latihan Korsel
  • Sejarah penggunaan drone untuk mata-mata di Olimpiade Paris 2024

**JBNews.id —** Otoritas Amerika Serikat menyita lebih dari 300 drone tak berizin di lokasi-lokasi Piala Dunia 2026 sejak turnamen dimulai awal bulan ini. Langkah ini merupakan bagian dari pengamanan wilayah udara paling komprehensif dalam sejarah AS untuk sebuah ajang olahraga global.

Pembatasan ketat diberlakukan di hari pertandingan. Seluruh operasi penerbangan, termasuk drone, dilarang beroperasi dalam radius sekitar 4,8 kilometer dari stadion dan hingga ketinggian sekitar 900 meter. Pembatasan serupa juga berlaku untuk kawasan fan zone di berbagai kota penyelenggara.

Kebijakan ini diambil sebagai langkah keamanan untuk mencegah drone menjadi ancaman, termasuk bagian dari upaya pencegahan potensi terorisme. Tahun lalu, Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif untuk memperkuat pertahanan AS dari serangan drone.

Tim FBI ditempatkan di sekitar stadion-stadion Piala Dunia untuk mendeteksi dan melumpuhkan drone tidak berizin. Operator yang melanggar zona larangan terbang Piala Dunia dapat menghadapi denda hingga USD 100.000, penyitaan perangkat, serta tuntutan pidana.

Pekan lalu di Kansas City, Missouri, delapan drone beserta alat pengendalinya disita FBI dalam operasi gabungan dengan lembaga penegak hukum lain. Pelanggaran terjadi karena melanggar pembatasan penerbangan sementara pada acara Piala Dunia di Stadion Kansas City dan zona penggemar. Dua operator drone juga diberi surat pemberitahuan pelanggaran.

Baca Juga:

Juru bicara Transportation Security Administration (TSA) menyatakan bahwa penindakan dilakukan cepat dan proaktif bagi siapa saja yang menerbangkan drone di zona terlarang. “Pihak berwenang menerapkan pengamanan wilayah udara dan upaya mitigasi drone paling komprehensif dalam sejarah AS untuk Piala Dunia FIFA 2026, yang berujung pada penyitaan lebih dari 300 drone tak berizin hingga saat ini. Penerbangan drone tak berizin di area terlarang merupakan pelanggaran serius terhadap hukum federal,” sebut mereka.

Insiden serupa juga terjadi di luar Amerika Serikat. Sebelum pertandingan kedua Grup A antara Korea Selatan melawan tuan rumah Meksiko pekan lalu, militer Meksiko dilaporkan mencegat dan menjatuhkan sebuah drone tak terdaftar yang terlihat terbang di atas markas latihan Korsel di Guadalajara. Korea Selatan dilaporkan mencurigai aksi mata-mata dari insiden tersebut.

Kasus penggunaan drone untuk mata-mata bukanlah hal baru. Sebelumnya tahun 2024, timnas wanita Kanada dituduh menggunakan drone untuk memata-matai latihan Selandia Baru jelang laga pembuka Olimpiade Paris. Akibatnya, pelatih kepala Bev Priestman diberhentikan Federasi Sepak Bola Kanada dan dua anggota staf pelatih diskors, sementara tim peraih medali emas Olimpiade 2020 tersebut dikenai sanksi pengurangan enam poin.

Penyitaan massal drone ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang ditimbulkan oleh drone tak berizin di area publik yang padat. Dengan teknologi yang semakin canggih dan mudah diakses, pengamanan wilayah udara menjadi tantangan baru bagi penyelenggara acara besar.

Bagi para penggemar sepak bola yang hadir langsung di stadion, penting untuk memahami bahwa membawa dan menerbangkan drone di sekitar venue Piala Dunia bukan hanya pelanggaran administratif, tetapi dapat berujung pada konsekuensi hukum yang berat. Otoritas AS telah menunjukkan komitmen penuh untuk menegakkan aturan ini demi keselamatan bersama.