AHY Dorong Indonesia Olah Nikel Sendiri Hingga Jadi Mobil Listrik

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan optimisme tentang industri baterai dan kendaraan listrik Indonesia dalam konferensi pers.
  • Menteri Koordinator AHY optimis Indonesia mampu mengolah nikel sendiri menjadi baterai hingga kendaraan listrik
  • Indonesia memiliki sumber daya nikel melimpah, namun jangan hanya menjual bahan mentah
  • AHY dorong peningkatan TKDN untuk menghadirkan brand lokal made in Indonesia
  • China saat ini merajai pasar EV global, tapi Indonesia tidak boleh takut bersaing
  • Presiden Prabowo Subianto tekankan tekad kuat untuk industri otomotif nasional
  • Indonesia dinilai punya kapasitas dari segi teknologi, SDM, dan sumber daya alam

JBNews.id — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) optimis Indonesia mampu membangun industri baterai hingga kendaraan listrik sendiri, memanfaatkan sumber daya nikel yang melimpah tanpa hanya menjual bahan mentah ke luar negeri.

Pernyataan tersebut disampaikan AHY dalam Konferensi Pers Peluncuran Gerakan Langkah Hijau Grab untuk Indonesia, Senin (29/6/2026), di Sasono Adiguno, Taman Mini Indonesia Indah. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya yang berlimpah, namun ada batasan yang harus disadari.

“Indonesia bersyukur dengan sumber daya berlimpah, tapi pasti ada batasannya. Kalau cuma ambil nikel dan jual begitu saja ke negara lain, yang dihargai bahan bakunya saja. Kita harus ada industri yang bisa membangun nikel dari baterai, baterai jadi kendaraan listrik,” ujar AHY dalam acara tersebut.

AHY mengakui bahwa saat ini China merajai pasar electric vehicle (EV) di dunia. Namun, ia mengingatkan bahwa semua negara pasti dimulai dengan semangat trial and error, diikuti dengan riset. Penyempurnaan, menurutnya, adalah sebuah keniscayaan.

“Ada negara tetangga yang berani dan berhasil. Indonesia saya rasa punya kapasitas itu, kita tidak boleh takut bersaing. Bagaimana bisa menghadirkan brand lokal made in Indonesia, harus dimulai dari komponen TKDN yang lebih banyak,” tegas AHY.

Baca Juga:

Meskipun tidak bisa langsung 100 persen, AHY menegaskan angka tersebut bukanlah mustahil. Dari segi teknologi maupun sumber daya manusia (SDM), Indonesia memiliki putra-putri terbaik yang dapat diandalkan. “Lama kelamaan akan bisa 100% buatan Indonesia dan teknologi kita tidak ketinggalan karena kita punya engineer terbaik,” tuturnya yakin.

Terakhir, AHY mengingatkan bahwa untuk menjadi korporasi besar dunia di bidang EV, dibutuhkan tekad yang besar. Dengan modal SDM, teknologi, sumber daya alam, hingga kemauan yang besar, tak diragukan Indonesia bisa membangun industri EV.

“Bapak Presiden Prabowo Subianto menekankan kita harus memiliki tekad kuat menghadirkan industri otomotif nasional, dan semua bisa dimulai dengan transportasi berbasis listrik,” tutup AHY.

Dorongan untuk mengolah nikel sendiri ini sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri. Dengan membangun rantai pasok dari hulu ke hilir, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik global.

Industri baterai dan kendaraan listrik nasional diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru, mendorong transfer teknologi, serta mengurangi ketergantungan pada impor. Pemerintah terus mendorong investasi di sektor ini untuk mempercepat realisasi visi Indonesia sebagai pusat produksi EV dunia.

Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, optimisme AHY mencerminkan keyakinan bahwa Indonesia mampu bersaing di panggung global, asalkan ada kemauan politik dan investasi yang konsisten dalam pengembangan teknologi dan sumber daya manusia.