JBNews.id — NordVPN merilis daftar aplikasi yang dinilai paling buruk dalam menjaga privasi pengguna, dengan Facebook menempati posisi teratas karena melacak aktivitas pengguna bahkan setelah keluar dari platform. Temuan ini menjadi peringatan bagi pengguna smartphone di Indonesia yang hampir setiap hari berinteraksi dengan aplikasi-aplikasi tersebut, mengingat data pribadi seperti kontak, lokasi, hingga riwayat panggilan dapat dikumpulkan tanpa disadari.
Dalam laporan yang ditulis Lukas Ramonas dan dikutip dari situs resmi NordVPN, disebutkan bahwa ponsel yang digunakan sehari-hari menyimpan hampir seluruh kisah kehidupan penggunanya. Mulai dari daftar sahabat, kebiasaan belanja, selera humor, hingga konten yang dikonsumsi dari balik layar. Oleh karena itu, pemilihan aplikasi yang tepat menjadi langkah krusial dalam melindungi data pribadi.
Facebook: Pelacak Terbesar Aktivitas Pengguna
NordVPN menegaskan bahwa Facebook mungkin adalah aplikasi terburuk untuk privasi karena kemampuannya melacak pengguna di semua aplikasi dan situs web, bahkan saat pengguna sudah keluar dari akun. Aplikasi milik Meta ini membutuhkan hampir semua izin perangkat, termasuk kontak, riwayat panggilan, pesan teks, kamera, mikrofon, penyimpanan internal, Wi-Fi, hingga lokasi.
Menurut NordVPN, Facebook mengetahui kapan pengguna masuk dan berapa lama waktu yang dihabiskan di platform. Lebih jauh lagi, aplikasi ini melacak ke mana pengguna pergi dan apa yang mereka beli. Seluruh informasi tersebut dikumpulkan untuk menayangkan iklan yang ditargetkan secara spesifik kepada setiap pengguna.
Risiko ini semakin relevan mengingat banyak pengguna Indonesia yang menggunakan Facebook sebagai platform utama komunikasi dan informasi. Data yang terkumpul dapat dimanfaatkan untuk kepentingan komersial maupun hal lain yang tidak diinginkan pengguna.
Messenger: Pesan Pribadi Tanpa Enkripsi
Masih dari Meta, Facebook Messenger juga masuk dalam daftar aplikasi terburuk untuk privasi. NordVPN beranggapan aplikasi perpesanan ini tidak menggunakan enkripsi ujung-ke-ujung, sehingga pesan pribadi pengguna berpotensi disimpan dalam bentuk teks biasa di server mereka.
“Aplikasi perpesanan tersebut mungkin menyimpan pesan pribadi Anda dalam bentuk teks biasa di server mereka. Jika demikian, pesan tersebut dapat diakses oleh karyawan mana pun dengan kredensial login,” tulis NordVPN dalam laporannya.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi pengguna yang mengandalkan Messenger untuk komunikasi kerja maupun pribadi. Pesan yang dianggap privat bisa saja diakses oleh pihak internal perusahaan tanpa sepengetahuan pengguna.
Aplikasi Cuaca: Izin Lokasi yang Disalahgunakan
Aplikasi cuaca menjadi kategori ketiga yang dianggap buruk untuk privasi. Meskipun permintaan akses lokasi terdengar masuk akal karena aplikasi membutuhkan informasi tersebut untuk memberikan prakiraan cuaca, NordVPN menemukan bahwa setelah izin diberikan, aplikasi melacak lokasi pengguna selama 24 jam penuh.
Ada potensi besar aplikasi cuaca menjual data lokasi tersebut kepada pengiklan, yang dapat membahayakan keamanan dan privasi ponsel. Beberapa contoh aplikasi yang disebutkan antara lain AccuWeather, WeatherBug, dan The Weather Channel.
“Dan bukan hanya aplikasi cuaca yang perlu Anda khawatirkan. Bisa jadi aplikasi apa pun yang menyediakan berita lokal atau memberi tahu tentang acara di kota Anda atau memberi tahu Anda tentang restoran baru yang layak dikunjungi. Aplikasi-aplikasi tersebut mungkin mencoba mendapatkan data Anda untuk iklan berbasis lokasi,” sambung NordVPN.
Words with Friends: Game dengan Pengumpulan Data Masif
Game multiplayer Words with Friends juga masuk dalam daftar aplikasi terburuk untuk privasi. Zynga, perusahaan yang menciptakan game ini beserta FarmVille, melacak dan mencatat berbagai jenis data pribadi penting. Data yang dikumpulkan meliputi nama depan dan belakang, nama pengguna, jenis kelamin, usia dan tanggal lahir, email, kontak dari buku alamat, pembelian dalam game, semua konten yang diposting di papan pesan, isi obrolan antar pemain, ID Facebook, hingga perkiraan lokasi fisik.
“Mereka juga menggunakan cookie, beacon, tag piksel, clear gif, dan pengidentifikasi perangkat untuk melacak alamat IP, komputer atau perangkat seluler dan sistem operasi apa yang digunakan pemain untuk memainkan game mereka, alamat MAC, jenis dan bahasa browser,” tutur NordVPN.
Zynga bukanlah satu-satunya pelaku di pasar game mobile. Banyak pengembang melacak data pemain dan menjualnya kepada penawar tertinggi. Jika beruntung, data tersebut tidak dipersonalisasi, namun tidak ada jaminan keamanan.
Aplikasi Masa Depan: Risiko yang Belum Diketahui
NordVPN juga mengingatkan bahwa aplikasi apa pun yang mungkin akan diunduh di masa depan bisa menjadi ancaman privasi. Pada tahun 2014, terungkap bahwa NSA meretas game Angry Birds dan menyedot data pemain. Meskipun pengembang mengklaim kerentanan telah diperbaiki, pada tahun 2013 Komisi Perdagangan Federal menuntut aplikasi senter populer karena membagikan data lokasi dengan pihak ketiga tanpa persetujuan pengguna.
“Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa Anda tidak dapat mempelajari aplikasi privasi terburuk dari insiden masa lalu. Ketika kerentanan diketahui, kerentanan tersebut diperbaiki. Ketika aplikasi curang ditemukan, aplikasi tersebut diblokir dari Google Play dan App Store,” terang NordVPN.
“Anda perlu khawatir tentang kerentanan yang belum ditemukan. Tidak ada yang tahu aplikasi mana yang selanjutnya akan membocorkan data jutaan orang. Mungkinkah itu aplikasi populer seperti RedNote? Hanya waktu yang akan menjawabnya,” imbuhnya.
Ancaman keamanan aplikasi juga menjadi perhatian global, seperti kasus situs aplikasi palsu yang menyebar malware dan fitur AI baru pada aplikasi kamera yang menimbulkan pertanyaan keamanan baru.
Tips Mengamankan Perangkat dari Aplikasi Berbahaya
NordVPN membagikan beberapa tips untuk terhindar dari aplikasi yang dapat membahayakan privasi pengguna. Pertama, pengguna diharapkan mengecek review pada aplikasi yang ingin diinstal menggunakan beberapa sumber, tidak hanya satu. Kedua, perhatikan permission yang diminta dan pastikan sesuai dengan kebutuhan aplikasi.
Ketiga, jangan lupa memperbarui aplikasi secara berkala atau menghapusnya jika sudah tidak digunakan. Terakhir, opsi menggunakan VPN dapat dipertimbangkan karena setiap koneksi yang dibuat perangkat ke internet akan dienkripsi, termasuk aplikasi.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya privasi digital, pengguna diharapkan lebih selektif dalam memilih aplikasi dan memahami risiko yang menyertainya. Perlindungan data pribadi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan di era digital saat ini.




