3 Perusahaan Raksasa Digugat Kartel Harga RAM Global

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi modul RAM PC yang menjadi pusat krisis memori global
  • Tiga raksasa semikonduktor (Samsung, SK Hynix, Micron) digugat class action di Pengadilan Distrik AS pada 25 Juni 2026
  • Diduga membentuk kartel dengan sengaja memangkas produksi DRAM konvensional untuk mendongkrak harga
  • Harga RAM dan NAND telah meroket hingga 700% dalam empat tahun terakhir
  • Ketiga perusahaan menguasai sekitar 90% pasar DRAM global
  • Analis memperkirakan harga memori masih akan naik 30-40% pada Q4 2026
  • Normalisasi harga diprediksi baru terjadi pada tahun 2028
  • Ini bukan pertama kalinya, ketiga perusahaan memiliki rekam jejak kasus serupa di masa lalu

JBNews.id — Tiga raksasa semikonduktor dunia, Samsung, SK Hynix, dan Micron, resmi digugat dalam gugatan class action di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara California pada 25 Juni 2026. Mereka diduga membentuk kartel untuk mendongkrak harga RAM dan media penyimpanan (NAND) secara buatan.

Gugatan dengan nomor perkara Garciaguirre et al. v. Samsung Electronics Co., Ltd. et al. ini dilayangkan oleh 17 penggugat, terdiri dari individu serta pemilik bisnis kecil di bidang komputer seperti Troy’s Computers LLC dan JB Tech Solutions LLC. Para penggugat menuduh ketiga perusahaan yang menguasai sekitar 90% pasar DRAM global itu sengaja menciptakan kelangkaan pasokan buatan untuk mendongkrak harga.

Krisis memori global yang menyebabkan harga RAM meroket hingga 700% dalam empat tahun terakhir ini telah memberikan dampak signifikan bagi industri teknologi. Harga perangkat konsumen seperti laptop, PC gaming, hingga konsol game mengalami kenaikan yang signifikan karena produsen terpaksa membebankan biaya komponen mahal kepada pembeli. Kondisi ini juga memicu kenaikan harga gadget secara global.

Modus Dugaan Kartel

Inti dari dakwaan tersebut mencakup tiga poin utama. Pertama, koordinasi strategis: para penggugat menduga Samsung, SK Hynix, dan Micron secara sengaja memangkas produksi DRAM konvensional seperti DDR3 dan DDR4 secara bersamaan. Kedua, kedok “HBM”: ketiga perusahaan dituduh menggunakan lonjakan permintaan High Bandwidth Memory (HBM) untuk akselerator AI di pusat data sebagai tameng untuk menutupi pengurangan produksi RAM untuk konsumen umum.

Ketiga, kartel harga: penggugat berargumen bahwa dalam pasar yang benar-benar kompetitif, setidaknya satu produsen akan meningkatkan produksi untuk mengisi kekosongan pasokan dan meraih pangsa pasar. Namun, karena tidak ada yang melakukannya, mereka menduga adanya kesepakatan rahasia untuk menjaga harga tetap tinggi.

Ilustrasi RAM PC

Gugatan ini tidak muncul tanpa preseden. Ketiga perusahaan memiliki rekam jejak panjang dalam kasus hukum serupa. Pada tahun 2000-an, Samsung dan Hynix pernah dijatuhi hukuman denda ratusan juta dolar oleh otoritas AS setelah terbukti bersalah melakukan praktik “bid-rigging” dan penetapan harga DRAM. Pada tahun 2018, gugatan class action serupa pernah dilayangkan terkait lonjakan harga memori, meski saat itu kasusnya ditolak oleh pengadilan karena dianggap kurang cukup bukti adanya kesepakatan tertulis antarperusahaan.

Krisis memori yang disebut banyak kalangan sebagai “RAMpocalypse” ini telah memberikan dampak nyata bagi industri teknologi. Harga perangkat konsumen, mulai dari laptop seperti MacBook, PC gaming, hingga konsol game Xbox dan PlayStation, mengalami kenaikan harga yang signifikan. Apple naikkan harga perangkatnya akibat lonjakan biaya komponen memori ini.

Prospek Harga ke Depan

Meskipun ketiga perusahaan belum memberikan tanggapan resmi di pengadilan, pakar industri memperingatkan bahwa bukti dalam kasus ini akan sulit didapatkan. Pihak produsen kemungkinan besar akan berargumen bahwa peralihan produksi ke HBM adalah langkah bisnis yang logis karena permintaan pasar AI yang jauh lebih menguntungkan, bukan karena konspirasi.

Sementara proses hukum berjalan, pasar memori diprediksi masih akan mengalami tekanan harga yang berat. Analis dari Jefferies Equity Research memperkirakan harga memori akan kembali melonjak sebesar 30% hingga 40% pada kuartal keempat tahun 2026 ini. Harapan akan adanya normalisasi harga baru muncul pada tahun 2028, seiring dengan bertambahnya kapasitas pabrik baru dan mulai meredanya gila-gilaan investasi pusat data AI, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Jumat (3/6/2026).

Dampak dari krisis ini juga dirasakan oleh sektor lain. Krisis data center yang memicu permintaan listrik tinggi turut memperparah situasi, karena sekolah-sekolah diminta hemat listrik di tengah gelombang panas. Sementara itu, inovasi teknologi seperti robot humanoid di China juga menjadi sorotan di tengah krisis komponen global.

Bagi konsumen, implikasi dari kasus ini jelas: harga perangkat elektronik diprediksi masih akan tinggi setidaknya hingga dua tahun ke depan. Keputusan pengadilan nantinya dapat menjadi preseden penting bagi industri semikonduktor global, sekaligus menentukan apakah konsumen akan mendapatkan kompensasi atas lonjakan harga yang telah terjadi selama empat tahun terakhir.