Jbnews.id – Pesisir Pantai Timur Pangandaran, Jawa Barat, kembali diserbu sampah kiriman berupa kayu, ranting, dan potongan bambu. Dinas Lingkungan Hidup setempat mencatat volume sampah yang dibersihkan dan diangkut ke TPA mencapai sekitar 36 kubik per hari, di luar sampah dari kawasan wisata.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Pangandaran, Irwansyah, menyatakan fenomena ini sudah menjadi langganan setiap musim penghujan. Sampah tersebut berasal dari Sungai Citanduy yang terbawa arus hingga ke pesisir pantai di wilayah Kabupaten Pangandaran.
“Sudah menjadi langganan, setiap musim penghujan sepanjang pesisir pantai di wilayah Kabupaten Pangandaran diserbu oleh sampah kiriman,” ujar Irwansyah, Senin, 20 April 2026. Ia menambahkan, volume sampah kiriman bisa mencapai puluhan kubik per hari, sangat bergantung pada banyaknya material yang berserakan di pinggir pantai.
Data yang dirilis pihak dinas menunjukkan kontras yang signifikan. Biasanya, pengangkutan sampah dari kawasan objek wisata hanya sekitar enam kubik per hari. Kehadiran sampah kiriman dari sungai melonjakkan total volume sampah harian yang harus ditangani.
“Biasanya, kita hanya mengangkut sampah dari kawasan objek wisata itu paling sekitar enam kubik, tapi dengan adanya sampah kiriman bisa mencapai puluhan kubik per harinya,” jelas Irwansyah. Angka 36 kubik per hari merupakan beban tambahan di luar sampah reguler dari permukiman warga dan aktivitas wisata.
Fenomena tahunan ini menambah beban kerja operasional pembersihan pantai. Pemerintah Kabupaten Pangandaran melalui dinas terkait terus melakukan pembersihan dan pengangkutan rutin ke tempat pembuangan akhir untuk menjaga kondisi lingkungan pesisir.
Lokasi Pantai Pangandaran sebagai destinasi wisata utama menjadikan penanganan sampah kiriman ini sebagai prioritas. Akumulasi sampah yang tidak tertangani dengan cepat berpotensi mengganggu estetika lingkungan dan aktivitas pariwisata.
Aliran Sungai Citanduy yang bermuara di wilayah tersebut menjadi penyumbang utama material sampah organik seperti kayu dan bambu selama musim hujan. Pola ini terjadi secara konsisten setiap tahun, memerlukan penanganan struktural yang berkelanjutan.
Upaya pembersihan yang dilakukan saat ini masih bersifat kuratif, menunggu sampah terdampar di pantai sebelum diangkut. Volume harian yang fluktuatif menuntut kesiapan logistik dan tenaga kerja yang memadai dari dinas terkait.
Implikasi dari temuan ini menyoroti perlunya pendekatan terintegrasi dalam pengelolaan sampah daerah aliran sungai, tidak hanya di titik muara. Koordinasi antar wilayah menjadi kunci untuk mengurangi volume sampah kiriman yang mencapai pesisir Pantai Pangandaran setiap musim penghujan.




