Lokakarya Budaya Sambut Hari Lahir Pancasila di Bandung Barat

Penulis:Boy Ahmad
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Pengunjung mengenakan kain tradisional Sunda saat lokakarya budaya di Pasewakan Warugajati, Lembang
  • Lokakarya budaya digelar di Pasewakan Warugajati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat pada Minggu, 31 Mei 2026
  • Kegiatan diselenggarakan oleh komunitas Iteung Gugat dalam rangka menyambut Hari Lahir Pancasila
  • Pengunjung diajak merefleksikan relasi manusia dengan budaya, alam, dan spiritualitas berbasis kearifan lokal
  • Materi lokakarya meliputi penjelasan tentang sesaji (sajen) dan pengenalan kain tradisional Sunda
  • Tujuan kegiatan adalah memperkuat nilai kebangsaan dalam keberagaman

Jbnews.id – Komunitas Iteung Gugat menggelar lokakarya budaya di Pasewakan Warugajati, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (31/5/2026), dalam rangka menyambut Hari Lahir Pancasila. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi relasi manusia dengan budaya, alam, dan spiritualitas berbasis kearifan lokal untuk memperkuat nilai kebangsaan dalam keberagaman.

Acara tersebut dihadiri oleh puluhan pengunjung yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan, termasuk mendengarkan penjelasan tentang sesaji (sajen) dan mengenakan kain tradisional Sunda. Lokakarya ini dirancang sebagai forum interaktif untuk menggali kembali nilai-nilai luhur budaya lokal yang relevan dengan semangat Pancasila.

“Kami ingin menghadirkan ruang di mana masyarakat bisa merenungkan kembali hubungan mereka dengan budaya, alam, dan spiritualitas. Ini adalah bentuk kontribusi nyata untuk memperkuat identitas kebangsaan di tengah keberagaman,” ujar perwakilan komunitas Iteung Gugat dalam sambutannya.

Refleksi Budaya dan Spiritualitas

Lokakarya yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari itu menghadirkan berbagai sesi diskusi dan praktik budaya. Pengunjung diajak untuk memahami makna di balik tradisi sesaji sebagai simbol penghormatan kepada alam dan leluhur. Selain itu, peserta juga belajar tentang filosofi kain tradisional Sunda yang sarat akan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong.

Kegiatan ini sejalan dengan upaya pelestarian budaya yang juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Di sisi lain, isu revitalisasi budaya dan infrastruktur publik juga tengah menjadi sorotan di Jawa Barat. Seperti yang dilaporkan sebelumnya, DPRD Jabar menyoroti revitalisasi Gedung Sate dan Gasibu yang menelan anggaran Rp12 miliar. Upaya ini menunjukkan komitmen untuk menjaga warisan budaya dan sejarah di tengah modernisasi.

Lokakarya di Lembang ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan kearifan lokal kepada generasi muda. Dengan pendekatan partisipatif, peserta tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap prosesi budaya.

Memperkuat Nilai Kebangsaan

Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni menjadi momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai dasar bangsa. Komunitas Iteung Gugat memanfaatkan momen ini untuk mengajak masyarakat kembali ke akar budaya sebagai fondasi persatuan.

Dalam sesi diskusi, para narasumber menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara alam, spiritualitas, dan kehidupan sosial. Mereka menekankan bahwa kearifan lokal bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga solusi untuk tantangan kontemporer, termasuk krisis lingkungan dan degradasi moral.

Sementara itu, isu ketahanan energi dan pemanfaatan sumber daya alam juga menjadi perhatian di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sebelumnya mengajak warga untuk beralih ke energi alternatif. Dalam upaya mengatasi kenaikan harga elpiji, Dedi Mulyadi mendorong penggunaan biogas sebagai solusi ramah lingkungan dan ekonomis. Langkah ini menunjukkan sinergi antara pelestarian alam dan kebutuhan ekonomi masyarakat.

Lokakarya budaya di Lembang menjadi salah satu contoh bagaimana komunitas lokal dapat berperan aktif dalam memperkuat ketahanan sosial dan budaya. Kegiatan serupa diharapkan dapat terus digelar secara rutin untuk menjaga keberlanjutan nilai-nilai kebangsaan.

Antusiasme peserta terlihat dari interaksi aktif selama sesi tanya jawab. Banyak dari mereka yang mengaku mendapatkan perspektif baru tentang makna Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. “Saya jadi lebih paham bahwa Pancasila bukan hanya simbol, tapi harus dihayati melalui budaya dan tindakan nyata,” ujar salah satu peserta asal Bandung.

Acara ditutup dengan doa bersama dan pertunjukan seni tradisional Sunda. Komunitas Iteung Gugat berencana menggelar kegiatan serupa di lokasi lain di Jawa Barat untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Mereka berharap lokakarya ini dapat menjadi model bagi komunitas lain dalam merayakan Hari Lahir Pancasila dengan cara yang lebih kontekstual dan bermakna.

Lokakarya budaya ini membuktikan bahwa kearifan lokal masih relevan dan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman. Dengan pendekatan yang inklusif dan edukatif, kegiatan semacam ini layak didukung oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta.

Di tengah arus globalisasi, upaya pelestarian budaya seperti ini menjadi penting untuk menjaga identitas bangsa. Selain itu, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan budaya juga dapat menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan nilai-nilai Pancasila.