TikToker Dipolisikan Gara-gara Rekam Diam-Diam Pakai Kacamata Meta

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Kacamata pintar Ray-Ban Meta dengan kamera tersembunyi yang menjadi sorotan kasus perekaman diam-diam di Skotlandia
  • TikToker Scott Margerison (42) diselidiki Kepolisian Skotlandia usai rekam diam-diam warga pakai kacamata Meta
  • Video berisi komentar seksual ke remaja dan pernyataan rasis ke pemilik toko Sikh di Skye
  • Perekaman ilegal jika memenuhi unsur pelecehan, penguntitan, atau menimbulkan ketakutan
  • Meta menutup akun Margerison dan klaim punya sistem privasi sejak desain awal
  • Adam Mosseri akui pengguna coba "mengebor" lampu indikator, pembaruan terbaru membuat kacamata tak berfungsi
  • Kasus jadi preseden penting bagi industri kacamata pintar dan regulasi privasi

JBNews.id — Seorang TikToker asal Inggris diselidiki Kepolisian Skotlandia setelah menggunakan kacamata pintar Meta untuk merekam diam-diam warga saat perjalanan keliling Skotlandia. Video yang diunggah Scott Margerison, 42 tahun, menampilkan dirinya melontarkan kata kasar hingga komentar berbau seksual tentang perempuan muda.

Margerison membangun sebagian besar audiensnya di TikTok dengan nama samaran E Dobbin. Ia juga aktif di Instagram dan YouTube. Dalam videonya, ia kerap mendatangi orang asing dan memulai percakapan aneh. Akhir Juni lalu, ia mengelilingi Skotlandia menggunakan mobil.

Meski banyak videonya berisi gurauan biasa, sejumlah video memiliki sisi gelap. Dalam salah satu unggahannya, Margerison melontarkan komentar seksual mengenai penampilan dua remaja yang ia lihat saat mengendarai kendaraan memasuki kapal feri. Ia kemudian mengenakan kacamata Meta yang dilengkapi kamera kecil, keluar dari mobil van, dan mengajak kedua gadis remaja beserta orang tua mereka berbicara — tampaknya tanpa sepengetahuan mereka bahwa mereka sedang direkam.

Insiden paling meresahkan terjadi di Skye. Margerison mengatakan kepada seorang pemilik toko beragama Sikh berdarah India bahwa ada keberagaman yang “dipaksakan” di Eropa. Perempuan yang menjalankan toko dibantu anak perempuannya itu dengan sopan menyebut komentar Margerison merendahkan. Ia tinggal di Skye selama 20 tahun dan mengaku pertemuannya dengan Margerison terasa mengintimidasi. Ia menangis saat diberi tahu temannya bahwa video yang direkam diam-diam itu telah dipublikasikan di TikTok.

Kepolisian Skotlandia tengah meninjau rekaman tersebut. “Kami mengetahui video-video yang diunggah di internet dan saat ini mengkaji konten tersebut,” ujar juru bicara kepolisian setempat.

Legalitas Merekam Diam-Diam dengan Kacamata Meta

Legal atau tidaknya merekam diam-diam menggunakan kacamata Meta bergantung pada situasi. Perekaman bisa ilegal jika memenuhi unsur pelecehan, penguntitan, atau menimbulkan ketakutan. Seseorang yang direkam juga punya dasar mengajukan gugatan perdata apabila rekaman diambil dalam situasi di mana mereka memiliki ekspektasi privasi, contohnya di ruang ganti. Jika materi direkam sebagai bagian kegiatan komersial, UU perlindungan data dapat berlaku.

Kasus ini menegaskan kembali pentingnya regulasi perekaman tanpa izin. Di Indonesia, isu serupa pernah mencuat saat seorang pengunjung GIIAS melaporkan perekaman tanpa izin ke polisi, dan Menkomdigi menegaskan rekam tanpa izin melanggar UU Perlindungan Data Pribadi. Kasus Usher di GIIAS juga mendapat dukungan dari pengamat yang menilai perekaman tanpa izin tidak dapat ditoleransi.

Kacamata pintar telah bertransformasi menjadi teknologi arus utama dan makin sering dipasarkan sebagai asisten AI. Bentuknya seperti kacamata biasa, tapi dilengkapi kamera, mikrofon, serta dapat terhubung ke internet, biasanya dengan disambungkan ponsel. Meta dianggap pemain dominan, tapi perusahaan lain seperti Apple, Google, dan Samsung juga berinvestasi. Produsen menyoroti manfaatnya, misalnya penyandang gangguan penglihatan dapat melihat suatu objek dan bertanya: “Apa yang sedang saya lihat?”

Namun, potensi kacamata ini merekam orang tanpa sepengetahuan mereka memunculkan kekhawatiran privasi. Kacamata pintar Meta sendiri punya lampu yang menyala jika pengguna merekam, tapi kadang diakali. Kepala Instagram, Adam Mosseri, baru-baru ini mengakui bahwa beberapa pengguna telah mencoba “mengebor” lampu, tetapi ia mengklaim pembaruan terbaru membuat tindakan itu akan mengakibatkan kacamata tidak dapat berfungsi.

Meta menyatakan mereka aktif menyelidiki akun-akun Margerison dan menutupnya. “Masyarakat menggunakan kacamata kami karena alat ini benar-benar bermanfaat, mulai dari mendengarkan musik, terjemahan, hingga telepon hands-free,” cetus Meta yang dikutip dari BBC. “Bagi mereka yang mengenakannya maupun orang di sekitar mereka, kepercayaan adalah hal utama. Itulah sebabnya kami membangun sistem privasi ke kacamata AI kami sejak awal desain,” imbuhnya.

Upaya pencegahan perekaman nakal juga mulai dikembangkan oleh produsen lain. Samsung, misalnya, dikabarkan tengah mengembangkan kacamata pintar dengan sistem anti perekaman nakal untuk melindungi privasi pengguna di sekitarnya.

Dampak bagi Industri dan Konsumen

Kasus Margerison menjadi preseden penting bagi industri kacamata pintar yang sedang berkembang pesat. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan berbagai manfaat praktis — dari terjemahan real-time hingga telepon hands-free. Di sisi lain, potensi penyalahgunaan untuk perekaman diam-diam menimbulkan pertanyaan serius tentang batas privasi di ruang publik.

Bagi konsumen, kasus ini menjadi pengingat bahwa perekaman diam-diam memiliki konsekuensi hukum serius, baik di Skotlandia maupun yurisdiksi lain. Unsur pelecehan, penguntitan, atau menimbulkan ketakutan dapat menjadikan perekaman ilegal, terlepas dari teknologi yang digunakan. Sementara itu, bagi korban perekaman diam-diam, gugatan perdata dapat diajukan jika rekaman diambil dalam situasi dengan ekspektasi privasi.

Perkembangan teknologi perekaman juga merambah ke perangkat lain. Sebagai contoh, Nothing Ear (3a) yang resmi dirilis dengan kemampuan merekam meeting hingga 2 jam menunjukkan bagaimana fitur perekaman semakin terintegrasi dalam perangkat sehari-hari. Fitur serupa juga dihadirkan pada perangkat lain, seperti My Fancam di Galaxy Z Fold8 yang memudahkan merekam idola di konser.

Pertanyaan mendasar yang muncul: apakah regulasi mampu mengimbangi kecepatan inovasi teknologi? Kepolisian Skotlandia yang tengah mengkaji konten Margerison menunjukkan bahwa aparat penegak hukum mulai serius menangani pelanggaran privasi berbasis teknologi. Namun, tanpa kepastian hukum yang jelas, potensi penyalahgunaan kacamata pintar dan perangkat sejenis akan terus menjadi tantangan.

Bagi industri, kasus ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat sistem privasi sejak desain awal — seperti yang diklaim Meta. Produsen yang mampu membangun kepercayaan konsumen akan memenangkan persaingan jangka panjang. Sebaliknya, produsen yang abai terhadap aspek privasi berisiko kehilangan kepercayaan publik dan menghadapi tekanan regulasi yang lebih ketat.

Kepolisian Skotlandia belum mengumumkan langkah hukum lanjutan terhadap Margerison. Namun, kasus ini telah membuka diskusi global tentang batas penggunaan kacamata pintar di ruang publik — diskusi yang akan terus relevan seiring makin masifnya adopsi teknologi ini.