Spacex Saham IPO Anjlok, Hapus Semua Keuntungan Awal

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Iklan SpaceX di layar Times Square New York saat peluncuran IPO perusahaan pada Juni 2026
  • Saham SpaceX IPO anjlok hampir 17% pada Senin, 22 Juni 2026, kinerja harian terburuk sejak listing
  • Harga saham tembus di bawah harga perdana $150, mencapai level terendah $147
  • Kejatuhan ini menghapus seluruh keuntungan yang diraih sejak IPO pada 12 Juni 2026
  • Volatilitas dipicu oleh kesenjangan valuasi dengan fundamental bisnis dan aksi jual saham teknologi global
  • Perusahaan membakar miliaran dolar kas dan butuh dana besar untuk proyek pusat data orbital yang belum terbukti
  • Analis memperingatkan investor "memperdagangkan cerita" bukan fundamental, risiko volatilitas tinggi

JBNews.id — Saham SpaceX mengalami kejatuhan dramatis pada perdagangan awal pekan ini, dengan harga anjlok hingga nyaris 17 persen dalam sehari dan menembus di bawah harga perdana IPO-nya. Kondisi ini secara efektif menghapus seluruh keuntungan yang telah diraih perusahaan antariksa milik Elon Musk sejak melantai di bursa pada 12 Juni 2026.

Pada Senin lalu, saham SpaceX merosot tajam hampir 17 persen, menandai kinerja harian terburuk sejak perusahaan resmi menjadi perusahaan publik. Kejatuhan ini berlanjut hingga Selasa pagi, ketika harga saham sempat menyentuh level terendah sepanjang masa di angka lebih dari $147. Angka tersebut berada di bawah harga perdana IPO yang ditetapkan sebesar $150 per saham.

Setelah mencapai titik nadir, saham SpaceX sedikit memantul ke kisaran pertengahan $150. Meskipun demikian, level tersebut masih jauh di bawah puncak historis yang pernah dicapai hanya beberapa hari sebelumnya. Pada 12 Juni lalu, saham SpaceX melesat dari harga pembukaan $150 ke rekor tertinggi di atas $225, mendorong kapitalisasi pasar perusahaan mendekati angka $3 triliun.

Volatilitas ekstrem ini menjadi cerminan kesenjangan antara valuasi pasar yang melambung dan fundamental bisnis yang masih tertinggal. SpaceX, menurut data dalam laporan, telah membakar miliaran dolar kas dan kini berupaya mengumpulkan puluhan miliar dolar tambahan untuk mewujudkan ambisi pusat data orbital yang belum terbukti kelayakannya.

Iklan SpaceX ditampilkan di layar Times Square setelah peluncuran IPO perusahaan di New York pada 12 Juni 2026.

Kondisi ini mengingatkan banyak analis pada pola pergerakan saham Tesla, produsen kendaraan listrik yang juga dipimpin Musk, di mana valuasi kerap tidak sejalan dengan fundamental. Kesenjangan harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) yang lebar menjadi indikator utama kekhawatiran investor.

Koreksi Pasar Teknologi Global

Kejatuhan saham SpaceX tidak berdiri sendiri. Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan aksi jual besar-besaran di sektor teknologi global yang dipicu oleh ketakutan akan gelembung kecerdasan buatan (AI). Saham AMD merosot hampir lima persen pada perdagangan Selasa pagi, sementara raksasa chip AI Nvidia juga mengalami penurunan lebih dari 2,6 persen.

Korelasi ini menunjukkan bahwa SpaceX, meskipun beroperasi di sektor antariksa, tidak kebal terhadap sentimen negatif yang melanda saham-saham berbasis teknologi dan AI. Ambisi Musk yang menyandingkan kecerdasan buatan dengan eksplorasi antariksa justru menjadi pedang bermata dua di tengah keraguan pasar terhadap valuasi sektor AI.

Analis memperkirakan volatilitas SpaceX mungkin akan mereda dalam beberapa bulan mendatang setelah lebih banyak saham perusahaan terbuka untuk diperdagangkan. Namun, berdasarkan kinerja selama 11 hari terakhir, probabilitasnya tinggi bahwa investor akan menghadapi perjalanan yang penuh gejolak.

Fundamental vs. Spekulasi

Ketidaksesuaian antara ekspektasi pasar dan realitas bisnis SpaceX menjadi sorotan utama para pengamat. Perusahaan yang belum membukukan laba konsisten ini justru membutuhkan suntikan dana besar untuk proyek ambisius yang belum teruji secara komersial.

Chief investment officer One Point BFG Wealth Partners, Peter Boockvar, dalam wawancaranya dengan CNBC pekan lalu, memberikan perspektif yang relevan. Investor saat ini, menurutnya, sedang “memperdagangkan cerita, memperdagangkan aksi, memperdagangkan kegembiraan, dan memperdagangkan Elon Musk.” Namun, pada titik tertentu, fundamental harus sejalan dengan kegembiraan tersebut.

Pernyataan Boockvar ini menggarisbawahi dilema yang dihadapi investor SpaceX. Di satu sisi, ada daya tarik dari visi besar Musk dan potensi disruptif teknologi antariksa. Di sisi lain, realitas bisnis menunjukkan perusahaan masih jauh dari profitabilitas yang dapat diandalkan.

Bagi investor ritel maupun institusional, fluktuasi harga yang ekstrem ini menjadi pengingat keras bahwa risiko spekulasi di saham berbasis visi masa depan sangatlah tinggi. Keputusan investasi harus didasarkan pada analisis fundamental yang matang, bukan semata-mata pada popularitas figur pemimpin perusahaan atau narasi futuristik yang diusung.

Implikasinya jelas: pasar sedang menguji kembali sejauh mana toleransi investor terhadap ketidakpastian dan seberapa besar premi yang bersedia mereka bayar untuk ambisi yang belum terbukti. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah pergerakan saham SpaceX dalam jangka menengah hingga panjang.