Spacex IPO Saham Mulai Turun Usai Sentuh Rekor Tertinggi

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Elon Musk berbicara melalui video sebelum pembukaan perdagangan di Nasdaq untuk peluncuran IPO SpaceX
  • Saham SpaceX alami penurunan pertama sejak IPO, dari puncak US$222 ke US$200
  • Kapitalisasi pasar SpaceX mencapai US$2,6 triliun, mendekati nilai Amazon
  • Perusahaan masih membakar miliaran dolar, diperparah merger dengan xAI
  • Rencana Musk tempatkan 1 juta pusat data di orbit Bumi dianggap tidak layak ekonomi
  • Investor diingatkan akan volatilitas tinggi, mirip perjalanan saham Tesla

JBNews.id β€” Saham SpaceX mengalami penurunan pertama sejak debut di bursa saham pekan lalu, setelah sebelumnya melesat dan menyentuh level tertinggi di US$222 pada Selasa pagi. Penurunan ini menandai awal fase volatilitas bagi perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut di pasar modal.

SpaceX resmi melantai di bursa pada Jumat pekan lalu dengan valuasi yang langsung menembus US$2 triliun. Harga saham perdana dibuka di US$150, atau premium 11 persen dari harga penawaran awal. Pada hari-hari berikutnya, saham terus merangkak naik hingga menembus US$200 pada Selasa. Namun, setelah mencapai puncak di US$222, saham mulai terkoreksi dan ditutup di kisaran US$200 pada akhir hari perdagangan yang sama.

Fase koreksi ini menjadi pengingat bahwa meskipun SpaceX memiliki daya tarik luar biasa di mata investor, pergerakan sahamnya di bursa tetap tidak dapat diprediksi. β€œIni adalah titik infleksi yang menarik setelah IPO SpaceX akhirnya membuka pintu air,” tulis laporan tersebut, menggambarkan euforia awal yang kini mulai meredup.

Faktor di Balik Penurunan Minat Investor

Melambatnya antusiasme investor terhadap saham SpaceX memiliki sejumlah alasan mendasar. Dalam dokumen pengajuan ke Securities and Exchange Commission (SEC) sebelum IPO, SpaceX secara terbuka mengakui risiko besar yang melekat pada bisnisnya. Meskipun kapitalisasi pasar perusahaan saat ini mencapai lebih dari US$2,6 triliun, mendekati nilai pasar Amazon, SpaceX tercatat terus membakar uang dalam jumlah miliaran dolar.

Situasi keuangan ini diperparah oleh merger SpaceX dengan startup AI milik Musk, xAI, yang juga dikenal sebagai salah satu perusahaan dengan tingkat pembakaran kas tertinggi. Penggabungan ini menambah beban finansial yang sudah berat bagi perusahaan antariksa tersebut.

Selain itu, dalam dokumen SEC, SpaceX juga mengakui bahwa rencana ambisius Musk untuk menempatkan satu juta pusat data raksasa di orbit Bumi mungkin tidak layak secara ekonomi, apalagi secara fisik. Pernyataan ini membayangi aspirasi Musk yang dikenal sangat ambisius dan seringkali sulit direalisasikan.

Para analis Wall Street kini berada di wilayah yang belum pernah dijelajahi sebelumnya. Mereka berdiri di belakang visi berani Musk, tetapi tanpa pemahaman yang jelas tentang model bisnis yang realistis atau jal menuju profitabilitas. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian yang tinggi bagi pergerakan saham ke depannya.

Dampak bagi Investor dan Pasar

Penurunan saham SpaceX ini menjadi pelajaran berharga bagi investor yang baru pertama kali berinvestasi di perusahaan tersebut. Seperti yang dialami oleh investor Tesla, perjalanan saham SpaceX diprediksi akan penuh dengan liku-liku dan volatilitas tinggi.

Meskipun demikian, euforia investor masih terasa. Banyak yang merasa senang bisa menjadi bagian dari sejarah perusahaan antariksa pertama yang melantai di bursa. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat risiko fundamental yang melekat pada bisnis SpaceX.

Bagi investor ritel yang baru bergabung setelah IPO, penting untuk memahami bahwa valuasi setinggi US$2,6 triliun tidak serta-merta menjamin keuntungan jangka panjang. Data dari laporan keuangan SpaceX menunjukkan bahwa perusahaan masih membutuhkan waktu untuk mencapai profitabilitas yang stabil.

Kondisi ini juga berdampak pada karyawan SpaceX yang tiba-tiba menjadi miliarder atau jutawan setelah IPO. Fluktuasi harga saham akan mempengaruhi nilai kekayaan mereka secara langsung. Bagi investor institusional, volatilitas ini menjadi pertimbangan serius dalam strategi alokasi aset mereka.

Ke depannya, pergerakan saham SpaceX akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk mewujudkan visi besarnya dan mencapai profitabilitas. Investor harus siap menghadapi perjalanan yang penuh tantangan, mirip dengan apa yang dialami oleh Tesla di masa-masa awal.

Bagi pasar modal Indonesia, fenomena IPO SpaceX ini menjadi referensi penting tentang bagaimana valuasi perusahaan teknologi tinggi bisa sangat fluktuatif. Investor lokal yang tertarik berinvestasi di saham SpaceX melalui platform global perlu memahami risiko ini dengan baik.

Seiring berjalannya waktu, pasar akan terus memantau perkembangan SpaceX, termasuk rencana ekspansi bisnisnya, kinerja keuangan, dan kemampuan untuk memenuhi target ambisius yang telah ditetapkan. Sampai saat itu tiba, volatilitas diperkirakan akan menjadi ciri khas saham SpaceX di bursa.

Para pengamat pasar menyarankan investor untuk tidak terlalu terbawa euforia jangka pendek dan fokus pada fundamental jangka panjang perusahaan. Dengan kapitalisasi pasar yang sudah sangat besar, ruang untuk pertumbuhan eksponensial mungkin semakin terbatas, setidaknya dalam jangka pendek.

Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa IPO bukanlah jaminan kesuksesan. Banyak perusahaan dengan valuasi tinggi saat IPO justru mengalami kesulitan mempertahankan harga sahamnya dalam jangka panjang. SpaceX, dengan segala ambisinya, harus membuktikan bahwa valuasi setinggi itu sepadan dengan kinerja riil perusahaan.