JBNews.id — Chairman dan CEO SoftBank Group, Masayoshi Son, menyatakan kesiapannya menggelontorkan dana hingga USD 5 triliun atau setara Rp 89 ribu triliun setiap tahunnya untuk mewujudkan revolusi kecerdasan buatan (AI) di masyarakat. Komitmen ini disampaikan Son dalam konferensi tahunan SoftBank di Tokyo, di tengah kekhawatiran pasar akan adanya gelembung AI.
Son meyakini bahwa pengembangan dan penerapan AI untuk masyarakat luas akan membutuhkan biaya fantastis tersebut hingga tahun 2040. Ia mengaku yakin angka tersebut mencerminkan biaya nyata dari sebuah revolusi AI. Alasannya sederhana: jika pendapatan terkait AI pada akhirnya menyumbang 20% dari PDB global pada tahun 2040, maka pengeluaran USD 5 triliun per tahun untuk mencapainya hanyalah nilai yang sangat kecil.
Berbekal keyakinan tersebut, Son menepis mentah-mentah narasi tentang adanya gelembung AI. Menurutnya, mempertanyakan hal itu adalah sebuah gagasan konyol, dan orang-orang yang melontarkannya sama sekali tidak memahami apa itu AI. Dalam kesempatan terpisah, Son juga menyebut bahwa tuduhan gelembung AI adalah tidak masuk akal.
Keyakinan di Tengah Kekhawatiran Pasar
SoftBank selama beberapa tahun terakhir memang menjadi salah satu pendukung paling antusias terhadap AI generatif dan chatbot. Mereka telah berinvestasi besar-besaran di OpenAI dan beberapa unicorn AI lainnya. Son bahkan sempat memprediksi bahwa Artificial General Intelligence (AGI) sejati akan terwujud pada tahun 2030.
Meski Son sangat percaya diri, pasar memiliki kekhawatirannya sendiri. SoftBank memang pernah mencetak sejarah manis dengan memberikan investasi awal kepada raksasa China, Alibaba, dan membawa iPhone ke pasar Jepang. Namun, konglomerat ini juga pernah melakukan kesalahan fatal yang merugikan, seperti kasus WeWork yang divaluasi USD 47 miliar pada 2019 namun berujung bangkrut.
Beberapa survei menunjukkan bahwa banyak CEO secara pribadi meyakini gelembung AI itu nyata, namun mereka tetap berinvestasi karena dihantui rasa takut tertinggal (FOMO). Di sisi lain, analis Deutsche Bank menyebut bahwa ledakan AI saat ini mungkin menjadi satu-satunya hal yang menjaga ekonomi AS dari jurang resesi. Namun, hampir setengah dari proyek data center di AS yang direncanakan rampung pada 2026 terancam molor dari jadwal, ditambah dengan ketidakpastian geopolitik global.
Baca Juga:
Visi Ekstrem: Era Dominasi Agen AI
Visi paling ekstrem yang dilontarkan Son adalah mengenai masa depan peradaban. Dalam satu setengah dekade ke depan, ia percaya bahwa agen AI akan mengambil alih kendali kehidupan, dengan jumlah mencapai 100 triliun agen pada tahun 2040.
“Kita akan beralih dari dunia yang berpusat pada manusia menjadi dunia yang berpusat pada agen. Era di mana manusia menjadi bentuk kehidupan tertinggi di Bumi akan berakhir. Baik atau buruk, hal itu akan terjadi, dan tidak bisa dihentikan,” pungkas Son, demikian dikutip dari Techspot.
Revolusi AI ini bisa jadi memberikan SoftBank aliran keuntungan masif layaknya “Alibaba kedua”, atau justru berubah menjadi gelembung dot-com raksasa yang siap menghanguskan dunia finansial. Di tengah ketidakpastian ini, Son tetap teguh pada pendiriannya bahwa investasi besar-besaran adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan masa depan AI. Ia bahkan menegaskan bahwa tuduhan gelembung AI adalah sebuah penistaan terhadap kemajuan teknologi.
Implikasinya bagi pembaca: investasi besar SoftBank ini akan mempercepat adopsi AI di berbagai sektor, mulai dari layanan pelanggan hingga manufaktur. Namun, risiko kegagalan juga tidak bisa diabaikan, terutama jika proyeksi pendapatan tidak sesuai harapan. Bagi pelaku industri dan investor, perkembangan ini menandakan bahwa persaingan di sektor AI akan semakin ketat, dan hanya perusahaan dengan strategi jangka panjang yang akan bertahan.




