Seniman Global Lawan AI: Gugatan Hak Cipta dan Dampaknya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi seniman memegang spanduk protes melawan AI dengan latar belakang logo perusahaan teknologi
  • Puluhan seniman global menggugat perusahaan AI seperti Meta, Google, dan Anthropic atas pelanggaran hak cipta
  • Kasus Bartz v. Anthropic menghasilkan penyelesaian $1,5 miliar, yang terbesar dalam kasus hak cipta
  • Sarah Andersen memimpin gugatan terhadap Stability AI dan Midjourney sejak Januari 2023
  • Sam Kogon menggugat Google atas pelanggaran persyaratan layanan YouTube untuk AI Lyria
  • Hakim memutuskan penggunaan buku legal untuk AI sebagai fair use, menuai kritik
  • Para seniman khawatir AI mengancam mata pencaharian dan kreativitas manusia

JBNews.id — Gelombang protes dari para seniman global terhadap perusahaan kecerdasan buatan (AI) semakin memanas. Puluhan penulis, musisi, dan ilustrator menggugat perusahaan teknologi raksasa seperti Meta, Google, dan Anthropic atas pelanggaran hak cipta, menandai babak baru dalam pertarungan antara kreativitas manusia dan algoritma mesin.

Kirk Wallace Johnson, seorang penulis nonfiksi, adalah salah satu dari banyak seniman yang merasa dikhianati. Karyanya, termasuk The Feather Thief dan The Fishermen and the Dragon, yang ia riset selama lima hingga enam tahun, ditemukan telah dibajak dan digunakan untuk melatih chatbot. “Saya merasakan campuran emosi: kemarahan atas pencurian yang begitu berani, kekhawatiran tentang apa artinya ini bagi para penulis, dan rasa haus yang sehat akan balas dendam terhadap perusahaan-perusahaan raksasa ini,” ujarnya.

Gugatan ini tidak hanya menyasar satu perusahaan. Para seniman telah melayangkan tuntutan hukum terhadap Stability AI, Midjourney, DeviantArt, Runway AI, Meta, Google, dan Anthropic. Kasus-kasus ini mayoritas berfokus pada pelanggaran hak cipta, meskipun beberapa mencari jalur lain seperti pelanggaran persyaratan layanan. Perjalanan hukum ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dengan beberapa kasus berakhir damai dan lainnya masih berlarut-larut.

Kronologi Pertarungan Hukum

Ilustrator Sarah Andersen menjadi salah satu pelopor perlawanan. Ia menggugat Stability AI, Midjourney, DeviantArt, dan Runway AI pada Januari 2023, hanya beberapa bulan setelah generator gambar Stable Diffusion dan Midjourney dirilis. Kasus ini masih berjalan hingga kini. Andersen menggambarkan webcomic-nya, Sarah’s Scribbles, sebagai “kulminasi kompleks dari pendidikan saya, komik yang saya lahap semasa kecil, dan banyak pilihan kecil yang membentuk hidup saya.” Ia merasa “dilanggar” karena karyanya direduksi menjadi sekadar algoritma.

Penulis Andrea Bartz, novelis terkenal dengan buku We Were Never Here dan The Spare Room, menjadi penggugat utama dalam kasus melawan Anthropic. “Saya merasa dilanggar, terkejut, waspada,” katanya. “Saya memiliki respons emosional yang besar ketika melihat bahwa sesuatu yang telah saya kerjakan selama bertahun-tahun dan curahkan hati dan jiwa saya hanyalah salah satu dari ratusan ribu atau mungkin jutaan buku yang dicuri perusahaan teknologi besar untuk melatih algoritma mereka.”

Musisi Sam Kogon memimpin gugatan terhadap Google atas mesin AI musik Lyria. Ia menuduh Google melanggar persyaratan layanannya sendiri dengan menggunakan data YouTube untuk melatih AI. “Mereka merendahkan karya kami,” kata Kogon. “Mereka memberikannya secara gratis kepada orang-orang. Itu akan memutus hak dan memberdayakan banyak musisi.”

Kemenangan dan Tantangan di Pengadilan

Meskipun banyak gugatan, hasilnya masih beragam. Dalam kasus Bartz v. Anthropic, perusahaan dinyatakan melanggar hak cipta dengan menggunakan ebook bajakan dari internet untuk melatih model Claude. Anthropic harus membayar ganti rugi sebesar $1,5 miliar, yang merupakan penyelesaian terbesar dalam kasus hak cipta, dan setuju untuk menghancurkan ebook bajakan tersebut.

Namun, dalam kasus yang sama, Hakim William Alsup memutuskan bahwa penggunaan buku yang dibeli secara legal untuk melatih LLM (Large Language Model) memenuhi syarat sebagai fair use karena bersifat “secara fundamental transformatif.” Keputusan ini menuai kritik dari Bartz. “Saya sangat tidak setuju dengan hakim pada bagian putusan itu. Saya sangat berharap pengadilan masa depan akan melihat cahaya,” ujarnya.

Dalam kasus Kadrey v. Meta, hakim menolak banyak klaim awal para penulis karena gagal menunjukkan bukti kerugian pasar. Namun, sejumlah klaim yang lebih sempit, berfokus pada pelanggaran hak cipta dan penggunaan materi bajakan, masih berjalan. Para penggugat berargumen bahwa “sementara buku yang dihasilkan AI mungkin tidak akan berpengaruh besar pada pasar karya Agatha Christie, mereka dapat mencegah Agatha Christie berikutnya untuk dikenal atau menjual cukup buku untuk terus menulis.”

Krystle Delgado, pengacara hiburan dan kekayaan intelektual yang memimpin kasus melawan Suno dan Udio, optimistis. “Sekarang dengan perusahaan-perusahaan ini, mereka sangat gugup,” katanya. “Tidak hanya mereka digugat, tetapi pengadilan dan hakim tampaknya mulai berpihak pada kami, dan pengadilan opini publik juga.” Jajak pendapat menunjukkan bahwa masyarakat setidaknya menginginkan transparansi dalam penggunaan AI.

Kasus-kasus ini menyoroti ketegangan mendasar antara inovasi teknologi dan perlindungan karya kreatif. Sementara perusahaan AI berargumen bahwa penggunaan data publik untuk pelatihan adalah transformatif dan dilindungi oleh fair use, para seniman melihatnya sebagai pencurian sistematis yang mengancam mata pencaharian mereka. Pertarungan ini diperkirakan akan terus berlanjut dan membentuk lanskap industri kreatif di masa depan. Untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana AI mengubah cara kita berinteraksi, Anda bisa membaca artikel tentang Pacaran dengan AI.

Implikasinya jelas: para seniman tidak hanya berjuang untuk kompensasi finansial, tetapi juga untuk pengakuan bahwa karya mereka bukan sekadar data yang bisa dieksploitasi. “Ada begitu banyak uang yang dihabiskan untuk memasarkan kepada kita gagasan bahwa AI tidak bisa dihindari,” kata Bartz. “Itu sangat meyakinkan, sangat keras, dan sangat meresap. Tapi saya hanya ingin mendorong orang untuk berpikir tentang kerusakan yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini pada seni, pemikiran kritis kita, lingkungan kita, ekonomi dunia, saat mereka terus mengumpulkan kekuasaan dan uang.”

Pertarungan ini bukan sekadar soal hukum, melainkan tentang masa depan kreativitas manusia di era digital. Para seniman berharap bahwa kemenangan di pengadilan akan menetapkan preseden yang melindungi hak-hak mereka dan memastikan bahwa inovasi teknologi tidak mengorbankan nilai-nilai fundamental seperti orisinalitas dan karya intelektual. Sementara itu, perusahaan AI terus berinovasi, menciptakan teknologi baru yang semakin canggih, seperti yang terlihat dalam Fitur Terbaru Spotify.