Samsung-Google Smart Glasses: 9 Jam Baterai, Empat Desain

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Smart glasses Samsung Google kolaborasi dengan Gentle Monster dan Warby Parker dengan desain kotak hitam
  • Samsung dan Google resmi perkenalkan dua desain baru smart glasses hasil kolaborasi dengan Gentle Monster dan Warby Parker
  • Total empat varian bingkai tersedia: model kotak hitam (Gentle Monster) dan model bulat merah-cokelat (Warby Parker), melengkapi dua model dari I/O
  • Daya tahan baterai mencapai 9 jam sekali pengisian, dengan casing pengisi daya memberikan 7 kali pengisian tambahan
  • Ditenagai chip Qualcomm Snapdragon AR1 Gen 1, sama dengan smart glasses terbaru Meta
  • Fitur AI: ringkasan pesan, terjemahan langsung, panduan navigasi, analisis visual dari kamera
  • Dukungan asisten AI: Google Gemini dan Samsung Bixby
  • Terdapat LED perekam yang mencegah perekaman jika terhalang, namun isu privasi masih menjadi tantangan
  • Samsung menggambarkan produk ini sebagai "premium," harga dan tanggal rilis belum diumumkan
  • Peluncuran dijadwalkan musim gugur 2026

JBNews.id — Samsung dan Google resmi memperkenalkan dua desain baru smart glasses hasil kolaborasi mereka, lengkap dengan spesifikasi awal termasuk daya tahan baterai hingga sembilan jam dalam sekali pengisian. Perangkat yang dikembangkan bersama merek kacamata Gentle Monster dan Warby Parker ini dijadwalkan meluncur pada musim gugur tahun ini.

Dua desain baru tersebut melengkapi dua model yang sebelumnya diperkenalkan di ajang Google I/O pada Mei lalu. Kini total empat varian bingkai tersedia: satu model kotak berwarna hitam dari Gentle Monster, dan satu model lebih membulat dengan warna merah-cokelat dari Warby Parker. Jaein Choi, wakil presiden eksekutif yang memimpin divisi mobile experience Samsung, mengatakan kepada CNBC bahwa masih ada “lebih banyak desain” yang akan menyusul.

Ini menjadi kesempatan pertama bagi publik untuk melihat langsung keempat bingkai tersebut, meskipun Samsung tidak mengizinkan pengguna untuk mencobanya — atau bahkan mendekatkannya ke wajah. Semua bingkai terasa sangat ringan, tidak jauh lebih berat dari kacamata akrilik tebal yang biasa digunakan, dan ukurannya pun hampir tidak lebih besar.

Speaker dan mikrofon disembunyikan di sepanjang gagang kacamata. Satu tombol berada di sisi kanan, sakelar daya tersembunyi di dalam sisi kiri, dan tentu saja ada kamera serta LED perekam yang terpasang di bagian depan. Mirip dengan kolaborasi Meta dengan Ray-Ban dan Oakley, kacamata ini pada dasarnya terlihat seperti kacamata biasa yang akan dengan senang hati dipakai kebanyakan orang — terlepas dari implikasi privasi yang menyertainya.

Spesifikasi dan Fitur Unggulan

Smart glasses ini akan ditenagai oleh chip Qualcomm Snapdragon AR1 Gen 1, silikon yang sama yang digunakan pada smart glasses terbaru Meta. Samsung mengklaim perangkat ini dapat berjalan hingga sembilan jam dalam sekali pengisian daya, sementara casing pengisi daya yang disertakan memberikan hingga tujuh kali pengisian tambahan.

Pengguna dapat menggunakan Google Gemini atau Bixby milik Samsung dengan kacamata ini. Fitur AI yang ditawarkan terdengar cukup familiar: ringkasan pesan, terjemahan langsung, panduan navigasi, serta analisis atau deskripsi dari apa yang ditangkap kamera. Seperti halnya produk Meta, terdapat LED perekam yang menyala saat kamera merekam video.

Choi mengatakan kepada Bloomberg bahwa, seperti produk Meta, kacamata ini akan mencegah perekaman jika mendeteksi LED telah terhalang atau tertutup. Langkah tersebut belum cukup untuk mencegah produk Meta dicap sebagai “kacamata mesum,” sehingga perlu dilihat apakah Samsung dan Google memiliki rencana lain untuk menangani apa yang disebut Choi sebagai “masalah bersama industri.”

Harga dan Ketersediaan

Samsung masih belum mengungkapkan tanggal rilis atau harga pasti untuk kacamata terbaru ini. Namun, Choi menggambarkannya sebagai produk “premium.” Dengan spesifikasi yang diusung dan kolaborasi dengan merek kacamata ternama, harga yang ditawarkan diprediksi akan berada di segmen atas.

Persaingan di pasar smart glasses semakin ketat. Meta melalui kolaborasinya dengan Ray-Ban telah lebih dulu merilis produk serupa. Kini Samsung dan Google hadir dengan pendekatan yang mirip namun dengan sentuhan desain yang lebih beragam dan dukungan ekosistem yang lebih luas.

Kehadiran smart glasses ini menandai langkah serius Samsung dan Google dalam merambah pasar wearable berbasis AI. Dengan daya tahan baterai yang impresif dan desain yang mendekati kacamata biasa, keduanya berupaya mengatasi salah satu hambatan utama adopsi teknologi ini: estetika dan kenyamanan.

Namun, isu privasi tetap menjadi tantangan. Fitur LED perekam yang dapat dideteksi jika terhalang belum sepenuhnya meyakinkan publik. Choi mengakui bahwa ini adalah masalah bersama industri yang perlu diatasi. Belum jelas apakah Samsung dan Google memiliki solusi tambahan selain mekanisme deteksi tersebut.

Dari segi performa, penggunaan chip Qualcomm Snapdragon AR1 Gen 1 yang sama dengan produk Meta menunjukkan bahwa Samsung dan Google mengincar performa yang setara, jika tidak lebih baik. Dukungan dua asisten AI — Google Gemini dan Bixby — memberikan fleksibilitas bagi pengguna yang sudah berada di ekosistem masing-masing.

Fitur seperti ringkasan pesan, terjemahan langsung, dan panduan navigasi menjadi nilai tambah yang signifikan untuk produktivitas sehari-hari. Analisis visual dari kamera juga membuka kemungkinan penggunaan yang lebih luas, seperti identifikasi objek atau tempat.

Meskipun demikian, tanpa harga dan tanggal rilis yang pasti, konsumen masih harus menunggu. Choi yang menggambarkan produk ini sebagai “premium” memberikan indikasi bahwa harganya tidak akan murah. Ini sejalan dengan strategi Samsung yang kerap memposisikan produk barunya di segmen atas sebelum perlahan-lahan menurunkan harga.

Kolaborasi dengan Gentle Monster dan Warby Parker juga menjadi nilai jual tersendiri. Kedua merek ini dikenal dengan desain kacamata yang stylish dan berkualitas. Dengan empat varian bingkai yang tersedia, konsumen memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan produk kompetitor.

Implikasi dari peluncuran ini cukup jelas: pasar smart glasses semakin kompetitif. Meta telah membuka jalan, dan kini Samsung serta Google siap bersaing dengan pendekatan yang lebih terintegrasi. Bagi konsumen, ini berarti lebih banyak pilihan dan inovasi. Namun, isu privasi tetap menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Dengan daya tahan baterai sembilan jam, desain yang ringan, dan fitur AI yang canggih, Samsung dan Google tampaknya serius ingin merebut pangsa pasar wearable. Apakah mereka akan berhasil? Jawabannya akan terlihat setelah produk ini resmi meluncur dan diuji oleh publik.

Bagi pengguna yang tertarik dengan teknologi wearable dan AI, smart glasses ini layak untuk dinantikan. Namun, bagi mereka yang khawatir dengan privasi, mungkin perlu menunggu ulasan lebih lanjut mengenai bagaimana Samsung dan Google menangani potensi penyalahgunaan kamera.

Perkembangan ini juga relevan dengan tren AI China yang lebih murah yang mulai dilirik perusahaan global. Sementara Samsung dan Google mengandalkan chip Qualcomm buatan AS, alternatif dari China menawarkan biaya lebih rendah yang bisa mempengaruhi harga jual akhir produk smart glasses di masa depan.

Selain itu, isu keamanan dan privasi yang dihadapi smart glasses ini mengingatkan pada diskusi yang lebih luas tentang pengawas AI global yang diusulkan CEO DeepMind. Regulasi yang ketat mungkin diperlukan untuk memastikan teknologi seperti ini tidak disalahgunakan.

Dengan segala kelebihan dan tantangannya, smart glasses Samsung-Google menjadi salah satu produk yang paling dinantikan di tahun ini. Inovasi desain, daya tahan baterai, dan integrasi AI yang ditawarkan bisa menjadi game changer di pasar wearable. Namun, keberhasilan produk ini pada akhirnya akan ditentukan oleh bagaimana konsumen meresponnya — terutama dalam hal harga dan kepercayaan terhadap privasi.