JBNews.id — Saham SpaceX anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah pada awal pekan ini setelah uji terbang Starship yang ke-13 pada Jumat lalu mencatat hasil yang ambigius. Harga saham sempat menyentuh USD 108,66, turun lebih dari 20 persen dari harga IPO di USD 135, dan kurang dari setengah rekor tertingginya di atas USD 225 per saham.
Uji terbang yang berlangsung di Boca Chica, Texas, itu menjadi ujian krusial bagi SpaceX karena merupakan uji coba pertama sejak perusahaan melakukan penawaran umum perdana (IPO) pada awal musim panas 2026. Hasilnya, meskipun panggung atas (upper stage) Starship berhasil mencapai luar angkasa dan mendarat di Samudra Hindia tanpa meledak, panggung bawah (booster) mengalami kegagalan serius.
Dari 13 mesin yang seharusnya menyala saat booster kembali ke Bumi, hanya sepuluh mesin yang berfungsi. Akibatnya, booster tidak dapat memperlambat laju jatuhnya dan menghantam Teluk Meksiko dengan keras, tampak meledak saat tumbukan. Kegagalan ini menjadi sorotan tajam investor yang kini mengevaluasi setiap keputusan bisnis SpaceX secara ketat.
“Salah satu keuntungan menjadi perusahaan privat adalah tidak ada pasar yang ikut menilai dan mengevaluasi keputusan bisnis,” ujar David Meier, analis investasi senior di Motley Fool, kepada The Washington Post. “Menjadi perusahaan publik berarti semuanya akan dievaluasi dan informasi akan ditransmisikan melalui harga pasar. Setiap peluncuran SpaceX, setiap keputusan Starlink, dan setiap keputusan xAI akan diawasi oleh pasar.”
Tekanan Investor di Pasar Publik
Tekanan yang dihadapi SpaceX saat ini mencerminkan realitas baru sebagai perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan secara bebas. Sebelum akhir pekan, saham SpaceX anjlok ke level USD 115, dan pada Senin pagi turun lebih dalam ke USD 108,66 sebelum stabil di sekitar USD 110.
Penurunan ini terjadi meskipun banyak pihak menyebut uji terbang terbaru sebagai sebuah kemajuan. Faktanya, panggung atas Starship berhasil mengerahkan satelit Starlink ke orbit—sebuah pencapaian pertama dalam program Starship yang sebelumnya hanya menggunakan satelit palsu. Satelit-satelit tersebut sempat beroperasi secara singkat sebelum terbakar sesuai rencana.
Namun, kegagalan booster sulit diabaikan. Tanpa kemampuan mendaratkan booster secara utuh, Starship tidak akan dapat digunakan kembali (reusable), yang merupakan elemen krusial untuk membuat kendaraan raksasa ini layak secara ekonomi sebagai alat angkut muatan besar ke orbit dan sekitarnya.
Baca Juga:
Kinerja Keuangan dan Janji Ambisius Elon Musk
SpaceX tidak pernah mencatatkan profit sejak berdiri. Tahun lalu saja, perusahaan kehilangan USD 5 miliar. Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa pengembangan roket adalah proses yang rumit dan mahal, tanpa jaminan bahwa kemajuan akan berjalan linier.
Di tengah tekanan pasar, Elon Musk terus membuat janji-janji ambisius yang sulit dipenuhi. Ia menyatakan bahwa SpaceX akan menggunakan Starship untuk menempatkan pusat data di luar angkasa hingga menciptakan “matahari yang sadar” (sentient sun), serta mendirikan koloni di Bulan dan Mars. Setiap kegagalan kini akan dibandingkan dengan tolok ukur yang sangat tinggi tersebut.
“Masa depan perusahaan bergantung pada kemampuan untuk membuat Starship bekerja,” kata Clayton Swope, wakil direktur Proyek Keamanan Aerospace, kepada WaPo. “Yang mereka coba lakukan adalah beralih ke kereta barang dan mendapatkan skala ekonomi dari sesuatu yang sebesar itu.”
Analis menilai bahwa sebagian besar liputan media tentang uji terbang terbaru justru bernada positif. Namun, ironisnya, sentimen positif tersebut tidak cukup untuk menahan laju penurunan saham. Hal ini menunjukkan bahwa investor publik memiliki ekspektasi yang lebih tinggi dan lebih cepat dibandingkan dengan liputan media.
Kegagalan booster menjadi pengingat bahwa pengembangan teknologi luar angkasa masih merupakan “eksperimen ilmiah yang sangat panjang dan mahal,” seperti yang diungkapkan oleh para analis. Investor pada dasarnya diminta untuk terus mengucurkan dana ke dalam proyek yang belum terbukti profitabilitasnya dalam jangka pendek.
Di sisi lain, uji terbang ke-13 ini juga mencatat kemajuan signifikan. Pada uji terbang V3 pertama di bulan Mei, panggung atas kehilangan beberapa mesin saat menuju luar angkasa. Kali ini, tidak ada mesin yang mati. Panggung atas juga selamat saat mendarat di Samudra Hindia, sesuatu yang oleh para insinyur SpaceX disebut sebagai masuk kembali (reentry) terbaik Starship sejauh ini.
Namun, kemajuan teknis tersebut belum mampu meyakinkan pasar. Saham SpaceX terus tertekan, dan banyak investor mulai mempertanyakan apakah model bisnis perusahaan yang mengandalkan pengembangan roket eksperimental dapat berkelanjutan di bawah tekanan pasar publik.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa SpaceX juga tengah menjajaki berbagai peluang bisnis baru, termasuk menjual daya komputasi ke Pentagon untuk keperluan AI militer. Namun, langkah diversifikasi tersebut belum cukup untuk mengalihkan perhatian investor dari masalah utama di bisnis inti mereka.
Dengan harga saham yang kini hanya setengah dari rekor tertingginya, SpaceX menghadapi tantangan berat untuk membuktikan bahwa model bisnisnya layak secara komersial. Investor publik kini menanti bukti nyata bahwa Starship dapat beroperasi secara ekonomis, bukan sekadar janji-janji ambisius yang belum terbukti.
[CONTENT_END]




