Saham Google Anjlok Akibat Bos AI Hengkang ke Pesaing

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Kantor Google di Mountain View, California, dengan logo perusahaan
  • Saham Alphabet (Google) turun 5% pada Senin, penurunan terbesar sejak Mei 2025
  • Dua petinggi AI Google hengkang: Noam Shazeer ke OpenAI, John Jumper ke Anthropic
  • John Jumper adalah peraih Nobel 2024 dan pencipta AlphaFold
  • CEO Microsoft Satya Nadella menyebut pasar AI telah menjadi komoditas
  • Alphabet telah menghimpun USD 141 miliar utang dan ekuitas untuk AI
  • Gangguan layanan Gmail dan YouTube turun memperburuk sentimen

JBNews.id — Saham Alphabet, perusahaan induk Google, mengalami penurunan paling tajam dalam lebih dari setahun setelah dua petinggi bidang kecerdasan buatan (AI) hengkang ke perusahaan pesaing. Saham ditutup turun sekitar 5% pada Senin waktu AS, lebih buruk dibanding raksasa teknologi lain, dan merupakan penurunan terbesar sejak anjlok 7% pada Mei 2025.

Kepergian dua tokoh kunci ini memicu kekhawatiran investor terhadap masa depan AI Google. Pekan lalu, Wakil Presiden Teknik Google sekaligus salah satu pimpinan proyek AI Gemini, Noam Shazeer, mengumumkan keluar untuk bergabung dengan OpenAI. Shazeer baru kembali ke Google pada Agustus 2024 setelah sebelumnya meninggalkan perusahaan pada 2021 untuk mendirikan Character.AI.

Tak lama berselang, John Jumper, Vice President DeepMind, juga mengumumkan kepergiannya setelah sembilan tahun mengabdi. Jumper yang memenangkan Hadiah Nobel bersama Demis Hassabis pada 2024 ini bergabung dengan Anthropic, pesaing utama Google di bidang AI. Jumper dikenal sebagai salah satu pencipta AlphaFold, AI yang memprediksi lebih dari 200 juta struktur protein dan memangkas waktu riset biologi hingga bertahun-tahun.

Kekhawatiran Investor dan Pernyataan CEO Microsoft

Penurunan saham juga dipicu pernyataan CEO Microsoft, Satya Nadella, dalam wawancara dengan Wall Street Journal. Nadella menyerukan agar industri tidak terlalu bergantung pada ‘Raksasa-raksasa AI’ dan menyebut pasar AI kini telah menjadi komoditas. Hal ini menjadi kekhawatiran baru bagi investor Alphabet yang telah menggelontorkan dana besar untuk AI.

Alphabet menghimpun USD 141 miliar dalam bentuk utang dan ekuitas sejak Oktober untuk mendanai pengembangan AI. Perusahaan terus berupaya membuktikan bahwa ekosistem AI yang terintegrasi secara vertikal mampu menghasilkan keuntungan. Namun, jika model AI menjadi lebih murah dan mudah digantikan, investor mulai mempertanyakan apakah pengeluaran besar tersebut membangun keunggulan kompetitif atau justru menekan margin keuntungan.

Di tengah gejolak ini, pengguna Google pada hari Senin juga melaporkan gangguan pemadaman layanan pada Gmail dan YouTube. Gangguan ini menambah sentimen negatif terhadap saham perusahaan yang sedang tertekan. Fenomena serupa juga terjadi di sektor teknologi global, di mana pasar teknologi global terkoreksi akibat sentimen negatif.

Kepergian dua petinggi AI ini terjadi hanya beberapa minggu setelah Google meluncurkan produk AI baru, termasuk Gemini 3.5 Flash dan agen AI Gemini Spark, pada konferensi pengembang I/O. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Google terus berinovasi, tantangan internal berupa retensi talenta utama masih menjadi masalah serius.

Investor kini menanti langkah Google untuk mengisi posisi strategis yang ditinggalkan. Tanpa figur kunci seperti Shazeer dan Jumper, kemampuan Google untuk mempertahankan posisinya di puncak inovasi AI patut dipertanyakan. Sementara itu, pesaing seperti OpenAI dan Anthropic justru semakin diperkuat dengan kehadiran para ahli dari Google.

Implikasinya bagi pasar, persaingan di industri AI semakin ketat. Perusahaan yang sebelumnya dianggap tak tergoyahkan kini harus menghadapi kenyataan bahwa talenta terbaik bisa hengkang kapan saja. Bagi investor, ini menjadi sinyal untuk lebih selektif dalam menilai prospek jangka panjang perusahaan teknologi besar. Fenomena ini juga memperkuat tren saham IPO anjlok di sektor teknologi yang terjadi belakangan ini.

Penurunan saham Google juga menjadi pengingat bahwa dominasi di bidang AI tidak bisa dipertahankan hanya dengan modal besar. Inovasi dan kemampuan mempertahankan talenta terbaik menjadi faktor kunci. Alphabet yang telah menginvestasikan dana besar harus segera membuktikan bahwa strateginya tepat di tengah tekanan pasar yang semakin meningkat.