Robot Bawah Es Temukan 60 Juta Sarang Ikan di Antartika

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi pemandangan es di Antartika dengan latar langit biru dan gunung es
  • Robot bawah laut LASSIE dari Alfred Wegener Institute (AWI) Jerman konfirmasi 60 juta sarang ikan es di bawah Filchner Ice Shelf, Laut Weddell
  • Koloni pertama ditemukan 2021, seluas 240 km persegi (hampir sebesar Pulau Malta)
  • Spesies yang ditemukan adalah Jonah's icefish (Neopagetopsis ionah) dengan darah transparan tanpa hemoglobin
  • Misi berlangsung 48 jam non-stop dengan kamera resolusi tinggi dan sensor lingkungan
  • Kondisi koloni saat ini stabil, namun pemantauan jangka panjang diperlukan karena ancaman perubahan iklim
  • Temuan jadi dasar ilmiah untuk mendorong pembentukan Marine Protected Area (MPA) di Laut Weddell

JBNews.id — Sebuah robot bawah laut berhasil mengonfirmasi keberadaan koloni raksasa berisi sekitar 60 juta sarang ikan di bawah lapisan es Antartika. Temuan ini memperkuat status kawasan tersebut sebagai salah satu lokasi berkembang biak ikan terbesar yang pernah ditemukan di Bumi.

Misi tersebut dilakukan oleh tim dari Alfred Wegener Institute (AWI), Jerman, menggunakan kendaraan bawah laut otonom bernama LASSIE (Low-Altitude Survey System for Icefish). Robot itu menjelajahi dasar laut selama 48 jam tanpa henti di bawah Filchner Ice Shelf, Laut Weddell, untuk memantau kondisi koloni ikan es (icefish).

“LASSIE menghabiskan 48 jam memantau dasar laut di bawah Filchner Ice Shelf dan mengonfirmasi bahwa koloni dengan sekitar 60 juta sarang aktif masih tetap berada di sana,” demikian laporan AWI yang dikutip Daily Galaxy.

Koloni tersebut pertama kali ditemukan pada 2021 ketika para peneliti menjelajahi dasar Laut Weddell menggunakan sistem kamera bawah laut. Saat itu mereka menemukan hamparan sarang ikan yang membentang sekitar 240 kilometer persegi, hampir seluas Pulau Malta. Berdasarkan kepadatan sarang, jumlahnya diperkirakan mencapai 60 juta.

Kini, melalui misi LASSIE, para ilmuwan memastikan kawasan tersebut masih menjadi habitat aktif bagi Jonah’s icefish (Neopagetopsis ionah), spesies ikan khas Antartika yang dikenal memiliki darah hampir transparan karena tidak menggunakan hemoglobin seperti kebanyakan ikan.

Misi LASSIE tidak hanya bertujuan menghitung jumlah sarang, tetapi juga memahami bagaimana perubahan lingkungan memengaruhi koloni tersebut. Robot bawah laut itu dilengkapi kamera resolusi tinggi dan berbagai sensor untuk mengukur suhu, kadar garam, kandungan oksigen, hingga arus laut di sekitar sarang ikan. Data tersebut membantu peneliti mengetahui apakah perubahan iklim mulai memengaruhi salah satu ekosistem paling unik di Antartika.

Menurut tim peneliti, kondisi koloni saat ini masih relatif stabil. Namun, pemantauan jangka panjang tetap diperlukan karena perubahan suhu laut maupun mencairnya lapisan es berpotensi mengubah habitat ikan tersebut.

Keberadaan koloni raksasa ini menunjukkan bahwa ikan es memiliki peran jauh lebih besar dalam rantai makanan Antartika daripada yang diperkirakan sebelumnya. Saat koloni itu pertama kali ditemukan, Autun Purser, ahli biologi laut dari Alfred Wegener Institute sekaligus penulis utama penelitian awal, mengaku timnya tidak menyangka akan melihat pemandangan tersebut.

“Kami memperkirakan hanya akan melihat dasar laut Antartika seperti biasa. Namun selama empat jam pertama penyelaman, yang kami lihat tidak lain hanyalah sarang-sarang ikan,” kata Purser.

Temuan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar ilmiah untuk mendorong pembentukan kawasan konservasi laut (Marine Protected Area/MPA) di Laut Weddell agar habitat koloni ikan ini tetap terlindungi dari aktivitas manusia di masa depan.

Sarang ikan di Antartika

Penggunaan robot bawah laut seperti LASSIE oleh AWI menunjukkan bagaimana teknologi otonom semakin vital dalam penelitian ekstrem. Dalam konteks berbeda, robot humanoid juga mulai dikembangkan untuk interaksi sosial, seperti yang diperkenalkan di China dengan kemampuan mengenali emosi manusia.

LASSIE sendiri dirancang khusus untuk misi bawah es, berbeda dengan robot humanoid yang memiliki 25 derajat kebebasan pada tangannya. Perbedaan ini menunjukkan spesialisasi teknologi robotik untuk kebutuhan yang sangat spesifik.

Implikasi dari temuan ini sangat luas. Bagi para ilmuwan, data dari LASSIE memberikan gambaran nyata tentang ketahanan ekosistem Antartika di tengah ancaman perubahan iklim. Bagi pembuat kebijakan, temuan ini memperkuat urgensi pembentukan MPA di Laut Weddell untuk melindungi salah satu koloni ikan terbesar di Bumi.

Dengan konfirmasi bahwa 60 juta sarang masih aktif, para peneliti kini memiliki dasar data yang kuat untuk pemantauan jangka panjang. Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa habitat unik ini tetap terlindungi dari dampak aktivitas manusia dan perubahan iklim global.