JBNews.id — Microsoft melaporkan lonjakan laba besar pada kuartal terakhir, tetapi divisi game-nya justru mencatat kinerja sebaliknya. Pendapatan Xbox anjlok hingga USD 1,7 miliar atau sekitar Rp 30,6 triliun sepanjang tahun fiskal 2026, memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masih berlanjut.
Berdasarkan laporan Microsoft yang dikutip Kotaku, Senin (3/8/2026), pendapatan konten dan layanan Xbox untuk kuartal keempat perusahaan anjlok 10%, diikuti penurunan 13% pada penjualan konsol Xbox. Sementara itu, biaya operasional justru meningkat 8% pada periode yang sama.
“Pendapatan Xbox menurun sebesar USD 1,7 miliar atau 7%, didorong oleh penurunan konten dan layanan Xbox serta perangkat keras Xbox,” demikian pernyataan resmi Microsoft dalam laporan tahun fiskalnya.
Penurunan ini terjadi di tengah pertumbuhan Game Pass yang disebut-sebut mampu mengimbangi tren negatif tahunan. Namun, penjualan perangkat keras menjadi faktor pemberat utama setelah mengalami penurunan tajam sebesar 29%.

Biaya Operasional dan Margin Tertekan
Kepala keuangan Microsoft, Amy Hood, menjelaskan bahwa penurunan ini terjadi karena investasi besar yang dilakukan perusahaan dalam penelitian dan pengembangan, serta adanya penurunan nilai aset. Dampaknya terlihat jelas: pendapatan operasional turun 14% dan margin operasional merosot hingga 21%.
Angka-angka keuangan yang kurang menggembirakan tersebut menjadi pemicu pemangkasan besar-besaran di internal Xbox. Sekitar 1.600 karyawan terkena PHK yang prosesnya masih berlangsung selama 12 bulan ke depan.
CEO Xbox yang baru, Asha Sharma, telah mengisyaratkan perubahan arah investasi perusahaan ke depan. Strategi barunya mencakup pemangkasan studio-studio kecil yang mengerjakan game-game khusus, kemudian memfokuskan sumber daya pada franchise besar seperti The Elder Scrolls dan Fallout.
Baca Juga:
Akuisisi Activision Blizzard dan Tekanan Harga
Kinerja keuangan yang buruk ini terjadi setelah tahun yang sangat berat bagi Call of Duty: Black Ops 6. Microsoft tercatat membayar lebih dari USD 70 miliar untuk mengakuisisi Activision Blizzard pada 2023, sebuah operasi penerbitan multi-unit bisnis yang jauh lebih besar daripada studio-studio pihak pertama Xbox.
Selain beban akuisisi, Xbox juga menderita akibat kenaikan harga berulang pada konsolnya. Kondisi ini diperparah oleh persaingan dari penyedia layanan cloud berbasis AI yang diinvestasikan Microsoft dengan puluhan miliar dolar. Xbox Series X kini dijual seharga USD 750, naik 33% dari harga peluncurannya pada tahun 2020.
Di tengah krisis yang terjadi, perusahaan saat ini tengah berupaya menghadirkan konsol barunya yang diberi nama Project Helix ke pasar. Namun, laporan internal menyebutkan bahwa setiap penjualan konsol baru Xbox masih merugi, sehingga sulit untuk melihat bagaimana perusahaan dapat mulai merebut kembali pangsa pasar konsol dalam kondisi saat ini.
Kondisi ini kontras dengan pencapaian kompetitor di industri yang sama. Steam cetak rekor pendapatan Rp 201 triliun di 2026, menunjukkan bahwa pasar game secara keseluruhan masih tumbuh. Sementara itu, kinerja Telkomsel semester I 2026 mencatat pendapatan Rp 55,6 triliun, membuktikan bahwa sektor digital secara luas masih sehat.
Bagi Microsoft, tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana menyeimbangkan investasi di tengah tekanan finansial. Perusahaan juga harus mempertimbangkan strategi arus kas negatif yang kerap menjadi dilema perusahaan teknologi besar, sebagaimana terlihat pada kasus Tesla Q2 2026.
Implikasi dari penurunan ini cukup jelas bagi para pengamat industri: Xbox harus melakukan konsolidasi internal yang signifikan sebelum mampu bersaing kembali. Fokus pada franchise besar seperti The Elder Scrolls dan Fallout menjadi sinyal bahwa Microsoft memilih strategi aman dengan IP yang sudah terbukti, alih-alih mengambil risiko pada properti baru.
Dengan margin operasional yang terus merosot dan biaya yang meningkat, tekanan terhadap manajemen baru Xbox akan semakin besar. Keputusan Asha Sharma untuk memangkas studio kecil dan fokus pada franchise besar akan menjadi ujian pertama kepemimpinannya dalam mengembalikan divisi game Microsoft ke jalur pertumbuhan.
Para pemegang saham dan pengamat industri kini menunggu langkah konkret Microsoft dalam menghadapi krisis ini. Apakah Project Helix mampu menjadi penyelamat, atau justru menjadi beban tambahan bagi divisi yang sedang terpuruk, hanya waktu yang bisa menjawab.




