JBNews.id — Forum pertama tentang kekuatan komunikasi peradaban China di Beijing menyerukan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara bijak untuk memperluas jangkauan budaya, namun para pakar juga memperingatkan risiko bias algoritma yang dapat mengikis keaslian nilai budaya.
Forum yang digelar pada Rabu (10/6) bertepatan dengan Hari Internasional untuk Dialog Antarperadaban ini diselenggarakan oleh International Institute of Chinese Studies dari Beijing Foreign Studies University (IICS-BFSU). Acara satu hari tersebut menjadi platform bagi para akademisi untuk berbagi pandangan mengenai komunikasi internasional peradaban China dan mengeksplorasi jalur baru dalam mendorong pertukaran budaya global.
Niu Xiping, wakil presiden International Confucian Association, dalam pidato pembukaannya menyatakan bahwa kebangkitan AI telah menjadi variabel baru dalam penelitian dan promosi peradaban China. Menurutnya, teknologi ini secara mendalam membentuk kembali lanskap pertukaran antar peradaban dunia. “AI dapat membantu kita menembus hambatan besar bahasa dan budaya, memungkinkan nilai inti peradaban China dikenal secara global dengan cepat,” ujar Niu, yang menyebut fenomena ini sebagai “kesempatan yang belum pernah ada sebelumnya” bagi peradaban China.
Penerapan AI di Dunhuang, pusat penting Jalur Sutra kuno di Provinsi Gansu, China barat laut, menjadi contoh konkret yang diangkat dalam forum tersebut. Akademi Dunhuang telah mengembangkan “Gua Perpustakaan Digital” (Digital Library Cave), sebuah platform daring yang memungkinkan publik global menjelajahi peninggalan budaya Gua Perpustakaan di Gua Mogao—sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO—secara digital. Didukung perangkat AI canggih, platform ini memungkinkan pengguna menerjemahkan teks klasik ke berbagai bahasa hanya dengan satu klik dan bertanya langsung kepada asisten AI untuk mendapatkan penjelasan.
Tian Weiwei, ahli dari IICS-BFSU, menambahkan bahwa berbagai inovasi berbasis AI lainnya tengah dikembangkan untuk menanamkan vitalitas baru ke dalam budaya Dunhuang. Inovasi tersebut mencakup menghidupkan mural kuno lewat animasi hingga mengolah kembali partitur musik berusia ratusan tahun menjadi melodi modern.
Di balik praktik budaya berbasis AI tersebut terdapat fondasi industri teknologi yang kuat di China. Data menunjukkan bahwa pada 2025, China memiliki lebih dari 6.000 perusahaan AI, sementara nilai output industri inti AI diperkirakan melampaui 1,2 triliun yuan (sekitar 176 miliar dolar AS), mencerminkan kenaikan hampir 30 persen secara tahunan (year on year/yoy). Berdasarkan pencapaian tersebut, China berkomitmen melaksanakan inisiatif “AI Plus” dan memanfaatkan AI untuk memberdayakan semua sektor, termasuk budaya, sesuai dengan Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030).
Baca Juga:
Namun, optimisme terhadap AI tidak serta-merta tanpa catatan. Xu Chang’an, ahli dari sekolah Partai Komite Liga Hinggan dari Partai Komunis China (CPC), mengingatkan bahwa tantangan baru muncul seiring potensi AI untuk pemberdayaan. “Bias algoritma AI dapat menyebabkan kesalahan penafsiran budaya dan mengikis keaslian budaya kita,” katanya. Pernyataan ini sejalan dengan peringatan serius yang sebelumnya disampaikan oleh berbagai pakar AI global mengenai risiko bias dalam sistem kecerdasan buatan.
Xu Baofeng, kepala Fakultas Sinologi dan Studi China (College of Sinology and Chinese Studies) di Universitas Bahasa dan Budaya Beijing (Beijing Language and Culture University), menggemakan kekhawatiran tersebut. Dalam wawancaranya dengan Xinhua, dia menyatakan bahwa alat AI terkadang gagal memberikan analisis dan penjelasan yang akurat tentang peradaban China karena kurangnya model penyelarasan lintas bahasa.
Menanggapi masalah ini, Xu Baofeng dan tim penelitinya bekerja sama dengan para sinolog di luar negeri untuk mengembangkan model penyelarasan lintas bahasa. Model ini dirancang untuk menafsirkan dengan lebih baik pengetahuan dan sistem nilai peradaban China dalam berbagai bahasa, serta memperkuat saling pengertian antara China dan seluruh dunia. Upaya ini menjadi krusial mengingat bahaya klaim berlebihan terhadap kemampuan AI yang perlu diwaspadai.
Niu Xiping, dalam pidatonya, menyampaikan sikap seimbang yang menjadi benang merah forum tersebut. “Kita tidak boleh merasa optimistis yang berlebihan terhadap AI, tetapi juga tidak boleh menghindari teknologi tersebut,” ujarnya. “Menghadapi tren yang tidak dapat diubah, penting untuk melakukan lebih banyak penelitian tentang bagaimana memanfaatkan kekuatan AI untuk mempromosikan peradaban China.”
Forum ini menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan pesat teknologi, pendekatan yang hati-hati dan berbasis riset tetap diperlukan agar AI benar-benar menjadi alat yang memperkuat, bukan mengikis, warisan budaya peradaban.




