NASA Deteksi Air Hangat Raksasa, Sinyal El Nino 2026 Menguat

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi fenomena El Nino dengan visualisasi suhu permukaan laut yang hangat di Samudra Pasifik
  • NASA dan mitra Eropa deteksi penumpukan air hangat raksasa di Samudra Pasifik
  • Satelit Sentinel-6 Michael Freilich lacak gelombang Kelvin sebagai sinyal El Nino
  • El Nino 2026 mulai sedikit lebih lambat tapi mulai mengejar ketertinggalan
  • Dampak meliputi perubahan curah hujan, kekeringan, dan banjir global
  • Fenomena puncak diperkirakan antara November 2026 dan Januari 2027
  • Indonesia berpotensi alami musim kemarau lebih panjang dan krisis air

JBNews.id — Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan mitranya di Eropa tengah melacak penumpukan besar air hangat di Samudra Pasifik yang menjadi sinyal kuat kedatangan fenomena El Nino pada akhir tahun 2026. Data dari satelit Sentinel-6 Michael Freilich menunjukkan hamparan luas air hangat tidak biasa telah mencapai perairan di lepas pantai Amerika Selatan.

Fenomena ini dapat berdampak sangat luas, membawa curah hujan berlebihan ke beberapa wilayah, sementara membuat wilayah lainnya menjadi luar biasa kering. Pergeseran pola cuaca tersebut berpotensi memengaruhi sektor pertanian, transportasi, sumber daya air, dan perekonomian di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Satelit NASA Lacak Gelombang Kelvin

Satelit Sentinel-6 Michael Freilich, yang diluncurkan tahun 2020 oleh NASA dan dipimpin oleh ESA (Badan Antariksa Eropa) untuk Program Copernicus Uni Eropa, memiliki peran krusial dalam pemantauan ini. Satelit tersebut mengukur ketinggian permukaan laut di seluruh samudra dunia setiap 10 hari dengan tingkat presisi hingga sepersekian inci. Salah satu tugas utamanya adalah memantau fitur perairan hangat yang dikenal sebagai gelombang Kelvin, yang terkait erat dengan perkembangan El Nino.

Gelombang Kelvin biasanya dimulai ketika pola angin di wilayah Pasifik ekuator ujung barat secara singkat berbalik arah. Alih-alih angin timur yang biasanya bertiup dari timur ke barat, justru angin barat yang berkembang. Dikombinasikan dengan melemahnya angin timur secara lebih luas di khatulistiwa, kondisi ini menyebabkan perairan tropis di Pasifik barat menghangat dan permukaan laut pun naik. Gelombang air hangat yang dihasilkan kemudian bergerak ke timur melintasi Pasifik selama beberapa minggu. Ketika mencapai Amerika Selatan, suhu samudra dan permukaan laut di dekat pantai meningkat secara signifikan.

El Nino terbentuk ketika beberapa gelombang Kelvin ini terjadi selama periode berbulan-bulan, menyebabkan air hangat menumpuk dalam jumlah besar. Dalam misi terbarunya, NASA juga terus memantau berbagai fenomena antariksa, termasuk Maraton 42,2 Km yang berhasil diselesaikan oleh robot Perseverance di permukaan Mars.

Perbandingan dengan El Nino Sebelumnya

“Meskipun fenomena tahun ini dimulai sedikit lebih lambat dari El Nino besar pada tahun 2015 dan 1997, fenomena ini mulai mengejar ketertinggalannya,” ujar Josh Willis, peneliti di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di California Selatan. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa potensi kekuatan El Nino 2026 tidak bisa dianggap remeh.

Istilah El Nino sendiri sudah ada sejak tahun 1600-an, ketika nelayan menyadari bahwa kondisi samudra yang lebih hangat sering memuncak sekitar hari Natal. Mereka menyebut fenomena ini El Nino, bahasa Spanyol untuk “anak laki-laki,” yang merujuk pada kelahiran bayi Yesus. Perairan yang lebih hangat saat itu membuat tangkapan ikan mereka berkurang drastis.

Dampak El Nino terhadap Cuaca Global

Saat suhu permukaan laut meningkat di Pasifik tengah dan timur, hal ini dapat mengubah sirkulasi atmosfer dunia. Salah satu efek pentingnya adalah pergeseran aliran jet yang memengaruhi jalur pergerakan badai. Akibatnya, beberapa wilayah mungkin mengalami curah hujan atau hujan salju lebih lebat, sementara wilayah lain mengalami kondisi luar biasa panas dan kering.

Jangkauan geografis dari dampak-dampak tersebut sangat bergantung pada seberapa kuat fenomena El Nino terjadi. El Nino yang lebih moderat, seperti yang dimulai tahun 2018 dan 2023, menyebabkan kekeringan dan banjir terutama di dalam dan di sekitar wilayah Pasifik tropis. Sementara peristiwa yang lebih kuat, termasuk El Nino 2015-2016, dampaknya jauh lebih luas, seperti berkontribusi terhadap kekeringan di Afrika dan banjir besar di California.

Fenomena El Nino biasanya mencapai puncaknya antara bulan November dan Januari, yang berarti butuh beberapa bulan lagi sebelum keseluruhan dampak pada tahun ini terlihat jelas. “Setiap El Nino berbeda. Namun, fenomena ini hampir selalu menyebabkan datangnya tahun yang panas dan perubahan besar curah hujan di berbagai belahan dunia,” ujar peneliti permukaan laut JPL Severine Fournier, yang juga wakil ilmuwan proyek untuk Sentinel-6 Michael Freilich.

Dalam konteks eksplorasi antariksa yang lebih luas, NASA juga tengah mengerjakan berbagai proyek ambisius, termasuk Misi Aeolus ke Mars yang digarap oleh Relativity Space.

Implikasi untuk Indonesia

Bagi Indonesia, yang terletak di wilayah tropis dan dekat dengan Samudra Pasifik, dampak El Nino biasanya dirasakan dalam bentuk musim kemarau yang lebih panjang dan kering. Hal ini dapat mengancam ketahanan pangan, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta menyebabkan krisis air bersih di berbagai daerah.

Pemerintah dan berbagai pihak terkait diharapkan dapat melakukan langkah antisipasi dini. Pemantauan data dari satelit seperti Sentinel-6 Michael Freilich menjadi sangat penting untuk memberikan informasi akurat mengenai perkembangan fenomena ini. Dengan memahami skala dan kekuatan El Nino yang akan datang, berbagai sektor dapat mempersiapkan diri untuk meminimalkan dampak negatifnya.

Dengan data yang terus dikumpulkan oleh NASA dan ESA, dunia kini memiliki alat yang lebih baik untuk memprediksi dan bersiap menghadapi fenomena iklim ekstrem ini. Implikasi faktualnya jelas: pemantauan berkelanjutan dan kesiapsiagaan adalah kunci untuk menghadapi perubahan cuaca global yang dipicu oleh El Nino 2026.