JBNews.id — Mark Zuckerberg gagal membangkitkan semangat karyawan Meta setelah gelombang PHK massal. Proposal hackathon perusahaan pada Juli justru mendapat penolakan keras dari pekerja yang kelelahan.
Meta Platforms Inc. kembali menghadapi krisis internal serius. Dalam memo internal yang dikutip Wired pada Jumat pekan lalu, CEO Mark Zuckerberg mengumumkan rencana menggelar hackathon AI tingkat perusahaan pada Juli mendatang. Respons yang diterima justru sebaliknya: karyawan secara terbuka menolak ajakan tersebut.
Seorang karyawan menulis dalam pesan internal, “Saya benar-benar sibuk menjaga tim saya tetap bertahan. Saya tidak punya insentif untuk berpartisipasi, apalagi waktu untuk melakukannya.” Karyawan lain menambahkan bahwa perusahaan tidak lagi mendukung budaya hackathon karena “orang-orang diminta menanggung lebih banyak pekerjaan dengan dukungan lebih sedikit sementara rekan kerja mereka di-PHK.”
Kondisi ini terjadi setelah Meta melakukan PHK besar-besaran pada bulan lalu. Sekitar 8.000 pekerja atau sepuluh persen dari total tenaga kerja perusahaan dirumahkan sebagai bagian dari restrukturisasi fokus AI yang kacau. Mereka yang tersisa kini dipaksa melakukan pekerjaan kasar untuk melatih model AI, sebuah tugas mingguan yang sudah membuat beberapa dari mereka frustrasi.
Upaya Simbolis yang Salah Sasaran
Dalam upaya meredakan ketegangan, Zuckerberg menawarkan akses meja permanen kepada karyawan. Langkah simbolis ini justru secara tidak sengaja menggambarkan betapa mudahnya banyak dari mereka menjadi tidak diperlukan. Banyak karyawan Meta selama ini bekerja dari “hot desks,” skema kontroversial di mana beberapa pekerja berbagi meja yang sama.
Seorang pekerja menulis, “Saya pernah berpartisipasi dalam hackathon sebelumnya, tapi ini tidak lagi terasa seperti pilihan di samping sprint pod di bagian perusahaan saya.” Pernyataan ini mencerminkan beban kerja yang semakin berat di tengah pengurangan staf.
Hasil Minim di Tengah Pengorbanan Besar
Meskipun karyawan menanggung penderitaan besar, Meta justru memiliki sedikit hasil yang bisa ditunjukkan. Perusahaan terus tersandung, kesulitan merilis model AI baru yang mengesankan sementara pesaing melaju lebih jauh dalam perlombaan AI yang sedang berlangsung.
Dalam memo yang sama, Zuckerberg mengakui bahwa hari-hari yang lebih sulit mungkin akan datang. “Mengingat kompleksitas perubahan ini, kami telah membuat kesalahan dan hampir pasti akan membuat lebih banyak lagi,” akuinya. Meskipun demikian, ia berjanji untuk menunda PHK lebih lanjut selama sisa tahun ini.
Kondisi ini memperkuat temuan bahwa Meta mengakui kesalahan dalam mengelola tim AI dan berjanji memperbaiki morale karyawan. Namun, implementasi di lapangan masih jauh dari harapan.
Bagi para pengamat industri, situasi di Meta menjadi studi kasus tentang bagaimana PHK massal dan tekanan produktivitas dapat menghancurkan budaya perusahaan. Ketika karyawan disuruh melakukan lebih banyak dengan lebih sedikit sumber daya, inisiatif seperti hackathon hanya menjadi pengingat betapa buruknya kondisi kerja mereka.
Implikasinya jelas: tanpa perbaikan fundamental dalam manajemen sumber daya manusia dan strategi AI, Meta berisiko kehilangan talenta terbaiknya di saat persaingan teknologi semakin ketat. Keputusan Zuckerberg untuk memprioritaskan efisiensi jangka pendek bisa berdampak jangka panjang pada daya saing perusahaan.




