Meta Larang Konten Pelecehan dari Kacamata AI

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi pria mengenakan kacamata AI Meta Ray-Ban yang kontroversial
  • Meta resmi melarang unggahan video yang merekam pelecehan menggunakan kacamata AI Ray-Ban
  • Kepala Instagram Adam Mosseri mengumumkan konten pelecehan akan dihapus
  • Dua akun pickup artist besar dinonaktifkan karena melanggar kebijakan
  • Meta belum menjelaskan mekanisme penegakan aturan secara detail
  • Kacamata ini disebut "pervert glasses" karena kamera tersembunyi yang disalahgunakan
  • Kontroversi semakin memanas setelah temuan fitur pengenalan wajah yang belum dirilis
  • Penyanyi Lorde secara terbuka mengkritik perangkat tersebut dalam konsernya

JBNews.id — Meta secara resmi melarang unggahan video yang merekam pelecehan terhadap orang lain menggunakan kacamata pintar berkamera miliknya, Ray-Ban Meta. Langkah ini diambil setelah perangkat tersebut menuai kontroversi besar karena disalahgunakan oleh segelintir pengguna untuk merekam orang tanpa izin, mulai dari konten pickup artist hingga prank di tempat umum.

Kepala Instagram Adam Mosseri mengumumkan kebijakan baru ini melalui unggahan di Instagram Story. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menghapus konten yang dianggap mengeksploitasi dan melecehkan orang lain. “Jika Anda mengunggah konten yang memanfaatkan orang dan melecehkan mereka, seperti video pickup line yang pernah kami dengar dan lihat, maka kami akan menghapus konten tersebut,” ujar Mosseri, seperti dikutip Business Insider.

Langkah ini menjadi respons atas meluasnya kritik terhadap kacamata pintar Meta yang disebut sebagai “pervert glasses” atau kacamata mesum. Kamera tersembunyi pada perangkat tersebut memicu perdebatan sengit soal privasi dan persetujuan di ruang publik. Banyak pengguna merasa tidak nyaman karena siapa pun dapat merekam mereka secara diam-diam tanpa sepengetahuan.

Menurut laporan Business Insider, dua akun besar pickup artist di Instagram telah dinonaktifkan. Juru bicara Meta kemudian mengonfirmasi bahwa akun-akun tersebut diblokir karena mengunggah konten pelecehan yang direkam menggunakan kacamata AI. Ini menjadi indikasi paling jelas bahwa Meta tengah berjuang mengendalikan narasi soal penggunaan perangkat barunya oleh publik.

Di situs resminya, Meta memberikan panduan kepada pengguna untuk “mematikan kacamata di tempat sensitif seperti ruang dokter, ruang ganti, toilet umum, sekolah, atau tempat ibadah.” Perusahaan juga mengingatkan agar pengguna tidak menggunakan kacamata untuk aktivitas berbahaya seperti pelecehan, pelanggaran hak privasi, atau menangkap informasi sensitif seperti kode PIN.

Namun, Meta belum menjelaskan secara detail bagaimana kebijakan baru ini akan ditegakkan. Perusahaan tidak menanggapi pertanyaan Business Insider mengenai mekanisme penegakan aturan tersebut. Hal ini menimbulkan keraguan apakah larangan tersebut benar-benar efektif mengatasi penyalahgunaan perangkat.

Kontroversi seputar kacamata Meta semakin memanas setelah Wired menemukan bahwa perusahaan diam-diam menyematkan teknologi pengenalan wajah yang belum dirilis ke dalam perangkat tersebut. Temuan ini memicu gelombang protes baru. Meskipun eksekutif Meta membantah keberadaan fitur tersebut, Chief Technology Officer Andrew “Boz” Bosworth kemudian membahasnya panjang lebar dalam wawancara terpisah. Fitur Face Recognition ini menjadi salah satu isu paling sensitif yang dihadapi Meta saat ini.

Kekhawatiran publik terhadap kacamata AI Meta tidak hanya datang dari kalangan aktivis privasi. Tokoh hiburan terkenal seperti penyanyi Ella “Lorde” O’Connor juga angkat bicara. Dalam sebuah konser awal bulan ini, ia menyampaikan kritik pedas terhadap perangkat tersebut. “Kau tidak tahu apakah seseorang memakai kacamata hitam, atau apakah mereka memakai kacamata sialan itu… Bisakah aku katakan, untuk catatan, sialan kacamata itu! Jangan beli kacamata itu — tidak seksi,” ujar Lorde di hadapan penonton.

Bagi Meta, tekanan publik untuk mengatasi masalah ini semakin besar. Perusahaan sebelumnya juga menghadapi gugatan remaja terkait dampak media sosial, meskipun akhirnya dicabut. Kini, dengan meningkatnya kritik terhadap kacamata AI, Meta harus bergerak cepat untuk memulihkan kepercayaan konsumen.

Kebijakan larangan konten pelecehan ini merupakan langkah awal, tetapi masih menyisakan banyak pertanyaan. Tanpa mekanisme penegakan yang jelas, efektivitas aturan ini masih diragukan. Sementara itu, teknologi pengenalan wajah yang kontroversial terus menjadi momok bagi privasi pengguna.

Implikasinya bagi pengguna kacamata Meta di Indonesia cukup jelas. Mereka harus lebih berhati-hati dalam menggunakan perangkat ini di ruang publik. Risiko pelanggaran privasi dan sanksi dari platform bisa menimpa siapa saja yang menyalahgunakan kamera tersembunyi pada kacamata tersebut. Peraturan yang lebih ketat dari Meta mungkin akan segera menyusul seiring meningkatnya tekanan publik dan regulator.

(Content already provided above)