Meta Akui Kesalahan Kelola Tim AI, Janjikan Perbaikan Morale

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
CTO Meta Andrew Bosworth berbicara di sebuah acara teknologi
  • Meta secara terbuka mengakui kegagalan manajemen di divisi Applied AI
  • CTO Andrew Bosworth menyampaikan permintaan maaf melalui memo internal
  • Sekitar 6.500 insinyur mengeluhkan tugas yang tidak berarti dan lingkungan kerja buruk
  • Meta berjanji membatasi jumlah bawahan manajer maksimal 20 orang
  • Karyawan yang dipaksa bergabung kini diizinkan melamar peran lain
  • Bosworth menyalahkan eksekutif karena kehilangan perspektif karyawan
  • Meta akan memperbaiki fasilitas kantor dan meningkatkan anggaran perjalanan
  • Kinerja karyawan akan dinilai dari dampak penggunaan AI, bukan sekadar pemakaian

JBNews.id — Meta Platforms secara terbuka mengakui kegagalan manajemen di divisi Applied AI yang memicu penurunan kepercayaan dan moral karyawan. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh Chief Technology Officer (CTO) Andrew Bosworth dalam sebuah memo internal yang panjang, menyusul laporan ketidakpuasan massal dari sekitar 6.500 insinyur dan manajer produk di unit tersebut.

Divisi Applied AI dibentuk Meta pada Maret lalu dengan fokus mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) generatif. Namun, dalam waktu singkat, pekerja menggambarkan tugas yang diberikan sebagai “soul-crushing” dan bahkan menyebut lingkungan kerja itu sebagai “gulag.” Laporan dari WIRED pekan lalu mengungkapkan keresahan ini, yang kemudian memicu respons dari jajaran eksekutif puncak Meta.

“Kami telah merusak kepercayaan yang Anda miliki bahwa keahlian dan kontribusi spesifik Anda akan dihargai, bahwa Anda akan tumbuh dan memajukan karier Anda, dan bahwa ini akan menjadi tempat di mana Anda benar-benar dapat memberikan dampak,” tulis Bosworth dalam memo yang dikutip oleh WIRED. Ia menambahkan bahwa pergantian struktur manajemen yang tiba-tiba dan siklus perekrutan yang tidak stabil menjadi akar masalah.

Ketegangan ini merupakan bagian dari penurunan moral yang lebih luas di Meta, menyusul gelombang PHK massal, pengawasan ketat terhadap pekerja, dan berbagai kekhawatiran lain. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah eksekutif, termasuk CEO Mark Zuckerberg, telah mengirim pesan internal yang mengakui perasaan karyawan dan berjanji melakukan perubahan.

Janji Perbaikan Struktur dan Perhatian Personal

Dalam memo tersebut, Bosworth yang dikenal sebagai loyalis Zuckerberg, menjabarkan sejumlah langkah perbaikan. Meta berencana membatasi jumlah bawahan langsung (direct reports) seorang manajer maksimal 20 orang. Para manajer juga akan difokuskan pada tugas manajerial dan bukan pekerjaan independen. Selain itu, pekerja akan mendapatkan akses ke alat “AI coaching” yang dapat digunakan secara sukarela.

“Kami melakukan pekerjaan yang buruk dalam menjelaskan visi, memberi gambaran jelas tentang bagaimana kami akan mendukung mereka dan karier mereka dalam transisi ini, serta menggambarkan bagaimana hal itu akan berubah seiring waktu,” tulis Bosworth menanggapi komentar atas memonya. Ia menyalahkan dirinya sendiri dan eksekutif lain karena kehilangan perspektif karyawan saat terburu-buru fokus pada strategi yang lebih luas, seperti bersaing di pasar alat coding AI.

Meski demikian, Bosworth tetap membela keputusan untuk memindahkan paksa karyawan ke tim AI demi kecepatan. Ia mengingatkan bahwa pekerja mungkin harus mengerjakan proyek yang “tidak mereka anggap memuaskan secara pribadi untuk sementara waktu” karena “akan ada saat-saat di mana pekerjaan membutuhkan pengorbanan.” Pernyataan ini menunjukkan adanya ketegangan internal Meta yang belum sepenuhnya mereda.

Karyawan Kini Bisa Pindah ke Peran Lain

Dalam unggahan terpisah yang dilihat WIRED, Maher Saba, wakil presiden yang memimpin tim Applied AI, memberikan kelonggaran. Karyawan yang sebelumnya dipaksa bergabung ke timnya kini diizinkan mengambil peran lain di Meta jika berhasil mendapatkannya. “Kami merasa perlu memanfaatkan apa yang Meta miliki yang tidak dimiliki laboratorium AI lain: skala kami dan keahlian orang-orang kami,” kata Saba.

Namun, ke depannya, Saba mengatakan timnya akan kembali ke prosedur normal dan memberikan kebebasan kepada karyawan untuk melamar peran yang menarik minat mereka. Tim Applied AI saat ini fokus pada proyek untuk meningkatkan kemampuan coding dan agen dari model AI frontier Meta, dan dapat berkembang ke keamanan, debugging, serta pengembangan produk. Saba menyebut pendekatan baru timnya sebagai “bergerak cepat dan memperbaiki ke depan,” sebuah perubahan dari moto lama Meta, “move fast and break things.”

Saba juga menegaskan bahwa peta jalan teknik tradisional yang biasanya disusun di awal semester tidak lagi berlaku karena “pekerjaan berkembang sangat dinamis.” Hal ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan prioritas di tengah persaingan AI yang ketat, yang juga berdampak pada karyawan Meta yang menolak hackathon AI.

AI Tidak Akan Gantikan Pekerja, Tapi…

Bosworth dalam memonya menekankan bahwa Meta tidak percaya AI akan sepenuhnya menggantikan pekerja AI. Namun, ia mengingatkan, “Kita harus mengindahkan pepatah, ‘AI tidak akan mengambil pekerjaan Anda, tetapi seseorang yang menguasai AI mungkin akan mengambilnya.'” Kinerja karyawan ke depan tidak hanya dinilai dari penggunaan AI, tetapi dari “dampak” yang dihasilkan dengan teknologi tersebut.

Bosworth juga mengakui akan ada “tawar-menawar yang sulit untuk sementara waktu” terkait alokasi daya komputasi antar tim. “Kami akan melakukan yang terbaik untuk bersikap transparan dan berinvestasi secara bertanggung jawab untuk mengurangi hambatan,” tulisnya, sambil mendorong karyawan untuk melaporkan masalah apa pun.

Upaya Meningkatkan Suasana Kerja

Dalam upaya meningkatkan moral, Bosworth berjanji menjadikan Meta tempat yang “menyenangkan dan menyenangkan” untuk bekerja. Langkah konkretnya termasuk memperbaiki “microkitchens”—area istirahat di kantor dengan camilan dan minuman—serta meningkatkan anggaran perjalanan dan pengeluaran untuk acara sosial. Tujuannya agar karyawan dapat menghabiskan waktu bersama secara langsung.

“Saya berharap kita dapat menghidupkan kembali budaya terbaik yang kita ikuti,” tulis Bosworth. Namun, langkah ini muncul di tengah berbagai tantangan lain, termasuk lisensi software pengenalan wajah yang memicu kontroversi.

Implikasi dari pengakuan ini jelas: Meta tengah berjuang keras menstabilkan internalnya di tengah perlombaan AI yang semakin sengit. Bagi para pengamat industri, langkah Meta ini menunjukkan bahwa bahkan raksasa teknologi pun tidak kebal terhadap masalah manajemen sumber daya manusia ketika pertumbuhan dan kecepatan menjadi prioritas utama. Ke depannya, keberhasilan Meta dalam mengelola tim AI-nya akan sangat menentukan kemampuannya bersaing dengan OpenAI, Google, dan pemain lainnya di pasar yang sama.