Manusia Hobbit Flores Ternyata Pemakan Bangkai Sisa Komodo

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Gua Liang Bua di Flores tempat ditemukannya Homo floresiensis
  • Manusia hobbit Flores (Homo floresiensis) ternyata pemakan bangkai sisa komodo
  • Penelitian di jurnal Science Advances membalikkan asumsi bahwa mereka pemburu hewan besar
  • Eksperimen gigitan komodo menunjukkan komodo makan bagian berdaging, hobbit makan sisanya
  • Hobbit makan daging mentah, tidak ada bukti penggunaan api untuk memasak
  • Temuan munculkan pertanyaan baru tentang evolusi dan nenek moyang hobbit

JBNews.id — Manusia purba mungil yang telah punah di Indonesia berjuluk hobbit, menurut penelitian terbaru ternyata adalah pemakan bangkai yang menyantap sisa gajah kerdil setelah komodo mengambil bagian daging terbaiknya. Temuan ini menjungkirbalikkan asumsi yang menyebut Homo floresiensis sebagai pemburu hewan-hewan besar.

Pertama kali ditemukan tahun 2003, H. floresiensis dijuluki hobbit karena ukurannya kecil, dengan tinggi rata-rata sekitar 106 sentimeter. Spesies manusia purba yang tiba di pulau Flores setidaknya 700.000 tahun lalu ini memiliki otak kecil, gigi besar, dan kaki lebar. Para hobbit ini menghilang sekitar 50.000 tahun lalu ketika Homo sapiens mulai menyebar di Asia Tenggara.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances, tim peneliti internasional mempertanyakan apakah perilaku H. floresiensis benar-benar semaju yang diasumsikan sebelumnya. Arkeolog sebelumnya menemukan peralatan batu, tulang hewan dengan bekas sayatan, serta tulang hangus yang tampaknya menunjukkan perilaku kompleks yang umum ditemukan pada genus Homo.

Peneliti mengamati fosil Stegodon florensis insularis — kerabat gajah kerdil punah yang ditemukan di Gua Liang Bua, tempat tulang H. floresiensis dan peralatan batu juga ditemukan — untuk menentukan apakah bekas sayatan berasal dari berburu atau dari memakan sisa mangsa karnivora satu-satunya di pulau itu: komodo (Varanus komodoensis).

Eksperimen Gigitan Komodo

Untuk membedakan bekas sayatan buatan hobbit dari bekas gigitan komodo, peneliti memberi bangkai kambing pada komodo penangkaran. Mereka mengambilnya kembali dan mendokumentasikan semua bekas luka gigi komodo. Bekas gigitan terkonsentrasi di area dengan banyak daging, menunjukkan komodo lebih menyukai bagian-bagian berdaging.

Selanjutnya, peneliti menyelidiki tulang Stegodon purba untuk mencari bukti bekas sayatan alat batu H. floresiensis dan bekas gigitan komodo. Mereka menemukan 54 bekas sayatan pada tulang Stegodon dan hampir dua kali lipat lebih banyak bekas gigitan komodo. Lebih penting lagi, mereka menemukan bekas gigitan komodo terfokus pada area yang berdaging, sementara bekas sayatan manusia purba sebagian besar berada di area yang tidak banyak dagingnya.

Ini menunjukkan H. floresiensis tidak berburu dan membunuh Stegodon. Polanya mengisyaratkan kombinasi akses primer (pertama) oleh komodo dan akses sekunder oleh H. floresiensis. Para hobbit juga kemungkinan besar makan daging mentah, karena tak ditemukan bukti tulang Stegodon dimasak. Juga tak ada bukti pembakaran pada lebih dari 4.000 tulang tikus dari situs, mengindikasikan bukti “tulang hangus” sebelumnya sebenarnya hanyalah noda alami.

Hasil rekonstruksi wajah Homo floresiensis, kerabat manusia yang tinggal di Flores, NTT belasan ribu tahun lalu

Misteri Evolusi dan Nenek Moyang H. floresiensis

Ketiadaan teknologi berburu dan membuat api menunjukkan perilaku mereka tidaklah sekompleks perkiraan sebelumnya, serta memunculkan pertanyaan tentang garis keturunannya. Mungkin nenek moyang H. floresiensis berpisah dari genus Homo sebelum manusia berhasil menguasai api dan keterampilan berburu.

Penulis studi, E. Grace Veatch, paleoantropolog Universitas Tubingen Jerman menyebut hipotesis pertama asal-usul hobbit adalah fenomena pengerdilan yang terjadi ketika ukuran tubuh spesies besar berevolusi jadi lebih kecil antar generasi akibat sumber daya alam yang terbatas. Teori lain menyebut hobbit keturunan dari spesies Homo lebih kuno yang memang sudah bertubuh kecil.

“Studi kami menyimpulkan H. floresiensis berevolusi dari populasi hominin yang tidak membutuhkan strategi diet (berburu dan memasak) semacam itu, menyerupai bentuk Homo purba,” katanya. Namun, studi baru ini belum sepenuhnya menyelesaikan perdebatan tentang silsilah mereka, karena masih sedikit yang diketahui mengenai perilaku hominin purba di Asia Tenggara. Di mana tepatnya posisi H. floresiensis di antara keluarga genus Homo lainnya masih belum terjawab.

Temuan ini membuka perspektif baru tentang evolusi manusia di Asia Tenggara. Implikasinya bagi pembaca: asumsi tentang kemampuan berburu manusia purba mungkin perlu dikaji ulang secara fundamental. Riset Keamanan serupa di bidang lain juga menunjukkan pentingnya pengujian ulang asumsi lama dengan metodologi baru.

Penemuan ini juga mengingatkan bahwa Riset AI modern pun sering mengungkapkan pola tersembunyi yang sebelumnya tidak terdeteksi. Hal serupa terjadi dalam studi paleoantropologi di Flores.