JBNews.id — Seorang mantan manajer Tesla menggugat perusahaan milik Elon Musk atas praktik pengujian teknologi self-driving yang disebutnya membahayakan keselamatan publik. Javier Medrano, mantan manajer operasional armada uji Full Self-Driving (FSD) Tesla di Houston, mengungkapkan perusahaan mengabaikan peringatan keselamatan hingga akhirnya ia dipecat.
Gugatan federal yang dilaporkan oleh The Independent ini mengungkap skala operasi uji FSD yang disebut “agresif” dan tidak terkendali. Medrano menuduh Tesla mengubah armada uji otonom di Houston menjadi “rolling hazards” atau bahaya bergerak yang beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu.
Medrano bergabung dengan Tesla pada 2023 dan delapan bulan kemudian dipercaya menjadi satu-satunya manajer operasional armada uji FSD Houston. Saat ia bergabung, armada tersebut hanya memiliki 15 kendaraan dengan operator manusia. Namun dalam hitungan bulan, Tesla meningkatkan jumlahnya menjadi 38 operator kendaraan.
Para operator ini menjaga mobil tetap beroperasi 24 jam sehari dalam tiga shift, dan Medrano sebagai manajer jarak jauh harus mengawasi semuanya sendirian. Rasio operator-ke-manajer sebesar 38:1 ini, menurut gugatan, melanggar “baseline keselamatan 15:1” yang ditetapkan Tesla sendiri.
Para operator tersebut merupakan bagian dari kontroversial “Rodeo Team” Tesla, yang keberadaannya pertama kali diungkap oleh Business Insider pada 2024. Nama tim ini menggambarkan tugas mereka: sengaja membawa mobil otonom ke situasi berbahaya dan baru melakukan intervensi pada saat-saat terakhir. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan data pelatihan berharga bagi sistem FSD Tesla.
Gugatan tersebut juga menyebutkan bahwa di kota-kota lain dengan Rodeo Team, Tesla memiliki lebih dari satu pengawas keselamatan. Namun di Houston, Medrano harus menangani semuanya sendirian.
Peringatan yang Diabaikan dan Kelelahan Ekstrem
Medrano mengaku pekerjaan mengawasi puluhan pengemudi mobil self-driving ini membuatnya kelelahan fisik dan mental. Dalam satu email kepada atasannya, ia mengaku “berusaha untuk tidak kehilangan akal sehat, karena tidak tidur atau makan dengan benar dan melakukan semua yang saya bisa untuk memenuhi ekspektasi.”
Sebulan kemudian, ia memohon tambahan pengawas keselamatan dan meminta cuti seminggu. “Ini adalah sinyal S.O.S resmi saya,” tulisnya dalam email tersebut.
Puncaknya terjadi hanya beberapa hari setelah email itu dikirim. Salah satu kendaraan uji FSD terlibat tabrakan dengan mobil lain. Pengemudi uji, mengikuti protokol, menghubungi Medrano pada pukul 02:05 dini hari. Namun Medrano begitu kelelahan sehingga ia menjawab panggilan tersebut dalam kondisi “secara fisik tertidur,” menurut isi gugatan.
Akibatnya, ia memberikan nasihat yang salah kepada operator. Mengikuti instruksinya, operator tersebut tetap berada di lokasi kecelakaan, di mana ia kemudian didatangi oleh orang asing yang diduga dalam keadaan mabuk.
Keesokan harinya, Medrano memberi tahu HR bahwa ia “tidak ingat” percakapan telepon tersebut. Ia kemudian mengulangi keluhannya tentang “kekurangan staf yang parah” yang sebelumnya ia sampaikan kepada atasannya.
Respons yang ia terima justru mengejutkan. Seorang perwakilan HR diduga menyarankan Medrano untuk mengaktifkan mode “Jangan Ganggu” di ponselnya jika tidak ingin diganggu selama shift pengujian aktif. Sementara itu, direktur Autopilot mengatakan ia seharusnya “mendelegasikan” tugas dengan lebih baik.
“Saya tidak punya siapa pun untuk didelegasikan,” kata Medrano kepada The Independent. “Saya benar-benar mencoba memberi tahu mereka betapa seriusnya ini. Tapi tidak ada rasa urgensi sama sekali.”
“Sungguh membingungkan bagaimana ini bisa berlangsung begitu lama,” lanjutnya. “Di kota lain, mereka punya banyak pengawas per shift. Saya satu-satunya yang tidak punya kemewahan itu… Tugas kami adalah memastikan mobil-mobil ini aman di jalan.”
Kasus ini menambah daftar panjang kekhawatiran publik dan regulator terhadap keselamatan teknologi self-driving Tesla. Sebelumnya, berbagai insiden kecelakaan yang melibatkan kendaraan otonom Tesla telah memicu pengawasan ketat dari otoritas keselamatan jalan raya Amerika Serikat.
Baca Juga:
Medrano mengaku dipecat setelah mengajukan keluhan. Ia kini menggugat Tesla melalui jalur hukum federal, berharap kasusnya membuka mata publik tentang praktik pengujian yang ia nilai tidak aman.
“Hampir terasa seperti perusahaan-perusahaan besar ini bisa lolos dengan apa saja, dan orang-orang hanya menundukkan kepala dan berkata, ‘Ya, begitulah adanya,'” ujar Medrano. “Dan itu menciptakan lingkungan di mana orang tidak berani berkata, ‘Ini tidak benar.'”
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya sorotan terhadap program robotaxi Tesla yang hanya mengandalkan kamera tanpa sensor tambahan. Berbagai pihak menilai pendekatan ini berisiko tinggi, terutama di lingkungan perkotaan yang kompleks seperti Houston.
Dampak dari gugatan ini bisa meluas. Jika pengadilan memutuskan Tesla bersalah, perusahaan bisa menghadapi sanksi regulasi yang lebih ketat atas program pengujian FSD-nya. Hal ini berpotensi menghambat rencana ekspansi layanan robotaxi yang menjadi andalan pertumbuhan bisnis Tesla ke depan.
Bagi konsumen, kasus ini menjadi pengingat bahwa teknologi self-driving masih dalam tahap pengembangan yang penuh tantangan. Kehadiran operator manusia yang waspada dan manajemen keselamatan yang memadai tetap menjadi faktor krusial untuk memastikan keamanan di jalan raya.

Kasus Medrano juga menyoroti budaya kerja di perusahaan teknologi besar yang kerap mengutamakan kecepatan inovasi di atas keselamatan pekerja. Tekanan untuk memenuhi target pengembangan teknologi otonom sering kali mengorbankan aspek keselamatan yang seharusnya menjadi prioritas utama.
Hingga berita ini ditulis, Tesla belum memberikan komentar resmi terkait gugatan tersebut. Sementara itu, Medrano berharap kisahnya dapat mendorong perubahan dalam cara perusahaan mengelola program pengujian teknologi otonom di masa depan.
Seiring dengan perkembangan kasus hukum ini, publik dan regulator akan terus mengawasi bagaimana Tesla menangani tuduhan pelanggaran keselamatan dalam program FSD-nya. Keputusan pengadilan nantinya bisa menjadi preseden penting bagi industri kendaraan otonom secara keseluruhan.
Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan terbaru Tesla, kamu bisa membaca Saham Tesla Anjlok usai laporan laba kuartal II 2026, serta Tesla Q2 2026 yang menunjukkan pendapatan naik namun arus kas negatif. Selain itu, RUU New Jersey juga mengancam melarang robotaxi Tesla yang hanya menggunakan kamera.




