Kuburan Jutaan Paus Ditemukan di Samudra Hindia

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Bangkai paus di dasar Samudra Hindia
  • Ilmuwan temukan kuburan paus terbesar di Samudra Hindia, diperkirakan berisi lebih dari 10 juta sisa kerangka paus
  • Lokasi penemuan di Zona Fraktur Diamantina, barat daya Australia, dengan kedalaman 5.000-7.000 meter
  • Ekspedisi dilakukan pada Februari-Maret 2023 menggunakan kapal selam Fendouzhe
  • Sebagian besar sisa milik paus paruh, spesies yang jarang terlihat dan sedikit diketahui
  • Fosil tertua berusia 5,3 juta tahun, termasuk spesies baru yang dinamai Pterocetus diamantinae
  • Temuan memberikan wawasan baru tentang siklus nutrisi dan ekosistem laut dalam

JBNews.id — Para ilmuwan menemukan salah satu kuburan paus terbesar di dunia di dasar Samudra Hindia bagian tenggara, diperkirakan menyimpan lebih dari 10 juta sisa kerangka paus. Temuan ini diumumkan oleh tim peneliti dari Chinese Academy of Sciences yang menggunakan kapal selam Fendouzhe untuk menjelajahi Zona Fraktur Diamantina, sebuah area palung laut di barat daya Australia. Ekspedisi yang berlangsung pada Februari hingga Maret 2023 ini mengungkap akumulasi fosil paus yang membentang sepanjang 1.200 kilometer, dengan kepadatan mencapai 760 sisa per kilometer persegi di beberapa titik.

Zona Fraktur Diamantina terbentuk antara 30 hingga 40 juta tahun lalu saat benua Australia dan Antartika terpisah. Kedalaman wilayah ini mencapai 5.000 hingga 7.000 meter, menjadikannya salah satu area paling sulit dijangkau di lautan. “Meskipun ini adalah kuburan paus yang benar-benar masif, mencapainya sangatlah sulit karena kedalamannya ekstrem,” kata Peng Zhou, peneliti di Institut Sains dan Teknik Laut Dalam pada Chinese Academy of Sciences, yang dikutip dari CNN.

Ekspedisi ini merupakan bagian dari Program Eksplorasi Palung Hadal Global, sebuah kolaborasi internasional yang bertujuan menjelajahi area terdalam lautan yang belum banyak diketahui. Tim peneliti menggunakan kapal penelitian Tan Suo Yi Hao dan kapal selam Fendouzhe, yang sebelumnya pernah mengunjungi dasar Palung Mariana pada tahun 2020. Selama ekspedisi, mereka menangkap gambar nekropolis tersebut dan menggunakan lengan robotik untuk mengumpulkan 43 fosil serta beberapa hewan pemakan bangkai.

“Saat kami pertama kali mengamati situs ini, hal itu benar-benar mengejutkan semua orang,” tambah Zhou. Hal paling mengejutkan adalah kepadatan fosil dan distribusinya. Beberapa area menampung sekitar 760 sisa-sisa per kilometer persegi, jauh lebih tinggi dari apa pun yang pernah didokumentasikan sebelumnya. “Menurut perkiraan kami, ada lebih dari 10 juta sisa paus tergeletak di dasar laut palung ini,” sebutnya. Walau terdengar mencengangkan, bisa jadi ada lebih banyak lagi tulang yang terkubur di bawah sedimen di dasar laut.

Sebagian besar sisa-sisa tersebut milik paus paruh, yang tengkoraknya meruncing menjadi moncong ramping seperti lumba-lumba. Paus ini menyelam sangat dalam dan menghabiskan sedikit waktu dekat permukaan, sehingga jarang terlihat dan sangat sedikit yang diketahui tentang kebiasaan mereka. Peneliti mengamati beberapa bangkai paus yang tenggelam di kuburan tersebut masih cukup baru sehingga masih ada pemakan bangkai menempel. Dikenal sebagai whale falls, bangkai ini memberi nutrisi beragam komunitas kehidupan laut dalam, termasuk cacing pemakan tulang.

Bangkai paus

Tim ilmuwan mengidentifikasi salah satu bangkai modern sebagai paus minke atau Balaenoptera acutorostrata, berukuran sekitar 3 meter panjangnya. Sisa-sisa dari spesies modern lainnya, paus paruh Andrew atau Mesoplodon bowdoini, tergeletak di dekat fosil-fosil dari genus yang sudah punah bernama Pterocetus. Fosil tertua, milik Pterocetus benguelae, berusia 5,3 juta tahun. “Menemukan genus punah seperti Pterocetus dan spesies yang masih hidup seperti Mesoplodon bowdoini terawetkan di wilayah yang sama, membentang 1.200 kilometer di dasar laut pada kedalaman ekstrem seperti itu sungguh di luar dugaan,” kata Zhou.

Adapun mengapa begitu banyak bangkai paus paruh di situ, jawabannya mungkin terkait topografi Zona Diamantina yang berbentuk V. Zona tersebut bagaikan corong yang menyalurkan bangkai ke dasar laut, dan sangat sedikitnya pergerakan sedimen di kedalaman tersebut berarti bangkai itu tetap terekspos ke para pemakan bangkai. Seiring waktu, mineral laut dalam membentuk kerak pada tulang-tulang tersebut dan mengawetkannya sebagai fosil.

Temuan tak terduga lainnya di situs tersebut adalah sebagian tengkorak milik spesies yang sebelumnya tidak diketahui, yang oleh ilmuwan dinamai Pterocetus diamantinae. Penemuan ini menambah wawasan baru tentang keanekaragaman hayati laut dalam yang masih sangat minim dieksplorasi. Keberadaan spesies baru ini menunjukkan bahwa Zona Fraktur Diamantina mungkin menyimpan lebih banyak misteri yang belum terungkap.

Penemuan kuburan paus ini memberikan implikasi penting bagi pemahaman tentang siklus nutrisi di laut dalam. Whale falls tidak hanya menjadi sumber makanan bagi komunitas bentik, tetapi juga berperan dalam siklus karbon jangka panjang. Dengan perkiraan lebih dari 10 juta kerangka paus, area ini menjadi salah satu penyerap karbon alami terbesar di lautan. Data ini juga membantu ilmuwan memahami bagaimana ekosistem laut dalam berevolusi selama jutaan tahun.

Bagi para pembaca yang tertarik dengan penemuan ilmiah terkini, Anda juga dapat membaca artikel tentang Tim UGM Ungkap yang mengungkap misteri fenomena alam lainnya. Sementara itu, perkembangan teknologi eksplorasi laut dalam juga patut dicermati, seperti yang dibahas dalam artikel tentang IPO SpaceX yang menyoroti valuasi perusahaan antariksa tersebut.

Penemuan ini juga membuka peluang penelitian lebih lanjut tentang perilaku paus paruh yang masih misterius. Dengan sedikitnya informasi tentang spesies ini, kuburan raksasa di Zona Diamantina bisa menjadi arsip paleontologi yang berharga. Para ilmuwan berencana melakukan ekspedisi lanjutan untuk mempelajari lebih dalam tentang fosil-fosil yang ada, termasuk kemungkinan menemukan spesies lain yang belum teridentifikasi.

Kuburan paus ini bukan hanya fenomena alam yang menakjubkan, tetapi juga pengingat akan kompleksitas ekosistem laut dalam yang masih sangat sedikit kita pahami. Dengan teknologi eksplorasi yang terus berkembang, diharapkan semakin banyak misteri lautan yang bisa terungkap di masa depan.