Kritik Pedas terhadap Proyek Pusat Data Orbit Starcloud

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi satelit pusat data raksasa dengan panel surya besar mengorbit Bumi
  • Proyek Starcloud menuai kritik tajam dari insinyur aeronautika Brian McManus dan IEEE Spectrum
  • Tantangan utama: sistem pendingin raksasa yang memompa 150.000 pon cairan per detik
  • Setiap stasiun akan seluas 1,6 mil persegi, 5.000 kali ISS, dengan massa 113 juta kg
  • Rentan terhadap 300.000 manuver penghindaran tabrakan sampah antariksa per tahun
  • Radiasi luar angkasa berpotensi menyebabkan halusinasi AI akibat bit data yang rusak
  • Biaya dan umur pakai chip AI (2-4 tahun) dinilai tidak realistis untuk operasi komersial

JBNews.id — Proyek ambisius Starcloud yang mengusung konsep pusat data raksasa di orbit Bumi menuai kritik tajam dari para ahli teknik. Sebuah video analisis yang dirilis oleh kolaborasi kanal YouTube Real Engineering dan publikasi teknologi IEEE Spectrum menyebut rencana perusahaan rintisan Y Combinator itu sebagai “gagasan bodoh” yang penuh dengan tantangan rekayasa yang hampir mustahil diatasi.

Starcloud, perusahaan yang berhasil mengumpulkan dana sebesar 170 juta dolar AS pada awal tahun ini untuk mengembangkan wahana antariksa pusat data dengan bantuan SpaceX, menerbitkan sebuah white paper yang digambarkan oleh para kritikus lebih mirip hasil imajinasi kecerdasan buatan (AI) daripada tim insinyur manusia. “Sungguh terlihat seperti siapa pun dengan beberapa render dan white paper yang ditulis oleh seseorang yang dibuai oleh AI yang terlalu mudah setuju bisa mendapatkan pendanaan modal ventura akhir-akhir ini,” ujar Brian McManus, insinyur aeronautika asal Irlandia yang mengelola kanal Real Engineering.

Tantangan Teknik yang Nyata

Video tersebut menguraikan berbagai masalah fundamental dari proyek ini. Salah satu tantangan terbesar adalah sistem pendingin untuk perangkat keras AI yang sangat panas. Di ruang hampa udara, panas tidak bisa hilang secara alami sehingga diperlukan jaringan pipa pendingin yang sangat luas. McManus menjelaskan bahwa untuk cairan pendingin seperti glikol, setiap pusat data harus memompa lebih dari 150.000 pon cairan per detik — setara dengan “mengosongkan kolam renang Olimpiade dalam 40 detik” — suatu laju yang hanya umum ditemukan pada bendungan pembangkit listrik tenaga air gravitasi.

Untuk mencapai kapasitas komputasi lima gigawatt yang diiklankan, Starcloud harus membangun pusat data dengan ukuran sangat besar. Setiap stasiun, termasuk panel surya raksasanya, akan menutupi area seluas 1,6 mil persegi — hampir 5.000 kali lipat luas permukaan panel Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Massa totalnya diperkirakan melampaui 113 juta kilogram, “lebih berat dari kapal induk yang mengorbit,” kata McManus, “lebih dari enam kali total massa yang pernah diluncurkan ke luar angkasa sepanjang sejarah.”

Luas permukaan yang sangat besar ini juga membuka kerentanan terhadap jutaan keping sampah antariksa yang sudah memenuhi orbit Bumi. Bahkan pecahan terkecil sekalipun dapat melubangi panel, membutuhkan perbaikan mahal yang sangat rumit karena harus dilakukan di luar angkasa. SpaceX sendiri sudah merasakan masalah ini secara nyata: perusahaan mengungkapkan bahwa jaringan satelit Starlink-nya harus melakukan 300.000 manuver penghindaran tabrakan sepanjang tahun 2025 lalu.

Baca Juga:

Selain masalah fisik, lingkungan radiasi di luar angkasa juga menjadi ancaman serius. Partikel terionisasi yang melewati satelit dapat membakar transistor atau membalikkan bit informasi yang tersimpan. “Ini akan mengakibatkan halusinasi AI terbesar tanpa perangkat lunak yang terus-menerus memeriksa hasil,” jelas McManus. Komputer yang ada di ISS saat ini harus menjalankan kalkulasi berulang dan membandingkan hasil untuk menyaring data yang rusak. Tantangan ini menjadi kian krusial mengingat proyek ini juga terkait erat dengan visi konstelasi pusat data AI raksasa yang diusung oleh Elon Musk.

Biaya dan Realitas Ekonomi

Perkiraan biaya untuk proyek Starcloud juga dinilai tidak realistis. McManus berargumen bahwa angka-angka yang diajukan “terlalu optimistis dalam hal berat peluncuran dan biaya peluncuran.” Pemeliharaan jaringan raksasa ini juga akan menjadi pekerjaan besar dan mahal. Umur pakai chip AI saat ini hanya dua hingga empat tahun — dan itu di Bumi, di mana degradasi jauh lebih kecil dibandingkan dengan lingkungan ekstrem di luar angkasa. Situasi ini diperparah dengan kondisi keuangan SpaceX yang sempat goyang, di mana saham IPO SpaceX anjlok dan menghapus keuntungan awal.

McManus menyimpulkan bahwa Starcloud tampaknya hanyalah “impian miliarder yang dibuai AI” yang dirancang untuk menenangkan investor yang gelisah. “Ini hanyalah satu konsep awal yang terburu-buru untuk menggalang dana dan melanjutkan langkah,” katanya. “Di dunia teknologi yang terus berkembang, penggerak pertama mendapat imbalan besar.”

Kritik ini muncul tidak lama setelah IPO SpaceX yang menjadikan perusahaan roket tersebut sebagai salah satu perusahaan paling bernilai di dunia dalam semalam. Sebagian besar valuasi triliunan dolar itu terkait dengan visi pusat data orbital Musk, yang sekali lagi menunjukkan betapa besarnya ketergantungan Wall Street pada keyakinan orang terkaya di dunia itu, meskipun rekam jejaknya dalam memenuhi janji-janjinya terbilang buruk. Sementara itu, persaingan di sektor ini semakin ketat dengan kehadiran pemain global seperti China yang melalui proyek SpaceSail siap menantang Starlink dan menguasai pasar internet satelit.

Bagi pengamat industri, proyek Starcloud menjadi contoh nyata bagaimana tekanan untuk menjadi yang pertama di era AI dapat melahirkan rencana-rencana yang secara teknik belum matang. Dengan tantangan mulai dari pendinginan, perlindungan radiasi, hingga sampah antariksa, konsep pusat data di orbit masih memerlukan terobosan teknologi besar sebelum bisa direalisasikan secara komersial.