Konsumen AS Frustrasi dengan Layanan AI, Banyak yang Pilih Pindah

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi konsumen frustrasi dengan layanan pelanggan AI di ponsel
  • Lebih dari separuh konsumen AS secara aktif menghindari chatbot layanan pelanggan
  • 43,9% responden berteriak "human" atau "person" untuk terhubung dengan operator manusia
  • 17% responden menggunakan kata-kata kasar untuk keluar dari percakapan dengan AI
  • 25,9% responden menganggap "bot yang tidak memahami saya" sebagai masalah terbesar
  • Hanya 13,6% responden percaya AI bisa menangani permintaan layanan kompleks
  • 30,4% responden tidak memiliki kepercayaan sama sekali terhadap AI untuk layanan pelanggan
  • 85% responden bersedia menerima AI jika bisa menyelesaikan masalah 9 dari 10 kali
  • Survei dilakukan oleh Parloa, perusahaan pengembang solusi AI untuk customer service

JBNews.id – Lebih dari separuh konsumen di Amerika Serikat mengaku secara aktif berusaha menghindari chatbot layanan pelanggan, dan sebagian dari mereka bahkan sampai menggunakan kata-kata kasar untuk bisa terhubung dengan operator manusia. Temuan ini berasal dari survei “Consumer Patience Index” terbaru yang dirilis oleh Parloa, sebuah perusahaan yang mengembangkan solusi agen AI untuk layanan pelanggan.

Survei yang melibatkan 1.001 orang dewasa di AS ini mengukur loyalitas merek mereka dalam kaitannya dengan pengalaman layanan pelanggan. Hasilnya menunjukkan bahwa pemaksaan untuk berbicara dengan agen AI dapat dengan mudah membuat konsumen beralih ke layanan pesaing. Lebih dari separuh responden menyatakan hanya bersedia memberikan waktu tiga menit kepada sistem otomatis sebelum mereka pergi.

“Ketika empat dari lima konsumen mengatakan bahwa layanan secara langsung memengaruhi loyalitas merek mereka, hal itu seharusnya membunyikan alarm bagi para ahli strategi pengalaman, terutama mereka yang bertanggung jawab atas target pendapatan,” ujar Latané Conant, Chief Marketing Officer Parloa, dalam sebuah siaran pers.

Ketika diminta untuk memeringkat masalah utama dalam layanan pelanggan, “berbicara dengan bot yang tidak memahami saya” menempati posisi teratas dengan 25,9 persen responden. Angka ini bahkan lebih tinggi dari “waktu tunggu yang lama” (22,8 persen) atau “dialihkan berkali-kali” (13,4 persen).

Ilustrasi foto seorang pria muda yang menunjukkan ekspresi frustrasi saat berhadapan dengan layanan pelanggan melalui ponselnya.

Temuan ini cukup mencolok mengingat Parloa sendiri adalah perusahaan yang membangun solusi AI untuk layanan pelanggan. Sekitar 85 persen responden mengatakan mereka sangat atau agak mungkin menerima sistem otomatis yang dapat menyelesaikan masalah mereka sembilan dari sepuluh kali. Namun, mengingat seberapa jauh kita dari realitas tersebut, Parloa memiliki pekerjaan rumah yang berat untuk menjaga kepuasan pelanggan kliennya.

Survei ini juga menyoroti gelombang penolakan terhadap AI yang semakin besar. Menurut jajak pendapat Pew Research baru-baru ini, hanya 16 persen responden yang percaya AI akan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Kemauan kita untuk berurusan dengan AI dalam konteks layanan pelanggan tampaknya berada pada titik terendah sepanjang masa.

Parloa menemukan bahwa hanya 13,6 persen responden yang percaya AI dapat menangani permintaan layanan yang kompleks saat ini. Sebanyak 30,4 persen lainnya menyatakan tidak memiliki kepercayaan sama sekali. “Pada akhirnya, apa yang diisyaratkan oleh konsumen adalah kelelahan total,” kata Conant. “Mereka menolak sistem yang tidak mendengarkan, tidak beradaptasi, dan tidak menyelesaikan masalah saat dibutuhkan, dan reaksi ini memperburuk ketidaksabaran.”

“Sederhana saja: mereka sudah muak,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan ekspektasi yang besar antara kemampuan AI saat ini dan kebutuhan konsumen. Meskipun teknologi AI Companies terus berkembang, implementasinya di sektor layanan pelanggan masih jauh dari harapan. Banyak perusahaan yang terburu-buru mengadopsi AI tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pengalaman pelanggan, yang justru berpotensi merusak loyalitas merek.

Data dari survei ini juga memperkuat temuan sebelumnya tentang Bahaya AI Workslop, di mana perusahaan terjebak dalam siklus knowledge decay akibat ketergantungan berlebihan pada sistem otomatis. Ketika AI gagal memahami konteks atau memberikan solusi yang tepat, konsumen akan semakin frustrasi dan mencari alternatif.

Para ahli menyarankan agar perusahaan tidak sepenuhnya menggantikan agen manusia dengan AI, melainkan menggunakannya sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi. Pendekatan hybrid, di mana AI menangani pertanyaan sederhana dan manusia menangani kasus kompleks, dinilai lebih efektif dalam menjaga kepuasan pelanggan.

Implikasinya bagi dunia bisnis sangat jelas: investasi dalam teknologi AI untuk layanan pelanggan harus diimbangi dengan pemahaman mendalam tentang kebutuhan dan ekspektasi konsumen. Perusahaan yang gagal menyeimbangkan efisiensi operasional dengan kualitas interaksi manusia berisiko kehilangan pangsa pasar di tengah persaingan yang semakin ketat.

Ke depannya, pengembangan AI yang lebih adaptif dan responsif terhadap emosi manusia menjadi kunci. Tanpa itu, gelombang penolakan terhadap AI di sektor layanan pelanggan diprediksi akan terus meningkat, mendorong konsumen untuk RUU CREATOR Act yang memberikan perlindungan lebih bagi konsumen dari praktik AI yang merugikan.