Komdigi Dilema Pilih Frekuensi 6G: 7 GHz Jadi Primadona

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi jaringan 6G dengan visual gelombang frekuensi modern
  • Komdigi mengungkap empat kandidat spektrum 6G: 4 GHz, upper 6 GHz, 7 GHz, dan 15 GHz
  • Pita 7 GHz dijuluki 'si kembang desa' karena paling populer untuk backhaul, 5 kali lebih banyak dari 6 GHz
  • Dilema: jika 7 GHz dipakai 6G, Komdigi harus pilih antara backhaul atau akses seluler
  • Pita 4 GHz dan 15 GHz berdekatan dengan layanan penerbangan, risiko interferensi tinggi
  • Pita 15 GHz butuh small cell dan investasi BTS lebih besar
  • Upper 6 GHz belum diputuskan, 12 negara alokasikan untuk Wi-Fi, beberapa untuk seluler
  • Komdigi harap masukan dari sisi public value dan timing sebelum putuskan kebijakan

JBNews.id, Jakarta — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkap dilema dalam menentukan spektrum frekuensi untuk teknologi 6G di Indonesia. Salah satu kandidat utama, pita frekuensi 7 GHz yang dijuluki ‘si kembang desa’, justru menjadi favorit pelaku industri sehingga mempersulit pengalokasian untuk jaringan generasi berikutnya.

Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standarisasi Infrastruktur Digital Komdigi, Adis Alifiawan, menyatakan pita 7 GHz merupakan yang paling banyak digunakan untuk jaringan microwave link atau backhaul yang menghubungkan menara telekomunikasi. Julukan ‘si kembang desa’ melekat karena popularitasnya di kalangan operator.

“Di database kami, pita 7 GHz itu adalah si kembang desa. Yang paling disukai oleh para pengguna microwave link itu adalah 7 GHz. Penggunaannya lima kali lipat lebih banyak dibandingkan 6 GHz,” kata Adis di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Jaringan seluler 6G

Popularitas tersebut justru menimbulkan dilema kebijakan. Jika 7 GHz ditetapkan sebagai spektrum 6G, Komdigi harus memilih antara mempertahankannya untuk kebutuhan backhaul atau mengalihkannya menjadi jaringan akses seluler generasi berikutnya.

“Kalau suatu hari kita memutuskan 6G ada di 7 GHz, berarti kita harus memilih, mau dipakai untuk backhaul sebagai microwave link atau dipakai untuk akses 6G. Kita tidak bisa mengambil dua-duanya,” ucap Adis.

Empat Kandidat Spektrum 6G

Seluruh kandidat spektrum yang dibahas dalam agenda World Radiocommunication Conference (WRC) 2027 sudah memiliki pengguna. Empat pita frekuensi yang masuk dalam pembahasan internasional meliputi 4 GHz, upper 6 GHz, 7 GHz, dan 15 GHz. Tidak ada satu pun yang benar-benar kosong sehingga setiap opsi memiliki konsekuensi.

“Empat frekuensi ini semuanya sudah ada yang memakai. Ada yang dipakai microwave link, ada yang dipakai satelit, ada yang bertetangga dengan penerbangan. Jadi situasinya memang tidak mudah,” ucapnya.

Selain 7 GHz, pita 4 GHz dan 15 GHz menghadapi tantangan berbeda karena berdekatan dengan layanan penerbangan. Pengaturan harus dilakukan hati-hati untuk menghindari potensi interferensi.

Khusus pita 15 GHz, implementasi 6G berpotensi membutuhkan jaringan small cell dalam jumlah besar. Konsekuensinya, operator harus membangun lebih banyak base transceiver station (BTS) yang berarti investasi jauh lebih tinggi.

“Kalau bicara 15 GHz, pasti kita bicara small cell. Artinya investasinya harus lebih besar karena BTS akan lebih banyak. Saya yakin ini juga menjadi pertimbangan dari sisi industri,” kata Adis.

Nasib Pita Upper 6 GHz

Untuk pita upper 6 GHz, Komdigi belum menentukan arah kebijakan. Berdasarkan data dari Policy Tracker 2026 dan GSMA, sekitar 12 negara telah menetapkan spektrum tersebut untuk Wi-Fi. Sementara itu, beberapa negara memilih mengalokasikannya untuk layanan seluler atau International Mobile Telecommunications (IMT) yang menjadi fondasi 5G dan 6G.

“Kami dari Komdigi belum memutuskan upper 6 GHz ini akan digunakan untuk apa. Justru kami berharap ada masukan dan pertimbangan, terutama dari sisi public value dan timing,” pungkas Adis.

Komdigi berharap masukan dari berbagai pihak, terutama dari sisi nilai publik dan waktu yang tepat, sebelum menentukan kebijakan spektrum untuk teknologi masa depan. Keputusan ini akan berdampak langsung pada peta penguasaan frekuensi operator dan investasi infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Implikasinya bagi industri telekomunikasi cukup signifikan. Operator yang saat ini mengandalkan pita 7 GHz untuk backhaul harus menyiapkan skenario jika frekuensi tersebut beralih fungsi. Sementara itu, pembangunan small cell untuk pita 15 GHz membutuhkan investasi besar yang bisa mempengaruhi struktur biaya layanan 6G di masa depan.

Bagi pengguna, keputusan ini akan menentukan kecepatan dan kualitas jaringan 6G yang akan dinikmati dalam beberapa tahun mendatang. Semakin tinggi frekuensi yang digunakan, semakin besar potensi kecepatan data, namun dengan konsekuensi jangkauan yang lebih terbatas dan kebutuhan infrastruktur yang lebih padat.

Komdigi sebelumnya juga telah menyiapkan frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz untuk internet kencang, serta tiga operator yang lolos lelang frekuensi tersebut. Pengalaman dalam mengelola spektrum di masa lalu menjadi pelajaran berharga dalam menentukan kebijakan 6G ke depan.