China Rebut Pencapaian Roket Reusable, Tantang Dominasi SpaceX

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Sebuah tangkapan layar roket Long March 10B China berhasil mendarat di platform pemulihan lepas pantai
  • China berhasil mendaratkan roket reusable Long March 10B untuk pertama kalinya menggunakan sistem jaring di platform lepas pantai
  • CALT (China Academy of Launch Vehicle Technology) mengembangkan roket dengan kapasitas muatan 16 ton ke LEO
  • China menjadi negara kedua setelah AS yang berhasil mendaratkan roket reusable
  • SpaceX masih unggul dengan 165 peluncuran orbital pada 2025, hampir dua kali lipat program antariksa China
  • Roket ini direncanakan untuk meluncurkan satelit internet broadband mirip Starlink
  • Persaingan teknologi roket reusable semakin ketat antara AS dan China

JBNews.id — China berhasil mendaratkan roket reusable untuk pertama kalinya, menandai tonggak sejarah yang secara langsung menantang dominasi SpaceX milik Elon Musk di industri antariksa global. Pencapaian ini dilakukan oleh Long March 10B, yang berhasil mendarat di platform lepas pantai menggunakan sistem jaring raksasa.

Roket tersebut dikembangkan oleh China Academy of Launch Vehicle Technology (CALT), anak perusahaan dari kontraktor program antariksa milik negara China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC). Momen bersejarah ini disiarkan langsung oleh stasiun televisi milik negara, CCTV, yang memperlihatkan para insinyur bersorak saat roket melambat dan mendarat dengan percaya diri di atas platform pemulihan.

Dengan kemampuan membawa muatan hingga 16 ton ke orbit rendah Bumi (LEO), Long March 10B tidak jauh tertinggal dari Falcon 9 milik SpaceX yang mampu membawa 22 ton. Namun, yang membedakan adalah metode pendaratannya. Alih-alih menggunakan kaki pendarat yang dapat dilipat seperti Falcon 9, CALT menggunakan sistem “kait pendarat” yang menyambar roket dari udara saat turun. Pendekatan ini merupakan solusi inovatif untuk mengatasi tantangan pendaratan presisi yang sebelumnya sering gagal.

China kini menjadi negara kedua setelah Amerika Serikat yang berhasil mendaratkan roket reusable dalam penerbangan orbital. Pencapaian ini disebut sebagai “terobosan bersejarah” yang dapat mengubah peta persaingan industri antariksa global. Keberhasilan ini juga menunjukkan bahwa China serius mengejar ketertinggalannya dari SpaceX, yang pertama kali berhasil mendaratkan Falcon 9 pada Desember 2015.

Sementara itu, perusahaan swasta China lainnya, LandSpace, mencoba pendekatan yang lebih mirip SpaceX dengan sistem kaki pendarat. Pada Desember lalu, perusahaan berhasil meluncurkan roket Zhuque-3 ke orbit, namun gagal saat mencoba mendarat dan meledak dalam bola api. Insiden ini menunjukkan bahwa meskipun China telah membuat kemajuan signifikan, teknologi pendaratan roket masih memerlukan pengembangan lebih lanjut.

Implikasi untuk Industri Antariksa Global

CALT merencanakan Long March 10B sebagai platform baru untuk meluncurkan satelit internet broadband mirip Starlink serta satelit komersial lainnya. Dengan menggunakan kembali tahap pertama roket, perusahaan berharap dapat secara dramatis mengurangi biaya peluncuran, persis seperti yang dilakukan SpaceX. Langkah ini sejalan dengan ambisi China untuk membangun konstelasi satelit internet sendiri, yang akan bersaing langsung dengan Starlink milik SpaceX.

Meskipun pencapaian ini signifikan, China masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk menyaingi irama peluncuran SpaceX yang tak tertandingi. Pada tahun 2025, SpaceX hampir meluncurkan roket setiap dua hari sekali, menyelesaikan 165 penerbangan orbital yang mencengangkan — hampir dua kali lipat dari seluruh program antariksa China. Angka ini menunjukkan betapa dominannya SpaceX dalam hal frekuensi dan kapasitas peluncuran.

Keberhasilan China dalam mendaratkan roket reusable juga menjadi sorotan di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat antara AS dan China. Sebuah laporan baru menemukan bahwa program antariksa China dengan cepat melampaui NASA dalam beberapa aspek, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat dan pengamat industri antariksa Amerika.

Persaingan yang Semakin Ketat

Jeff Bezos’ Blue Origin menjadi perusahaan kedua yang berhasil mendaratkan roket reusable setelah SpaceX, dengan New Glenn-nya mendarat dengan mulus pada November lalu, hampir satu dekade setelah pencapaian pertama SpaceX. Kehadiran China sebagai pemain ketiga dalam klub eksklusif ini menunjukkan bahwa teknologi roket reusable tidak lagi menjadi monopoli perusahaan Amerika.

Namun, para analis mencatat bahwa China masih perlu mengatasi beberapa tantangan signifikan. Selain masalah frekuensi peluncuran, China juga perlu membuktikan keandalan sistem pendaratan jaring mereka dalam berbagai kondisi cuaca dan misi. Sistem kaki pendarat Falcon 9 telah terbukti andal dalam ratusan misi, sementara sistem jaring CALT masih dalam tahap awal pengembangan.

Dari sisi kapasitas, Long March 10B yang mampu membawa 16 ton ke LEO masih kalah dari Falcon 9 yang mampu membawa 22 ton. Namun, selisih ini tidak terlalu besar dan dapat dijembatani dengan pengembangan lebih lanjut. Yang lebih penting, China telah menunjukkan bahwa mereka memiliki teknologi dan kemauan politik untuk bersaing di level tertinggi industri antariksa.

Keberhasilan ini juga memiliki implikasi geopolitik yang luas. Dengan kemampuan meluncurkan satelit secara lebih murah dan efisien, China dapat mempercepat pembangunan infrastruktur antariksa nasionalnya, termasuk sistem navigasi BeiDou, stasiun luar angkasa Tiangong, dan konstelasi satelit internet. Hal ini akan memperkuat posisi China sebagai kekuatan antariksa utama dunia.

Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang kerja sama baru di bidang antariksa. Dengan biaya peluncuran yang semakin turun berkat teknologi reusable, negara-negara berkembang seperti Indonesia dapat lebih mudah mengakses layanan peluncuran satelit untuk keperluan telekomunikasi, observasi bumi, dan penelitian ilmiah.

Persaingan antara SpaceX dan China diprediksi akan semakin intensif dalam beberapa tahun ke depan. Kedua pihak terus berinvestasi besar-besaran dalam penelitian dan pengembangan teknologi roket reusable. SpaceX dengan pengalaman dan infrastrukturnya yang matang, melawan China dengan sumber daya negara yang melimpah dan ambisi yang tak kenal lelah.

Yang jelas, era baru industri antariksa telah dimulai. Teknologi roket reusable yang dulunya dianggap mustahil kini menjadi standar baru. Dan dengan masuknya China sebagai pemain utama, persaingan di luar angkasa dipastikan akan semakin sengit — dengan implikasi yang luas bagi ekonomi, teknologi, dan geopolitik global.