Intel Hidupkan Kembali Hyper-Threading di Prosesor 2028

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi prosesor Intel Xeon 6 untuk data center
  • Intel konfirmasi hidupkan kembali teknologi hyper-threading (SMT) di prosesor data center
  • Teknologi hadir bersama keluarga prosesor Xeon 8 "Coral Rapids" pada tahun 2028
  • CEO Intel Lip-Bu Tan umumkan strategi rebut pangsa pasar CPU
  • Intel fokus pada peningkatan performa single-threaded
  • Belum ada konfirmasi untuk lini prosesor konsumen/PC
  • Hyper-threading sempat dihapus sejak arsitektur Arrow Lake-S 2024
  • Xeon 6 Granite Rapids masih gunakan hyper-threading, Clearwater Forest dan Diamond Rapids tanpa SMT
  • Teknologi pertama kali diperkenalkan era 2000-an melalui Xeon dan Pentium 4

JBNews.id — Intel memastikan akan menghidupkan kembali teknologi simultaneous multi-threading (SMT) atau hyper-threading ke lini prosesor data center mereka. Teknologi ini dijadwalkan hadir bersamaan dengan perilisan keluarga prosesor Xeon 8 “Coral Rapids” pada tahun 2028.

Keputusan ini diumumkan oleh CEO Intel, Lip-Bu Tan, dalam laporan pendapatan kuartal kedua tahun 2026 pada Kamis lalu. Tan menyampaikan kepada para investor dan analis bahwa Intel tengah meracik sejumlah strategi untuk merebut kembali pangsa pasar CPU di segmen ritel maupun korporat. Salah satu langkah utamanya adalah membawa kembali hyper-threading melalui Coral Rapids di tahun 2028.

Meski demikian, pihak Intel belum mengonfirmasi apakah teknologi serupa juga akan dikembalikan untuk lini prosesor klien atau PC konsumennya. Fokus utama perusahaan saat ini adalah sektor data center yang menjadi tulang punggung bisnis komputasi perusahaan.

Tan juga menambahkan bahwa Intel akan berfokus pada peningkatan performa single-threaded demi memulihkan daya saing di berbagai segmen pasar utama. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk menghadapi persaingan ketat di industri semikonduktor.

Konfirmasi kembalinya hyper-threading ini disampaikan Tan saat menjawab pertanyaan dari analis Morgan Stanley, Joe Moore, mengenai rencana konkret perusahaan untuk mengambil alih pangsa pasar yang direbut oleh AMD dan Arm dalam lima tahun ke depan. Tan tidak menanggapi persaingan dengan AMD secara langsung dan justru meredam sentimen rivalitas dengan Arm.

Ia menyebut perusahaan desain chip asal Inggris tersebut sebagai “mitra yang hebat” bagi Intel, seraya menegaskan bahwa kedua belah pihak memiliki hubungan kerja sama yang kuat. Pernyataan ini menunjukkan pendekatan diplomatis Intel di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Sejarah Hyper-Threading Intel

Setelah memproduksi prosesor dengan hyper-threading selama lebih dari dua dekade, Intel sempat memutuskan untuk meninggalkan teknologi ini saat meluncurkan arsitektur Arrow Lake-S pada tahun 2024. Namun, upaya pengurangan ini sebenarnya sudah dimulai sejak generasi Alder Lake pada tahun 2021.

Sebagai lini prosesor desktop pertama Intel yang mengusung arsitektur hybrid core, Alder Lake hanya menyematkan hyper-threading pada performance cores (P-cores), sementara efficiency cores (E-cores) hanya menjalankan satu thread perangkat keras per inti.

Di sektor data center, implementasi teknologi ini pada generasi yang berdekatan juga cukup bervariasi. Untuk diketahui, Intel juga tengah menyiapkan Chip 18A untuk aplikasi luar angkasa yang mengotaki AI satelit.

Berikut rincian implementasi hyper-threading di berbagai generasi prosesor data center Intel:

  • Xeon 6 Granite Rapids: Masih mempertahankan P-cores dengan dukungan hyper-threading, menawarkan hingga 128 core fisik dan 256 thread.
  • Xeon 6+ Clearwater Forest: Menanggalkan hyper-threading secara menyeluruh. Prosesor ini murni mengandalkan hingga 288 E-cores single-threaded yang dibangun menggunakan proses fabrikasi Intel 18A.
  • Xeon 7 Diamond Rapids: Lini yang akan datang ini diproyeksikan menawarkan hingga 192 P-cores, juga tanpa dukungan simultaneous multi-threading.

Teknologi hyper-threading yang merupakan implementasi eksklusif Intel untuk SMT, pertama kali diperkenalkan pada awal era 2000-an melalui prosesor single-core Xeon dan Pentium 4. Fitur ini dirancang untuk mendongkrak kinerja komputasi pada beban kerja multi-threaded.

Namun, seiring dengan terus bertambahnya jumlah core fisik secara stabil pada CPU x86, Intel sempat membuang hyper-threading karena meyakini bahwa fitur tersebut merupakan peninggalan masa lalu yang tak lagi sekrusial dua puluh tahun silam.

Dampak Kembalinya Hyper-Threading

Keputusan Intel menghidupkan kembali hyper-threading menunjukkan perubahan strategi signifikan perusahaan. Setelah bertahun-tahun meyakini bahwa peningkatan jumlah core fisik sudah cukup, Intel kini mengakui bahwa teknologi SMT masih relevan untuk beban kerja komputasi modern.

Bagi pelanggan data center, kembalinya hyper-threading berarti peningkatan kapasitas pemrosesan tanpa harus menambah jumlah core fisik secara drastis. Ini menjadi kabar baik bagi perusahaan yang mengelola infrastruktur komputasi skala besar dengan kebutuhan multitasking tinggi.

Di sisi lain, keputusan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai strategi Intel ke depan. Jika hyper-threading kembali untuk lini data center, apakah teknologi serupa juga akan dihadirkan untuk prosesor konsumen? Hingga saat ini, Intel belum memberikan jawaban pasti.

Dalam konteks persaingan industri, langkah ini juga menunjukkan bahwa Intel tidak tinggal diam menghadapi tekanan dari kompetitor. Perusahaan terus melakukan inovasi untuk mempertahankan posisinya di pasar semikonduktor global.

Sebelumnya, Intel juga sempat menaikkan Harga Core Ultra 200S Plus secara diam-diam, menambah dinamika di lini produk konsumen mereka.

Keputusan untuk menghidupkan kembali hyper-threading di prosesor data center Coral Rapids 2028 menjadi sinyal bahwa Intel masih percaya pada teknologi SMT sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi komputasi. Ini sekaligus membantah asumsi sebelumnya bahwa teknologi tersebut sudah usang.

Dengan jadwal peluncuran yang masih dua tahun lagi, Intel memiliki waktu untuk menyempurnakan implementasi teknologi ini. Para pengamat industri akan terus memantau perkembangan selanjutnya, termasuk kemungkinan kembalinya hyper-threading ke lini prosesor konsumen.

Bagi industri data center di Indonesia, keputusan ini bisa menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan infrastruktur TI jangka panjang. Teknologi hyper-threading yang kembali hadir dapat memberikan opsi lebih fleksibel dalam mengoptimalkan kinerja server.

Intel juga diketahui tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat posisinya di pasar. AMD dan Intel bahkan disebut-sebut bersatu menggarap platform ACE untuk menantang dominasi Nvidia di segmen AI.

Dengan berbagai strategi yang dijalankan, Intel tampaknya serius untuk kembali menjadi pemimpin di industri prosesor. Kembalinya hyper-threading menjadi salah satu bukti komitmen perusahaan dalam menghadirkan inovasi bagi pelanggannya.