JBNews.id — Kekhawatiran publik bahwa smartphone merusak otak anak belum didukung bukti ilmiah yang kuat. Para ilmuwan Inggris justru menyatakan bahwa penelitian yang membuktikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan perangkat digital dan perkembangan otak masih sangat terbatas. Fakta ini mengemuka dalam sidang Komite Sains, Inovasi, dan Teknologi Parlemen Inggris yang tengah menyelidiki dampak perangkat digital terhadap anak-anak dan remaja.
Profesor Denis Mareschal, Direktur Centre for Brain and Cognitive Development di Birkbeck, University of London, menjelaskan bahwa sebagian besar penelitian yang ada saat ini hanya menunjukkan hubungan atau korelasi. Artinya, penelitian dapat menemukan bahwa anak yang sering menggunakan perangkat digital memiliki karakteristik tertentu, tetapi belum bisa memastikan bahwa perangkat digital itulah penyebabnya.
“Penelitian yang benar-benar dapat membuktikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan perangkat digital dan perkembangan otak anak masih sangat terbatas,” ujar Mareschal dalam sidang tersebut.
Pendapat serupa disampaikan Profesor Sarah-Jayne Blakemore dari University of Cambridge. Ia menilai bukti mengenai dampak smartphone atau media sosial terhadap otak remaja masih sangat sedikit. Sebagian besar studi yang ada berukuran kecil dan belum berhasil direplikasi secara luas.
Meski demikian, para ilmuwan tidak serta-merta menepis seluruh kekhawatiran yang berkembang di masyarakat. Blakemore menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan otak. Pada fase ini, sistem penghargaan atau reward system bekerja sangat aktif, sementara area otak yang berfungsi mengendalikan impuls dan pengambilan keputusan, yakni prefrontal cortex, masih terus berkembang.
Kondisi tersebut membuat remaja lebih rentan terdorong untuk terus mencari stimulasi yang menyenangkan, termasuk dari media sosial dan berbagai aplikasi digital. “Bahkan orang dewasa sering kesulitan meletakkan ponsel ketika terus menemukan konten menarik. Bagi anak-anak dan remaja, tantangannya bisa lebih besar karena kemampuan pengendalian dirinya masih berkembang,” jelas Blakemore dikutip dari The Register.
Displacement: Masalah yang Lebih Nyata
Dr Dusana Dorjee dari University of York menyoroti persoalan lain yang dianggap lebih penting, yakni displacement atau tergesernya aktivitas penting akibat penggunaan layar yang berlebihan. Menurut Dorjee, anak-anak belajar banyak keterampilan penting melalui interaksi langsung dengan orang lain, bermain, berolahraga, berbicara dengan keluarga, hingga mengeksplorasi lingkungan sekitar.
Jika terlalu banyak waktu dihabiskan di depan layar, aktivitas-aktivitas tersebut berpotensi berkurang secara signifikan. “Pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang dilakukan anak saat menggunakan perangkat digital, tetapi apa yang tidak mereka lakukan karena menggunakan perangkat tersebut,” ujar Dorjee.
Para ahli juga menekankan bahwa tidak semua penggunaan layar memiliki dampak yang sama. Video call dengan keluarga, aplikasi edukasi, atau aktivitas belajar daring tidak bisa disamakan dengan kebiasaan scrolling tanpa henti yang didorong algoritma media sosial. Karena itu, mereka menolak pendekatan yang menyamaratakan seluruh bentuk penggunaan smartphone sebagai sesuatu yang berbahaya.

Baca Juga:
Debat Kebijakan di Inggris
Perdebatan mengenai smartphone dan anak memang sedang memanas di Inggris. Pemerintah bahkan membuka konsultasi nasional terkait penggunaan media sosial dan smartphone pada anak-anak. Namun pemerintah mengakui bahwa bukti ilmiah mengenai dampak screen time terhadap kesehatan mental dan perkembangan anak masih beragam dan terus berkembang.
Sejumlah peneliti juga mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru mengambil kebijakan ekstrem seperti larangan total penggunaan smartphone. Akademisi dari University of Cambridge, Amy Orben, sebelumnya menyebut bukti ilmiah yang ada belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa smartphone secara inheren berbahaya bagi semua anak.
Fenomena penurunan angka kelahiran global juga sempat dikaitkan dengan penggunaan smartphone, meski hubungan kausalnya masih diperdebatkan. Sementara itu, data dari industri menunjukkan bahwa penjualan smartphone terus tumbuh, termasuk di Indonesia yang menjadi salah satu pasar terbesar.
Implikasi bagi Orang Tua
Kesimpulan para ilmuwan dalam sidang tersebut cukup jelas: hingga saat ini belum ada bukti kausal yang kuat bahwa smartphone secara langsung merusak otak anak. Namun, penggunaan yang berlebihan tetap perlu diawasi karena dapat mengurangi waktu anak untuk berinteraksi, bermain, berolahraga, dan melakukan aktivitas penting lain yang mendukung tumbuh kembang mereka.
Bagi orang tua, temuan ini memberikan perspektif yang lebih seimbang. Alih-alih melarang smartphone sepenuhnya, pendekatan yang lebih bijak adalah mengawasi durasi dan kualitas penggunaan, serta memastikan anak tetap memiliki waktu yang cukup untuk aktivitas di dunia nyata.
Para ahli menyarankan agar orang tua lebih fokus pada apa yang tidak dilakukan anak saat menggunakan perangkat digital, bukan sekadar berapa lama mereka menggunakannya. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dan efektif dalam mendukung tumbuh kembang anak di era digital.




