Ilmuwan Ciptakan Sel Buatan yang Bisa Makan dan Bereplikasi

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi sel sintetis SpudCell buatan ilmuwan yang bisa makan dan bereplikasi
  • Ilmuwan berhasil membangun sel buatan SpudCell dari komponen kimia tak hidup
  • Sel sintetis ini bisa makan, tumbuh, dan bereplikasi selama 5 generasi
  • SpudCell terdiri dari 150-200 molekul, jauh lebih sederhana dari sel alami
  • Setiap generasi butuh 12 jam untuk bereplikasi pada suhu 30°C
  • Belum disebut sebagai 'kehidupan' karena keterbatasan fungsinya
  • Teknologi ini bersifat open source untuk akademisi dan nirlaba
  • Berpotensi membantu mitigasi masalah biologis di masa depan

JBNews.id — Untuk pertama kalinya, tim ilmuwan berhasil membangun sel buatan dari awal yang mampu makan, tumbuh, dan bereplikasi layaknya organisme hidup. Terobosan ini membuka jalan baru bagi pemahaman fundamental tentang asal-usul kehidupan sekaligus potensi rekayasa biologis di masa depan.

Kate Adamala, ahli biologi sintetis dan profesor di University of Minnesota, memimpin tim yang merakit sel tersebut bagian demi bagian dari komponen kimia tak hidup. Ciptaan yang dinamai SpudCell ini merupakan prototipe rapuh, namun para peneliti meyakininya sebagai langkah besar dalam biologi sintetis.

Sel buatan ini bersifat nonspesifik — bukan tumbuhan maupun hewan — namun paling mirip dengan bakteri sederhana. “Saya tahu daftar lengkap bahan pembentuk sel tersebut, saya tahu persis bahan kimia apa, molekul apa, dan pada konsentrasi berapa. Sel ini terdefinisi sepenuhnya, yang berarti kita bisa merekayasanya,” kata Adamala dikutip dari laporan ilmiah terkini.

SpudCell terdiri dari 150 hingga 200 molekul. Ia mampu makan, tumbuh, dan bereplikasi selama sekitar lima generasi. Meski demikian, sel ini jauh lebih sederhana dibandingkan sel biologis alami yang menampung jutaan, atau bahkan miliaran molekul. Saat ini SpudCell masih merupakan organisme sangat lemah yang pada dasarnya tidak melakukan apa pun selain makan dan sesekali membuat sel anak.

Setiap generasi SpudCell butuh makanan dan memakan waktu sekitar 12 jam untuk bereplikasi pada suhu 30 derajat Celcius. Sebagai perbandingan, bakteri E. coli membelah diri setiap 30 menit. Keterbatasan ini menunjukkan bahwa teknologi sel sintetis masih dalam tahap awal pengembangan.

Terobosan atau Sekadar Prototipe?

Tom Ellis, profesor rekayasa genom sintetis dari Imperial College London, menyebut pencapaian ini mungkin sebagai terobosan terbesar di bidang sel buatan. “Membuat sel sintetis membantu kita memahami persyaratan minimum yang tepat untuk sebuah kehidupan dan bagaimana kehidupan mungkin muncul dari proses kimia,” cetusnya.

Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa SpudCell bisa disebut sebagai ‘kehidupan’. Endy, profesor bioteknologi di Stanford University, memberikan perspektif yang lebih hati-hati. “Kita tidak sepenuhnya memahami kehidupan. Kita tak punya kemampuan mahakuasa memanipulasi materi untuk membuat sesuatu. Saya akan mengatakan Kate telah membangun sebuah sel. Saya tidak berpikir ia menciptakan kehidupan,” ujarnya.

Perdebatan ini mencerminkan kompleksitas definisi kehidupan itu sendiri. Tubuh manusia memiliki 37 triliun sel — lebih banyak dari jumlah bintang di galaksi — dan ilmuwan masih belum tahu bagaimana setiap jenis sel yang berbeda bekerja atau apa yang terkandung di dalamnya.

Yuval Elani dari Imperial College London menambahkan perspektif lain. “Membuat sel dari awal berarti tak terikat pada kendala dan beban evolusi biologi alami. Ini membuka kemungkinan merancang sistem dan memprogramnya agar melakukan hal-hal yang mungkin tidak mudah dilakukan sel hidup, atau bahkan tidak dapat dilakukannya sama sekali,” katanya.

Implikasi Keamanan dan Masa Depan Open Source

Dalam bentuknya saat ini, SpudCell tidak menimbulkan risiko keamanan dan tidak dapat digunakan untuk senjata biologis. Namun, Endy mengingatkan tentang potensi jangka panjang. “Apa ini menjanjikan masa depan di mana lebih banyak orang akan dapat membangun sel? Ya. Apa ada potensi masalah keselamatan dan keamanan di sekitar hal tersebut? Ya. Apakah kita harus mengelolanya dengan baik? Ya,” ujarnya.

Salah satu aspek paling menarik dari proyek ini adalah komitmen terhadap keterbukaan. SpudCell diharapkan menjadi standar global biologi sel sintetis, bertindak layaknya sistem operasi open source. Tujuannya adalah menjaga teknologi inti SpudCell tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin mengerjakannya.

Akademisi atau organisasi nirlaba akan dapat menggunakannya secara gratis, sementara ada biaya untuk penggunaan komersial. Model ini mirip dengan pendekatan yang digunakan dalam pengembangan kecerdasan buatan dan teknologi lainnya yang membutuhkan kolaborasi global.

Para ilmuwan berharap bahwa SpudCell pada akhirnya dapat diprogram untuk membantu memitigasi beberapa masalah biologis terbesar yang dihadapi umat manusia, mulai dari produksi obat-obatan hingga pembersihan polusi lingkungan.

Meski masih jauh dari aplikasi praktis, langkah awal ini menunjukkan bahwa batas antara kimia dan kehidupan semakin tipis. Dengan kemampuan untuk merekayasa sel dari awal, para peneliti kini memiliki alat yang belum pernah ada sebelumnya untuk mengeksplorasi pertanyaan fundamental tentang apa itu kehidupan dan bagaimana kita dapat memanfaatkannya untuk kepentingan manusia.

Seperti halnya terobosan ilmiah besar lainnya — termasuk pengembangan teknologi buatan di berbagai bidang — SpudCell membuka pintu menuju kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya hanya ada dalam fiksi ilmiah.