JBNews.id — Gerhana Matahari Total diprediksi terjadi pada 12 Agustus 2026 dan menjadi salah satu peristiwa langit paling spektakuler tahun ini. Namun, Indonesia tidak termasuk wilayah yang dapat menyaksikan fenomena tersebut, baik gerhana total maupun gerhana sebagian.
Berdasarkan data Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), gerhana matahari total terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari sehingga menutupi seluruh piringan Matahari. Akibatnya, langit berubah gelap selama beberapa menit dan korona atau atmosfer luar Matahari dapat terlihat dengan mata telanjang dari wilayah yang berada di jalur totalitas.
Sayangnya, masyarakat Indonesia hanya dapat mengikuti fenomena tersebut melalui siaran langsung dari lembaga antariksa atau observatorium internasional yang akan menayangkan proses gerhana secara daring.
Jalur Totalitas dan Wilayah Terdampak
NASA mencatat jalur gerhana total akan melintasi Samudra Arktik, Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, Spanyol, Rusia, dan sebagian kecil wilayah Portugal. Sementara itu, gerhana sebagian dapat disaksikan dari sebagian besar Eropa, Afrika Utara, Kanada, Amerika Serikat bagian utara, serta sejumlah wilayah di Samudra Atlantik dan Arktik.
Berdasarkan perhitungan NASA, gerhana dimulai pada 15.35 UTC, mencapai puncaknya sekitar 17.47 UTC, dan berakhir pada 19.59 UTC. Waktu pengamatan di setiap negara akan berbeda bergantung pada lokasi masing-masing.
Bagi wisatawan maupun pemburu fenomena astronomi, Spanyol diperkirakan menjadi salah satu lokasi terbaik untuk menyaksikan gerhana total. Jalur totalitas akan melintasi wilayah Galicia, Asturias, Castile and León, Aragon hingga Kepulauan Balearic.
“Spanyol tengah bersiap menghadapi gerhana matahari total langka pada 12 Agustus 2026. Peristiwa ini diperkirakan menarik sekitar 17 juta pengunjung, termasuk lima juta wisatawan internasional,” ujar laporan pemerintah Spanyol dikutip dari Le Monde.
Selain Spanyol, Islandia juga menjadi destinasi favorit karena berada tepat di jalur totalitas. Badan Antariksa Eropa atau European Space Agency (ESA) menyebut gerhana akan terlihat dari Greenland, Islandia, Spanyol, serta sebagian kecil Portugal, sementara wilayah Eropa lainnya hanya akan menyaksikan gerhana sebagian.
Baca Juga:
Momen Penting bagi Ilmuwan
Fenomena ini juga menjadi momen penting bagi kalangan ilmuwan. NASA akan menerbangkan pesawat penelitian WB-57 di ketinggian sekitar 15 kilometer untuk mengikuti bayangan Bulan dan mengamati korona Matahari lebih lama dibanding pengamatan dari daratan. Selain itu, puluhan balon penelitian akan diterbangkan untuk mempelajari perubahan atmosfer Bumi ketika cahaya Matahari tiba-tiba menghilang.
Penelitian semacam ini menjadi bagian dari upaya memahami aktivitas Matahari yang berdampak langsung pada Bumi. Sebelumnya, para ilmuwan juga telah memperingatkan potensi bahaya dari aktivitas Matahari yang ekstrem, sebagaimana diulas dalam artikel tentang badai matahari ekstrem yang lebih berbahaya dari perkiraan sebelumnya.
Meski demikian, masyarakat diingatkan untuk tidak melihat Matahari secara langsung selama gerhana berlangsung tanpa pelindung khusus. NASA menegaskan pengamatan hanya aman menggunakan kacamata gerhana berstandar internasional (ISO 12312-2) atau metode pengamatan tidak langsung, kecuali saat fase totalitas bagi pengamat yang berada tepat di jalur gerhana total.
Bagi penggemar astronomi di Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pengingat untuk terus memantau peristiwa langit lainnya. Tahun depan, diprediksi akan terjadi gerhana matahari terlama abad ini pada 2 Agustus 2027, yang mungkin menjadi kesempatan berikutnya bagi para pengamat di berbagai belahan dunia.
Minat terhadap fenomena Matahari juga terus berkembang di berbagai negara, termasuk upaya eksplorasi teknologi yang berkaitan dengan energi Matahari. China, misalnya, tengah mengembangkan matahari buatan yang ditargetkan beroperasi pada 2030, sebuah proyek ambisius yang meniru reaksi fusi seperti yang terjadi di Matahari.
Bagi masyarakat Indonesia yang ingin menyaksikan Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026, opsi terbaik adalah mengikuti siaran langsung dari lembaga antariksa internasional. Meski tidak dapat melihat secara langsung, fenomena ini tetap menjadi momen bersejarah yang patut disaksikan.

Fenomena gerhana matahari total selalu menarik perhatian global karena keindahan dan kelangkaannya. Bagi yang berkesempatan berada di jalur totalitas, pengalaman melihat korona Matahari dengan mata telanjang menjadi momen yang tak terlupakan. Sementara bagi yang tidak berada di jalur tersebut, siaran langsung dari berbagai lembaga antariksa menjadi alternatif terbaik.




