Roket SpaceX Falcon 9 Tabrak Bulan 5 Agustus 2026, Ini Dampaknya

Penulis:Hamzah Nurhamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
Ilustrasi roket SpaceX Falcon 9 mendekati permukaan Bulan sebelum tabrakan
  • Roket bekas SpaceX Falcon 9 diperkirakan menabrak Bulan pada 5 Agustus 2026 pukul 06.34 UTC
  • Tabrakan terjadi di sisi barat Bulan yang tersinari matahari, dekat Kawah Einstein, dengan kecepatan 5.400 mph
  • Simulasi fisika dari UT Austin memprediksi gumpalan debu selebar 183 km dan perpindahan 12.700 kg material
  • Ini adalah pertama kalinya dampak tabrakan tercatat di sisi Bulan yang tersinari matahari
  • Peluang pengamatan terbaik ada di wilayah Tenggara AS, dengan gumpalan mencapai puncak 90 detik setelah tumbukan
  • Data dari tabrakan akan membantu penelitian tentang kontrol debu untuk misi berawak masa depan
  • Peristiwa ini relevan dengan meningkatnya aktivitas eksplorasi Bulan oleh NASA dan China

**JBNews.id —** Sebuah roket bekas SpaceX Falcon 9 diperkirakan akan menabrak Bulan pada Rabu, 5 Agustus 2026, pukul 06.34 UTC. Tabrakan terjadi di sisi barat Bulan yang tersinari matahari, dekat Kawah Einstein, dengan kecepatan lebih dari 5.400 mph, dan berpotensi menciptakan gumpalan debu yang terlihat dari Bumi.

Fenomena ini menjadi sorotan karena merupakan pertama kalinya dampak tabrakan tercatat di sisi Bulan yang tersinari matahari. Jika prediksi ini akurat, gumpalan debu yang dihasilkan bisa terlihat dengan teleskop yang memadai, menciptakan momen bersejarah bagi para astronom amatir dan profesional.

Simulasi Fisika Prediksi Dampak Tabrakan

Prediksi ini didasarkan pada dua studi pracetak (preprint) terbaru. Studi utama dipimpin oleh William Jo, kandidat doktoral di Cockrell School of Engineering, University of Texas at Austin, yang diposting ke arXiv pada 27 Juli. Jo menjalankan simulasi fisika resolusi tinggi untuk memodelkan dampak dari 3.900 kilogram logam berongga yang menghantam permukaan Bulan.

David Goldstein, profesor teknik aerospace di UT Austin yang mengawasi penelitian ini, menjelaskan bahwa roket Falcon 9 berbeda dari meteorit padat. “Ini seperti cangkang telur kosong, karena semua bahan bakarnya sudah habis, dan ada mesin roket di salah satu ujungnya yang lebih padat,” katanya. Alih-alih menembus seperti peluru meriam, cangkang roket akan runtuh dari tepinya ke dalam, melemparkan tirai tanah yang luas hingga selebar 183 kilometer serta semburan tipis yang lebih cepat hampir vertikal ke atas.

Secara total, tabrakan ini diperkirakan akan memindahkan sekitar 12.700 kilogram puing. Namun, Jo menggambarkan simulasi ini sebagai model “kasus terbaik”. Kode simulasi bersifat dua dimensi dan axisymmetric, sehingga hanya bisa mensimulasikan roket yang jatuh lurus ke bawah dengan mesin di depan. Pada kenyataannya, roket tahap atas Falcon 9 yang membawa dua pendarat ke Bulan pada Januari 2025 ini kemungkinan besar akan tiba dengan sudut miring, yang bisa menghasilkan gumpalan yang lebih kecil dan redup.

Peluang Pengamatan dari Bumi

Pertanyaan apakah gumpalan debu ini benar-benar terlihat dari Bumi masih menjadi perdebatan. Laurence Trafton, astronom di UT Austin, mengatakan hal itu mungkin terjadi, tetapi sulit dipastikan hingga momen tumbukan tiba. Ukuran bukanlah masalah: gumpalan yang mencapai 50 kilometer melewati tepi Bulan akan membentang sekitar 28 arcseconds, atau sekitar seperenam puluh lebar Bulan di langit. “Ini dapat dengan mudah diresolusi oleh teleskop kecil,” tulis Trafton dalam emailnya.

Namun, kontras di langit malam bisa menjadi faktor penghambat. Gumpalan debu diperkirakan 30 hingga 300 kali lebih redup dibandingkan Bulan yang menyala di sampingnya. Cahaya Bulan yang tersebar akan membuat pengamatan semakin sulit. Menangkap momen ini membutuhkan “mount yang sangat stabil,” kata Trafton.

Waktu akan berpihak pada pengamat. Gumpalan debu diperkirakan mencapai puncaknya sekitar 90 detik setelah tumbukan, “cukup lama bagi pengamat untuk menyaksikannya,” ujar Trafton. Namun, geografi menjadi kendala. Bagi siapa pun di utara garis dari Massachusetts ke Texas, Bulan akan menggantung sangat rendah, sehingga mereka harus mengamati melalui atmosfer yang tiga kali lebih tebal dari biasanya. Ini bisa menghilangkan tanda-tanda gumpalan debu.

Peluang terbaik untuk melihat fenomena ini ada di wilayah Tenggara Amerika Serikat, menurut Trafton. Beberapa ilmuwan, termasuk Bill Gray dari Project Pluto yang pertama kali menandai dampak ini, telah menyusun rencana observasi yang mendesak para astronom profesional dan amatir untuk mencoba menangkap momen tersebut.

Motivasi Ilmiah di Balik Pengamatan

Selain daya tarik bagi pengamat langit untuk menyaksikan sejarah, para ilmuwan memiliki motivasi tambahan. Peneliti sebelumnya telah mencoba menggali informasi tentang Bulan dengan menabrakkan objek ke permukaannya. Pada 1999, NASA mengarahkan wahana Lunar Prospector ke sebuah kawah dengan harapan memunculkan tanda air, meski hasilnya negatif.

Misi NASA 2009 menabrakkan roket bekas ke wilayah kutub selatan yang serupa, dan kali ini para ilmuwan berhasil mendeteksi es air dalam gumpalan debu. Lebih baru lagi, pada 2022, roket tahap atas menabrak satelit besar Bumi. Awalnya dikira sebagai Falcon 9, tetapi kemudian terungkap bahwa itu hampir pasti booster China yang dibuang, menurut Gray dan lainnya.

Dampak yang tidak direncanakan ini memiliki tujuan pemantauan yang sama dengan dampak terencana di masa lalu: membaca Bulan dari kekacauan yang ditimbulkannya. Kekacauan ini akan membantu memberikan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi di era eksplorasi Bulan yang lebih aktif. NASA ingin mengembalikan astronot ke Bulan dalam beberapa tahun ke depan dan berencana membangun pangkalan. China juga berlomba menempatkan manusia di permukaan Bulan.

Setiap pendarat meninggalkan perangkat keras bekas di orbit yang berpotensi jatuh dengan keras. Tabrakan Falcon 9 adalah kesempatan untuk mengukur seberapa keras dan seberapa luas efeknya akan menyebar. “Kita akan segera menjajah Bulan,” kata Jo. “Partikel-partikel yang keluar akan bergerak dengan kecepatan mungkin 300 hingga 400 meter per detik… dan batuan Bulan juga sangat abrasif,” tambahnya, mencatat bahwa ini bisa membahayakan astronot.

Goldstein mengaitkannya dengan istilah Apollo. “Jika Anda melihat foto-foto lama Neil dan Buzz saat masuk kembali ke modul lunar, Anda bisa melihat mereka kotor—tertutup debu,” katanya. “Kontrol debu selama operasi lunar akan menjadi salah satu masalah terbesar yang dihadapi.”

Bagi pengamat di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan meningkatnya aktivitas eksplorasi luar angkasa. Meski peluang pengamatan dari wilayah Asia Tenggara belum terkonfirmasi, peristiwa ini menandai babak baru dalam pemahaman manusia tentang Bulan dan tantangan yang akan dihadapi dalam misi berawak di masa depan. Peristiwa ini juga menjadi sorotan bagi industri antariksa global, termasuk pergerakan saham SpaceX yang belakangan menjadi perhatian pasar.

Dengan meningkatnya frekuensi peluncuran roket dan misi ke Bulan, insiden seperti ini akan semakin sering terjadi. Para ilmuwan berharap data dari tabrakan ini dapat digunakan untuk merancang strategi mitigasi debu yang lebih baik bagi misi masa depan, sekaligus memberikan wawasan tentang struktur geologi Bulan yang belum banyak diketahui.